Aksi Tragis, Bocah Ini Selamatkan 8 Orang dari Serangan Thailand
Merdeka.com - Masih segar diingatan masyarakat akan insiden yang baru-baru ini terjadi di Thailand. Negeri Gajah Putih itu diguncang aksi penembakan massal yang menewaskan 30 orang. Termasuk pria bersenjata tersebut.
Rupanya, insiden yang terjadi di Terminal 21 Mall itu juga menewaskan seorang anak laki-laki berusia 18 tahun. Tak banyak yang tahu, anak laki-laki tersebut adalah seorang pahlawan bagi 8 orang selamat lainnya.
Dengan heroiknya, pria ini selamatkan 8 orang dari serangan brutal itu. Lantas bagaimana aksi tragis bocah ini? Simak ulasan yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.
Thailand Diguncang Penembakan Massal
Baru-baru ini terjadi aksi penembakan massal yang menggemparkan dunia. Aksi tersebut terekam terjadi di Terminal 21 Mall, Nakhon, Ratchasima, Thailand. Akibat aksi brutal tersebut setidaknya 58 orang mengalami luka-luka dan 30 orang meninggal dunia.
Dari 30 orang yang meninggal dunia, pria bersenjata tersebut menjadi salah satu korban di dalamnya. Tidak hanya itu, insiden yang mengguncang Thailand ini juga merengut nyawa seorang anak laki-laki berusia 18 tahun.
Pahlawan di Kehidupan Nyata
Siapa sangka, pria berusia 18 tahun ini merupakan seorang pahlawan bagi 8 orang selamat lainnya. Ya, dia dengan heroiknya membantu menyelamatkan 8 orang atas tragedi penembakan tersebut.
Facebook @zhitaiguo/ World of Buzz 2020 Merdeka.com
Pria pemilik nama Ativa ini kemudian dikatakan sebagai pahlawan kehidupan nyata bagi penduduk Thailand. Menurut China Press, Senin (17/2), dikatakan Ativa meninggal dunia dalam proses menyelamatkan nyawa orang lain.
Kronologi Kejadian
Melansir dari World of Buzz, Senin (17/2), terungkap kronologi saat Ativa mencoba melawan si penembak. Dikatakan, saat itu si penembak melarikan di ke lantai LG Terminal 21 Mall. Si penembak kemudian menuju ke ruang pembeku dan di sana lah dia bertemu dengan Ativa.Ya, kala aksi itu terjadi, Ativa sedang berada di ruang pembeku di lantai LG. Tidak sendirian, ada delapan orang lainnya yang berada di ruangan yang sama dengan Ativa. Mengetahui si penembak menuju ke ruangan tempat dia berada, dengan berani Ativa menghalangi pintu ruang pembeku. Tujuannya hanya satu yakni agar si penembak tidak bisa masuk ke dalam ruang pembeku tempat dia dan delapan orang lainnya berada.
Korbankan Nyawa Demi Orang Lain
Sayang, perjuangan Ativa demi menyelematkan dirinya dan delapan orang lainnya harus kalah. Melansir dari World of Buzz, Ativa kalah dan terbunuh oleh si penembak. 
Facebook @zhitaiguo/ World of Buzz 2020 Merdeka.com
Kendati begitu, delapan orang lainnya yang ada di sana berhasil kabur dan menyelamatkan nyawa mereka. Tentu saja semua itu berkat keberanian Ativa menghalangi si penembak masuk ke dalam ruangan. Dikatakan, delapan orang tersebut sukses memanfaatkan gangguan yang diterima si penembak untuk melarikan diri.
Baru Menyelesaikan Sekolah
Tidak banyak yang tahu, Ativa merupakan remaja berusia 18 tahun yang baru saja menyelesaikan sekolahnya. Hal ini diungkapkan oleh nenek Ativa dengan air mata yang bercucuran. Diketahui, Ativa baru saja menyelesaikan sekolah menengah. Ibunya bahkan bekerja sebagai pembersih di Terminal 21 Mall untuk bisa mengirimkan Ativa ke perguruan tinggi.
Sang Nenek Masih Tak Menyangka
Nenek berusia 73 tahun ini masih tidak menyangka Ativa menjadi salah satu korban akan aksi penembakan tersebut. Ternyata, pada awalnya sang nenek tidak mengetahui Ativa meninggal dalam insiden tersebut. 
Facebook @zhitaiguo/ World of Buzz 2020 Merdeka.com
Dirinya baru mengetahui saat seorang tetangga yang melihat berita tersebut memberitahunya. Sang nenek kemudian menggambarkan bagaimana sosok Ativa yang selama ini dia kenal. Menurutnya, Ativa merupakan anak yang pendiam, penurut dan tidak pernah mengeluh.
Harapan Sang Nenek Esok Hari
Tampaknya, meninggalnya Ativa merupakan salah satu kehilangan yang paling berat bagi sang nenek. 
Facebook @zhitaiguo/ World of Buzz 2020 Merdeka.com
"Dia seharusnya penuh harapan untuk masa depannya tetapi karena penembakan yang tidak masuk akal ini, Ativa kehilangan nyawanya di usia yang begitu muda." ujar sang nenek sembari berurai air mata.Tidak hanya itu,mengetahui banyaknya korban akibat insiden tragis itu membuat sang nenek mengutarakan harapannya. Dirinya berharap adanya bantuan dari pemerintah Thailand untuk para keluarga korban.
(mdk/tan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya