Detik-Detik Suku Baduy Dalam 'Ngamuk' Bakar Motor Warga yang Langgar Aturan Adat
Merdeka.com - Aksi membakar sepeda motor oleh suku BaduyDalammenjadi sorotan publik usai viral di media sosial. Hal itu dilakukan usai razia kendaraan, pada Jumat (2/7).
Video pembakaran pertama kali diunggah oleh Pegiat Budaya di Kabupaten Lebak dan pemerhati masyarakat adat Baduy Uday Suhada, melalui akun media sosialnya.
Uday mengaku kagum atas konsistensi masyarakat dalam menegakkan hukum adat. Seperti diketahui, suku BaduyDalam yang tinggal di Pegunungan Kendeng selalu menjaga tradisi.
Termasuk tidak bergantung dengan benda dan perangkat teknologi modern. Berikut kronologi kejadian pembakaran motor terjadi.
Motor Dibakar di Dekat Perbatasan
Video pembakaran motor yang tengah viral di wilayah perbatasan dan berada di Baduy Luar Cijahe. Motor hasil razia dibakar oleh tokoh adat dari Kampung Tangtu Cikeusik, Baduy Dalam.
Hal itu diakui Uday menjadi kekhawatiran tersendiri. Para petugas adat kerap melakukan razia terhadap benda dan teknologi modern.
"Kekhawatiran saya September 2020 akhirnya terjadi juga. Jumat siang kemarin (2/7), empat dari enam sepeda motor yang berhasil dirazia oleh Lembaga Adat Kanekes kemudian harus dimusnahkan dengan cara dibakar," kata Uday.
"Tiga unit sepeda motor kena razia warga yang melanggar adat. Ini sebab akibat melanggar adat," kata sang perekam video.
Konsisten Menjaga Adat

Instagram @inforangkasbitung ©2021 Merdeka.com
Suku Baduy Dalam memang terkenal akan tradisi dan budaya yang begitu kental. Mereka melestarikan alam dan tidak bergantung terhadap benda modern. Aturan tersebut juga diwajibkan bagi para pendatang.
Hal inilah yang menjadi keistimewaan suku Baduy Dalam. Bahkan dipuji oleh Uday.Dalam video tampak dua orang berpakaian adat Kanekes tengah membakar tiga unit motor.
"Lembaga Adat Kanekes begitu mengagumkan. Mereka konsisten menegakkan hukum. Apapun pelanggarannya dan siapapun pelakunya, diperlakukan sama di muka hukum. Itulah keteguhan para pengabdi, Urang Kanekes, Urang Baduy, para penjaga alam," ungkap Uday.
Pemilik Motor Sudah Diperingatkan
Uday menambahkan, sebelumnya empat pemilik kendaraan bermotor telah diperingatkan. Mereka diberi kesempatan untuk tetap tinggal di Baduy dengan syarat menjual kendaraannya atau keluar dari Baduy.
"Si pelaku sudah berkali-kali diingatkan, diberi kesempatan. Kalau mau tetap di Baduy silahkan dijual untuk aset berupa pohon atau aset berupa huma," ujarnya.
Lantaran tak mengindahkan aturan adat, tetua dan tokoh masyarakat Kanekes kesal dengan ulah warga tersebut. Lembaga adat telah menegur serta menasehati sekian kali.
Detik-Detik Menjelang Bakar Motor
Pada saat kejadian, Jumat (2/7), warga yang telah diperingatkan berkali-kali itu melintas di daerah Cijahe dengan mengendari motornya.
Lembaga adat berhasil merazia dan menangkap enam pemilik kendaraan. Dua di antaranya mau mengikuti saran dari tetua adat. Sementara empat unit motor lain dibakar.
"Seperti menyinggung tokoh adat yang sedang kumpul berada di sana. Mencoba dihentikan tokoh adat, dua pengendara motor malah kabur. Dikejar dan akhir dapat. Makanya langsung diambil tindakan tegas. Razia dan dapat enam motor. Empat dibakar, dua unit lain dijual karena pemiliknya mengikuti saran tetua adat untuk tidak menggunakan sepeda motor," papar Uday.
Razia Besar dan Tidak Pandang Bulu

Instagram @inforangkasbitung ©2021 Merdeka.com
Uday mengungkapkan, razia terhadap benda-benda dan perangkat teknologi, seringkali dilakukan di Baduy Dalam. Sedikitnya razia besar-besaran setiap setahun sekali.
"Dulu pernah juga ada razia chainsaw atau gergaji mesin. Diam-diam rupanya ada yang memiliki alat tersebut dan digunakan di tengah hutan. Namanya di gunung kan pasti suara deru mesinnya kedengaran. Langsung dirazia dan dibakar," kata Uday.
Ditambah lagi, kerap dijumpai pula penggunaan tape recorder, lampu, dan peralatan lain ditemukan di rumah warga. Bahkan termos untuk air panas di persinggahan rumah Jaro pun tak luput dari razia.
"Bayangkan penegakkan aturan di sana tidak pandang bulu kepada siapa saja," ungkapnya.
Penggunaan Smartphone jadi Kekhawatiran
Saat ini yang paling dikhawatirkan oleh masyarakat adat Baduy ialah penggunaan telepon pintar berbasis android. Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat 9.000 nomor ponsel teregister dengan nama masyarakat Baduy Luar.
Sekitar 6000 di antaranya dalam kondisi aktif. Dengan total penduduk masyarakat Baduy saat ini sekira 14.600 orang.
"Rata-rata kecil prosentasenya media sosial yang digunakan untuk menjual produk souvenir atau madu, lebih banyak untuk bermedia sosial, mulai dari berselancar YouTube dan TikTok," tutur Uday.
Fenomena tersebut sangat disayangkan. "Makanya saya pernah meminta kepada Bupati Lebak dan Kadiskominfo untuk menjadikan area Baduy menjadi blank spot. Sebab jika tidak dicegah, kekhawatiran saya orang Baduy akan punah satu generasi (terputus dari aturan adat)," paparnya.
Banyaknya penggunaan media sosial di kalangan masyarakat Baduy, bisa berdampak serius. Sebab tugas hidup orang Kanekes paling utama yakni bertapa atau Ngamandala, hidup di sebuah Mandala.
Suku Baduy berusaha menjaga adat untuk hidup sederhana dan berdampingan dengan alam. Sedangkan tugas warga Baduy Luar, untuk menjaga para pertapa.
"Mudahnya mengakses media sosial dan internet, menjadikan sebagian pemuda di Baduy membuka situs yang tidak baik. Akhirnya memicu persoalan sosial lain seperti kasus pemerkosaan yang pernah terjadi menimpa gadis Baduy. Belum lagi media sosial yang menonjolkan kecantikan perempuan Baduy di media sosial. Saya berpesan kepada konten kreator, jangan mengeksploitasi kecantikan perempuan Baduy," pungkasnya.
Video Suku Baduy Dalam Bakar Motor
Berikut videonya.
View this post on Instagram (mdk/kur)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya