Pasangan suami istri paruh baya di Jawa Timur, memilih untuk hidup di tempat yang tidak biasa. Mereka berdua membangun sebuah rumah sederhana dengan kayu di sebuah lembah Gunung Welirang dengan vegetasi hutan yang sangat rapat.
Satu keluarga itu hidup jauh dari perkampungan. Di tengah hutan mereka menyambung hidup dengan cara bertani. Diketahui, pasangan suami istri itu sudah tinggal di dalam hutan selama 20 tahun.
Kedua pasangan itu bernama Pak Sholeh dan Ibu Simpen. Bagaimana kehidupan pasangan suami istri itu di dalam hutan lembah Gunung Welirang? Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut.
Advertisement
Pasangan Suami Istri Tinggal di Hutan
Momen itu terekam dalam sebuah video di channel Youtube Petung Sewu. Dalam video tersebut, Pak Sholeh mengaku sudah tinggal di dalam hutan lembah Gunung Welirang itu selama kurang lebih 20 tahun bersama sang istri.
“Mengembara di sini itu sudah sekitar 19 tahun dan mau 20 tahun. Kurang lebih 20 tahun,” ungkap Sholeh.
Meski tinggal puluhan tahun di dalam hutan, ternyata pasangan suami istri itu juga memiliki keluarga yang utuh. Sholeh mengaku bahwa ia sudah memiliki 5 anak dan 4 cucu. Mereka semua memilih untuk tinggal di kampung.
“Anak 5, yang satu sudah meninggal, jadi tinggal empat. Itu kadang-kadang ke sini itu gantian. Ya sama cucu. Kalau saya kangen cucu itu nggak saya WA, ya saya angen-angen itu aja,” jelasnya.
Tinggal selama 20 tahun di tengah hutan, membuat Sholeh dan keluarganya setiap waktu harus berganti cara perihal pemenuhan kebutuhan energi di dalam rumahnya. Mulai dari diesel, kincir, hingga tenaga surya.
Diesel dinilai terlalu mahal karena harus membeli bahan bakar di kampung. Sementara itu, kincir yang dipasang di sungai menurut Sholeh juga terlalu ringkih hingga mudah rusak. Hingga kini, kebutuhan energi di rumahnya dipenuhi dengan sebuah panel surya.
“Terus sekarang itu pakai panel, tenaga surya. Ya sampai sekarang itu,” tutur Sholeh.
Advertisement
Butuh Makan
Setiap hari, Sholeh dan istrinya memenuhi kebutuhan dengan cara bertani. Meski begitu, ia beberapa kali harus menyempatkan waktu untuk pergi ke kampung agar bisa belanja bahan-bahan untuk masak sehari-hari.
Rumah yang ditinggali Sholeh dan istrinya sangatlah sederhana. Ia hanya membangun sebuah rumah kecil dengan kayu dan atap seadanya. Selain itu, di dekat rumah juga terdapat sebuah kebun jagung, hingga sungai.
Tidak hanya itu, vegetasi hutan yang masih rapat juga membuat Sholeh sering menemukan hewan liar. Beberapa hewan yang ia temui adalah babi hutan, kijang, monyet, hingga landak, yang datang untuk mencari makan.
“Kalau hewan-hewan itu ada celeng, kijang. Kalau celeng banyak, kalau kijang itu enggak seberapa. Kalau monyet banyak. Kadang ada landak,” kata Sholeh.
Salah satu alasan mengapa Sholeh dan istrinya memilih untuk tinggal di hutan adalah karena kebutuhan hidup. Ia mengatakan jika terus di rumah dan takut untuk keluar dari zona nyaman, ia tidak akan bisa menyambung hidup.
“Dalam pikiran saya itu kalau takut terus di rumah itu ya enggak punya apa-apa. Bahkan orang tua kan butuh makan. Jadi istilahnya itu mempertahankan makan lah,” ungkapnya.
Sampai sekarang, banyak orang yang datang dan mengaku takut untuk masuk ke hutan. Namun, Sholeh dan istrinya mengaku tetap berani dan tidak peduli dengan gangguan apapun yang menurut orang lain menakutkan.
“Ya berani itu karena terpaksa. Itu cerita kenyataan betul,” pungkas Sholeh.