Masjid Jami Peneleh, Peninggalan Sunan Ampel di Surabaya
Merdeka.com - Salah satu Wali Songo, Sunan Ampel menggunakan masjid sebagai salah satu metode penyebaran agama Islam di wilayah Surabaya, Jawa Timur. Pemilik nama asli Raden Mohammad Ali Rahmatulloh ini pun mendirikan Masjid Jami Peneleh. Dibangun sekitar abad ke 18 sekitar, 1430 Masehi, masjid yang letaknya di Jalan Peneleh Gang V Surabaya ini menjadi salah satu masjid tertua di Kota Pahlawan.
Bernuansa kuno, bangunan ini memiliki bentuk menyerupai joglo. Atapnya memiliki langit-langit yang tinggi dengan permainan kisi-kisi. Rangka langit-langitnya berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yaitu Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Masjid seluas 999 meter persegi ini memiliki 10 tiang yang terbuat dari kayu jati. Kayu jati ini menjulang tinggi menyambung bagian langit-langit masjid. Sepuluh tiang utama penyangga atap ini disebut Soko Guru yang melambangkan 10 malaikat Allah.
©2021 Merdeka.com/Al-Kindi
Masjid ini dikelilingi 25 ventilasi. Pada tiap ventilasinya terukir aksara Arab indah nama-nama 25 Nabi. Aksen-aksen kayu berwarna cokelat menghiasi masjid ini. Jendela yang besar membuat masjid ni terasa sejuk di tengah panasnya Kota Surabaya.
Cerita unik juga menyelimuti masjid ini. Dibangun pada abad ke-18, masjid ini menjadi saksi serangan bom Belanda di era kolonial. Pada zaman Belanda menara Masjid Peneleh pernah rusak akibat serangan meriam. Kabarnya, meski meriam itu berhasil menghancurkan menara dan langit-langit masjid, namun saat terjatuh ke lantai bom itu justru tidak meledak sama sekali.
©2021 Merdeka.com/Al-Kindi
Sejak dibangun pertama kali, Masjid Jami Peneleh ini sudah direnovasi 2 kali yaitu pada 190-an dan 1986. Meski begitu, renovasi di masjid peninggalan tokoh Wali Songo ini tidak mengubah bentuk aslinya.
Arsitektur kuno dengan banyak aksen kayu terlihat kental di masjid ini. Warna-warna cokelat dan krem medominasi keseluruhan masjid Jami Penelehh. Meski terlihat kuno namun dalam bangunan ini terlihat megah dengan tiang-tiang yang menjulang tinggi.
Jika dilihat dari atas, Masjid Jami Peneleh ini bak perahu terbalik yang menghadap ke arah barat. Maknanya, mengajak masyarakat untuk beribadah (salat) ke arah kiblat (Mekah).
©2021 Merdeka.com/Al-Kindi
Ciri khas Masjid Jami Peneleh terletak pada beduknya. Diketahui, masjid tersebut memiliki sebuah beduk misterius bernama Beduk kintir. Konon beduk itu ditemukan mengapung di Sungai Kalimas tepatnya di Peneleh.
Saat dipindahkan ke Masjid Kemayoran Surabaya (sekitar 5 kilometer dari Masjid Peneleh), beduk tersebut tak bisa dibunyikan. Benda itu hanya bisa berbunyi di Masjid Peneleh saja.
©2021 Merdeka.com/Al-Kindi
Bagian dalam serambi masjid yang terdapat sumur tua yang berdiameter sekitar 50 sentimeter. Menurut cerita yang beredar, sumur tersebut terhubung ke sumur zam-zam dan sumur Masjid Ampel. Kabarnya, kualitas air sumur Masjid Peneleh sepadan dengan sumur di Masjid Ampel dan air zam-zam di halaman Kota Suci Mekah.
Meski begitu, kini sumur tersebut ditutup. Karena banyak mengandung logam berat akibat senjata yang disimpan pada masa perang kemerdekaan.
(mdk/Tys)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya