Gencatan senjata antara Israel dengan Hamas resmi berlaku sejak Minggu (19/1) lalu. Ribuan pengungsi yang tersebar di berbagai lokasi pun mulai kembali ke kediaman masing-masing.
Namun, kembalinya setiap warga Gaza ke daerah asalnya masing-masing justru membuat Rasmiya Abu Samra bersedih hati. Dia begitu hancur saat mendapati kediamannya rata dengan tanah.
Seperti apa kesaksian pilu dari salah satu warga Gaza di tengah-tengah konflik antara Israel dan Palestina itu? Berikut ulasan selengkapnya.
Advertisement
Warga Gaza Kembali ke Rumah
Rasmiya Abu Samra menjadi satu di antara ribuan warga Gaza yang turut bersuka cita atas terjadinya kesepakatan mengenai gencatan senjata antara Israel dengan Hamas.
Dia pun turut kembali ke kediamannya sendiri. Namun, momen itu tak pernah disangkanya justru menjadi sumber kesedihan tersendiri.
Bagaimana tidak, Rasmiya merasa hancur saat mendapati rumahnya yang dulu ditinggali bersama keluarga kini tinggal abu. Semua bangunan rumah miliknya rata dengan tanah, tanpa menyisakan suatu hal apapun.
Kepada Middle East Eye pada Rabu (22/1) lalu, Rasmiya mengungkap cerita pilu semasa hidup di Gaza beserta keluarga besarnya dengan nyaman. Dia menjadi ibu rumah tangga yang dipenuhi banyak kebahagiaan.
"Saya hidup di rumah ini bersama anak dan suami saya. Kami bahagia dan hidup nyaman, saya bersyukur," ungkapnya, demikian dikutip dari keterangan unggahan akun Instagram @middleeasteye.
Hatinya pun kian hancur saat mendapati set tempat tidur sang buah hati yang kini tak berbekas. Padahal disebutnya, tempat tidur sang putri tersebut baru saja diperolehnya sebagai hadiah atas keunggulan akademiknya di sekolah.
"Tapi rumah kami hancur. Sekarang, situasinya begitu sulit. Itu sangat menyakitkan. Anak perempuanku unggul di ujian sekolahnya dan peringkat satu di kelasnya. Saya membelikannya sebuah set tempat tidur sebagai hadiahnya dan saya menemukannya sudah rusak, sangat menyakitkan," sambungnya.
Advertisement
Dirundung Kehancuran
Menjadi pengungsi, jauh dari rumah, dan terlantar selama lebih dari satu tahun di Gaza pun diakuinya merupakan cerita kelam tersendiri.
Dia mengaku sedih saat mendapati anggota keluarganya kini yang tak lagi utuh dan terlantar. Rasmiya pun turut mengungkap jika dia merasa kebingungan soal rencana hidup selanjutnya di Gaza.
"Anak laki-lakiku punya lima anak. Dan sekarang kami semua tersebar dan terlantar. Kita tidak tahu akan kemana dan tidak tahu harus berkata apa kepada orang lain," katanya.
Rasmiya tak pernah menyangka, konflik di Gaza membuat dirinya dan keluarga harus menerima banyak hal yang memilukan.
"Di malam hari, kami di jalanan tidak ada tempat berteduh. Kami bertahan dengan apa yang masih ada. Kehidupan, kerja keras, dan mimpi kita musnah. Saya tidak pernah menyangka akan menemukan rumah saya dalam keadaan seperti ini. Saya terkejut melihat rumah saya hanya tinggal satu tumpukan saja. Semua impian kami lenyap,” tegasnya.
Advertisement
Gencatan Senjata Disepakati
Sebelumnya, Hamas dan Israel diketahui telah berhasil mencapai kesepakatan untuk gencatan senjata usai berperang selama 15 bulan di Gaza. Pakta ini merupakan hasil dari negosiasi berliku-liku selama berbulan-bulan yang dilakukan oleh mediator Mesir dan Qatar, dengan dukungan Amerika Serikat dan terjadi menjelang pelantikan presiden Trump pada hari Senin.
Kesepakatan gencatan senjata ini nantinya juga mencakup pembebasan tahanan atau sandera yang telah ditahan. Dilansir dari Al Jazeera, sekitar 30 orang tawanan Israel yang ditangkap selama serangan yang dipimpin Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023 akan dibebaskan. Termasuk wanita, anak-anak dan warga sipil berusia di atas 50 tahun.
Sebagai gantinya, Israel juga akan membebaskan lebih banyak tahanan Palestina. Termasuk tahanan yang menjalani hukuman seumur hidup. Tercatat, di antara warga Palestina yang dibebaskan terdapat sekitar 1000 orang yang ditahan setelah 7 Oktober 2023.
Dijelaskan, Israel nantinya juga akan menarik pasukannya secara bertahap dari Jalur Gaza di tahap pertama atau enam minggu pertama gencatan senjata. Israel juga akan mengizinkan warga sipil untuk kembali ke rumah mereka di wilayah utara yang terkepung.
Advertisement