Menyusuri Abattoir Bandung, Rumah Jagal Masa Kolonial

Rabu, 7 April 2021 16:30 Reporter : Ibrahim Hasan
Menyusuri Abattoir Bandung, Rumah Jagal Masa Kolonial Abattoir Bandung ©2021 Merdeka.com/Fajri ANF

Merdeka.com - Bandung menjadi salah pusat pemerintahan semasa kolonial Belanda. Tak jarang, di Bandung Raya banyak terdapat bangunan bersejarah. Salah satunya bangunan Abattoir Bandoeng. Bangunan tua tak berdaya berdiri sebelah barat Kota Bandung, Cimahi tepatnya di Jalan Sukimun, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Bukan bangunan biasa, Abattoir dalam bahasa Indonesia ialah rumah pemotongan hewan. Kesan pertama yang kamu rasakan saat berada di depan Abattoir ialah bangunan kumuh yang hampir rubuh. Namun, konstruksinya tetap sama sejak berdiri dulu kala. Terlepas dari kesan kuno, Abattoir Bandung punya sejarahnya sendiri. Abattoir di Cimahi ini menjadi pemasok daging bagi pasukan militer kolonial Belanda.

Cimahi menjadi kota pilihan didirikannya Abattoir semasa kolonial. Pasalnya, Cimahi menjadi pangkalan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Puluhan hingga ratusan tentara disuplai kebutuhan kalori oleh Abattoir Bandung.

abattoir bandung

©2021 Merdeka.com/Fajri ANF

Bangunan tua dua lantai ini masih kokoh berdiri. Dari Jalan Sukimun, Abattoir Bandung terlihat kumuh. Atap yang berada di sudut kanan seolah akan berjatuhan. Salah satu pilar yang menjulang ke atas tampak tulisan vertikal Abattoir. Namun hanya tersisa huruf “A” dan “R” yang bertahan. Cat dan acian yang runtuh seolah mengaburkan kesan megahnya bangunan kuno ini.

Berjalan ke dalam kamu akan semakin merasakan nuansa rumah jagal masa Kolonial. Pintu lapuk khas masa penjajahan masih perpasang. Jendelanya bahkan nampak digantikan dengan terpal. Ruangan lantai atas menjadi tempat administratif rumah jagal. Tanaman merambat juga berperan memperlihatkan Abattoir dimakan zaman.

abattoir bandung

©2021 Merdeka.com/Fajri ANF

Tepat di belakang sisi kanan, terdapat area pemotongan hewan. Area lapang memanjang ini merupakan saksi bisu para hewan dipenggal. Sapi menjadi mayoritas hewan yang dipotong. Setidaknya, 10 ekor hewan mampu dipotong di Abattoir setiap harinya.

Salah satu sudut area nampak tempat untuk mengikat hewan. Berkarat, saking lamanya, tempat mengikat hewan semakin keropos. Di sudut lain terlihat beberapa kait besi yang masih tergantung. Kait besi runcing dimakan peradaban menjadi tempat digantungnya daging hewan.

Bak air untuk membersihkan daging juga masih tersedia. Melihat ke tengah, saluran irigasi pembuangan masih terbentuk seperti sempurna.

abattoir bandung

©2021 Merdeka.com/Fajri ANF

Berdiri sejak tahun 1913, bangunan ini memang telah dimakan usia. Setiap sudut mudah ditemukan dinding yang mulai runtuh. Batu bata merah terlihat menganga di tengah cat putih lusuhnya. Didirikan di dekat rel kereta memudahkan pendistribusian daging ke tentara.

Di tahun itu, De Preanger Bode, koran berbahasa Belanda mengumumkan rencana pendirian Abattoir. Jenne & Co adalah perusahaan pendiri Abattoir ini. Jenne & Co berperan sebagai importir sapi dan bawang putih asal Australia. Hingga 18 Oktober 1916, koran Bataviaasch Nieuwsblad mengumumkan pembukaan Abattoir untuk pertama kalinya.

Seiring ditinggalkan, ruang tengah bangunan ini juga menjadi aktivitas warga sekitar. Tempat parkir, jemuran hingga tempat istirahat beberapa warga dapat kamu lihat di sana. Sebuah pemandangan yang disayangkan atas salah satu ikon sejarah kota Bandung ini.

abattoir bandung

©2021 Merdeka.com/Fajri ANF

Berusia lebih dari 100 tahun bangunan bergaya art deco ini masih bisa kamu jumpai hingga sekarang. Kamu dapat melihat kemegahan Abattoir di Cimahi ini dengan setengah jam perjalanan dari Kota Bandung Sensasi kota tua akan kamu rasakan saat berada di dalam Abattoir ini.

Abattoir telah menjadi salah satu cagar budaya di Cimahi dan Bandung Raya. Keberadaannya merupakan bukti sejarah bahwa Bandung Raya telah menjadi pusat militer Kolonial Belanda. [Ibr]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini