Ganas Jenderal Polisi Bongkar Temuan Biang Kerok Warga Antre Panjang Kisruh LPG Gas 3 Kg

Berikut Jenderal Polisi bongkar temuan biang kerok warga antre panjang kisruh LPG Gas 3 kg.

Tantiya Nimas Nuraini
Oleh Tantiya Nimas Nuraini - Reporter
Ganas Jenderal Polisi Bongkar Temuan Biang Kerok Warga Antre Panjang Kisruh LPG Gas 3 Kg
Kebijakan pembatasan penjualan gas elpiji 3 kg subsidi di Kabupaten Tangerang sejak Februari 2025 membuat warga kesulitan mendapatkannya, memicu antrean panjang dan keluhan. (© 2025 Antaranews)

Hingga kini, LPG gas 3 kg masih menjadi polemik hingga membuat warga mengantre panjang. Terbaru, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri mengecek penyebab antrean elpiji bersubsidi 3 kilogram. Khususnya di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dan Banten.

Dari pengecekan tersebut, Jenderal Polisi ini pun membongkar biang keroknya. Hal itu disampaikan langsung oleh Brigadir Jenderal Polisi Helfi Assegaf.

Lantas bagaimana Jenderal Polisi bongkar temuan biang kerok warga antre panjang kisruh LPG Gas 3 kg? Melansir dari berbagai sumber, Rabu (5/2), simak ulasan informasinya berikut ini.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Polisi Helfi Assegaf, mengungkapkan penyebab panjangnya antrean masyarakat yang ingin membeli gas LPG 3kg.

Helfi mengatakan Dittipideksus sudah melakukan pengecakan langsung di wilayah Jobodetabek, hasilnya terdapat masalah perubahan pendistribusian yang sebelumnya bisa melalui pengecer, saat ini langsung melalui agen.

"Memang kita temukan sejak ada Surat Ederan terkait masalah perubahan pendistribusian yang dulu masih ada pengecer-pengecer, saat ini langsung oleh agen-agen atau subpenyalur. Itu yang pertama," ungkap Helfi kepada wartawan di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (4/2).

"Sehingga yang tadinya bisa dipecah, satu pangkalan itu menjadi beberapa penyalur atau pengecer, saat ini fokus di satu tempat. Sehingga terjadi antrean di beberapa tempat. Kemudian ada persyaratan khusus untuk bisa mendapatkan LPG tersebut," sambungnya.

Lebih lanjut, Helfi mengungkapkan faktor kedua yang ditemukannya. Faktor kedua adalah adanya pengurangan pasokan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram, dari supplier ke agen atau ke pangkalan. Ia menyebut bahwa kini pasokan gas lpiji bersubsidi 3 kilogram menurun menjadi 130 unit per-hari. Di mana, biasanya dipasok sekitar 280 unit per-hari.

"Selain itu juga terjadi penurunan suplai ke agen atau pangkalan. Yang tadinya per hari itu 280 kaleng gas LPG 3 kg, saat ini hanya 130 per hari. Ini hasil pengecekan kita ya, belum ke wilayah lain," tambah Helfi.

Terkait hal ini, Helfi menyampaikan telah mengintruksikan ke Satgasda untuk segera turun mengecek dan mengawasi stok dan distribusi gas elpiji bersubsidi 3 kilogram.

"Apakah sama dengan yang kita lakukan ini hasilnya, nanti akan dikumpulkan di laporan kami dan kami akan laporan kepada pimpinan," ujar Helfi.

Jenderal Bintang 1 Polri ini juga menyebut bahwa penurunan jumlah barang terjadi di beberapa wilayah yang berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

"Ada di beberapa tempat di Jabodetabek yang kita lakukan pengecekan. 280 kaleng jadi 130 kaleng per hari, itu yang kami datangi. Kalau yang lain nanti diinformasikan lebih lanjut oleh Satgasda," kata Helfi.

Meski ada pengurangan barang, Helfi menegaskan bahwa tidak ada indikasi penimbunan dilakukan.

"Tidak (ada indikasi penimbunan) memang ada kekurangan penurunan stok suplainya, itu sementara dan saat ini kita komunikasikan dengan Dirjen Migas. Tim kami sedang komunikasi di sana, kita tunggu hasilnya gimana," pungkasnya.

Rekomendasi