Musang Akar, Satwa Nokturnal Penghuni Lebatnya Hutan Khas Kalimantan

Senin, 26 April 2021 16:00 Reporter : Ibrahim Hasan
Musang Akar, Satwa Nokturnal Penghuni Lebatnya Hutan Khas Kalimantan Musang Akar. ©2021 Merdeka.com/Auzan Sukaton

Merdeka.com - Berada di ketinggian pohon dan gelapnya malam menjadi tempat favorit Musang Akar. Hewan ini sekilas nampak lucu dan menggemaskan. Musang Akar tergolong sebagai hewan pemakan segala. Naluri berburunya akan senantiasa aktif, memangsa hewan kecil dan buah-buahan di pepohonan. Meskipun menyukai pepohonan, tak jarang Musang Akar turun ke tanah.

Musang Akar merupakan hewan arboreal yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pepohonan. Aneka buah manis menjadi santapannya. Serangga, reptil, telur, cacing, bahkan unggas kecil menjadi makanan kaya protein bagi Musang Akar. Musang Akar dibekali dengan penglihatan yang tajam. Hewan nokturnal ini lebih aktif pada malam hari. Sedangkan saat siang, Musang Akar lebih banyak beristirahat dan menghemat tenaga.

Musang Akar mulanya hewan endemik pulau Kalimantan. Berkerabat dengan saudaranya, Musang Bulan khas Sumatera, dan Musang Garangan khas Pulau Jawa dan musang Bali. Namun persebaranya meningkat dan mudah ditemui di berbagai hutan lebat di Indonesia.

musang akar

©2021 Merdeka.com/Auzan Sukaton

Musang Akar, atau dalam bahasa latin Arctogalidia trivirgata merupakan mamalia. Tubuhnya yang ramping membuat Musang Akar semakin gesit menerobos rimbunnya pepohonan dan kegelapan malam. Mamalia ini mampu tumbuh hingga panjang 50-60 cm. Sedangkan berat Musang Akar dewasa rata-rata 1.3 hingga 3 kilogram.

Warna bulunya didominasi abu kecokelatan, memudahkannya menyamar di kegelapan. Kaki Musang Akar dilengkapi dengan cakar yang tajam. Cakarnya tak begitu panjang. Namun, cakar tersebut memudahkannya mencengkeram dahan. Pepohonan yang rindang memudahkannya melompat pada setiap dahan dan ranting.

musang akar

©2021 Merdeka.com/Auzan Sukaton

Pada punggung Musang Akar terdapat motif garis hitam pucat. Memanjang dari kepala hingga ekornya. Motif garis tersebut juga bisa digunakan sebagai penanda bagi jenis Musang Akar.
Panjang ekornya melebihi panjang tubuhnya. Ekor Musang akar berfungsi sebagai penyeimbang tubuhnya saat berada di ketinggian. Saat beristirahat, Musang Akar biasanya melilitkan ekornya pada dahan.

Meskipun tidak setenar Luwak, namun keduanya masih punya kekerabatan. Mereka tergolong dalam suku atau famili Viverridae. Semua hewan suku Viverridae adalah pemanjat yang baik dan merupakan hewan nokturnal.

musang akar

©2021 Merdeka.com/Auzan Sukaton

Musang akar juga dibekali dengan indra penciuman yang tajam. Hewan nokturnal ini mampu membedakan buah yang mentah dan matang. Daun telinganya yang lebar memudahkan musang mendeteksi hewan dan mangsa dari kejauhan.

Saat ini musang menjadi hewan yang diidamkan pecinta binatang. Sifatnya hampir sama dengan kucing. Musang yang jinak suka bermanja manja kepada pemiliknya. Sedangkan di alam liar, Musang Akar akan dengan cepat menghindar apabila ada bahaya yang mengancam.

musang akar

©2021 Merdeka.com/Auzan Sukaton

Bagi petani, musang merupakan hama pada tanaman. Musang Akar yang pemakan segala, sangat suka dengan buah-buahan. Tak jarang, para petani membasmi musang agar tanaman mereka terjaga. Padahal, musang sama sifatnya dengan kucing. Jika dirawat dengan baik, musang bisa menjadi hewan peliharaan yang menggemaskan.

Eskosistem yang terjaga akan mempertahankan populasi Musang Akar. Jarak petani dan habitat musang harus dipertahankan. Musang aman berada di alam liarnya, sedangkan petani nyaman bercocok tanam di ladangnya. [Ibr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Picture First
  3. Hewan
  4. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini