Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Khidmatnya Kirab Nyadran Kali, Wujud Syukur Atas Mata Air Melimpah

Khidmatnya Kirab Nyadran Kali, Wujud Syukur Atas Mata Air Melimpah Khidmatnya Kirab Nyadran Kali. ©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin

Merdeka.com - Air merupakan penopang kehidupan utama setiap orang. Keberadaannya sangatlah penting, dengannya manusia bisa mencukupi makan hingga bekerja. Salah satunya sumber mata air Sendang Gede di desa Kandri, Gunungpati, Semarang. Bagi warga desa Kandri, Sendang Gede punya sejarah penting. Keberadannya telah lama menopang kehidupan mereka.

Warga desa Kandri punya ritual unik wujud syukur atas Keberadaan mata air Sendang Gede. Mereka menyebutnya Nyadran Kali. Pawai, arak-arakan gunungan hingga makan bersama dilaksanakan pada pagelaran Nyadran Kali pada (30/01/2020) lalu. Ritual ini diikuti seluruh warga Kandri untuk mewujudkan rasa syukur mereka.

Keceriaan tergambar berdampingan dengan khidmatnya proses kirab. Aneka kostum, iring-iringan nampak memeriahkan acara kirab budaya. Berbaris rapi tiap kelompok menunjukkan penampilan terbaik mereka.

khidmatnya kirab nyadran kali

©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin

Teriknya mentari tak menyurutkan niat warga Kandri melaksanakan ritual kirab. Kirab Nyadran Kali ini dilaksanakan dengan menampilkan hasil bumi desa Kandri. Berbagai macam gunungan sukses membuat meriah acara Nyadran Kali ini.

Hasil bumi berupa buah-buahan, sayur bahkan rempah memadati jalur kirab budaya. Gunungan disusun menyerupai gunung yang menjulang tinggi. Ditempatkan di papan dan ditandu oleh peserta. Baju khas pedesaan, blankon, caping, hingga kostum unik memberikan warna-warni perayaan. Ibu-ibu tak kalah dengan iring-iringan berisi makanan. Rute yang dilewati mulai dari Sendang Pancuran ke Sendang Gede.

Ada satu gunungan yang menarik perhatian, yakni kepala kerbau. Kepala kerbau disajikan karena memiliki makna sejarah sendiri. Konon di area Sendang Gede dulunya terdapat sumber mata air yang besar. Kemudian warga menutupnya dengan kepala kerbau, jadah, dan gong.

khidmatnya kirab nyadran kali

©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin

Tepat di bawah pohon beringin di samping Sendang Gede ucap syukur dimulai. Pejabat setempat memandu Nyadran Kali. Acara mujahadah, kirab, kesenian tari Matirto Suji Dewi Kandri, penuangan air, hingga makan bersama. Semuanya menjadi satu kesatuan ritual yang telah dilakukan secara turun temurun warga Kandri.

Bersama-sama mereka bersyukur dan berharap kekayaan alam Desa Kandri selalu melimpah tiap tahunnya. Bagi mereka, Nyadran Kali merupakan wujud konservasi alam dan bagian dari keseimbangan ekosistem.

khidmatnya kirab nyadran kali

©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin

Tak hanya itu, kostum khusus berwarna putih dikenakan para muda-mudi desa Kandri. Mereka membawakan tari Matirto Suji Dewi Kandri dengan kompak. Pembawaan tarian mereka seolah menyatu dengan keharmonisan unsur alam. Diiringi alat musik khas desa Kandri, bunyi alat musik Kempling memecah riuh kerumunan warga desa.

Seusai menari, ada ritual menuangkan 9 klenting yang berisi air ke tanah desa Kandri. Air yang diambil berasal dari mata air Sendang Gede. Acara selanjutnya yakni makan sego kethek. Acara penutup ini juga memiliki filosofinya sendiri. Hidangan nasi, daun singkong dan daun pepaya, oseng-oseng, peyek gereh teri, telor dan bacem dibungkus menggunakan daun jati.

Konon, dulunya para kera membantu Rama membuat sungai berkat bantuan kera. Kera-kera secara estafet mengulurkan batu. Cara tersebut dipakai dalam penamaan makan bersama dalam Nyadran kali.

khidmatnya kirab nyadran kali

©2021 Merdeka.com/Ahmad Samsudin

Mereka yakin, dengan adanya Nyadran kali keharmonisan alam akan semakin terjaga. Hasil bumi yang dipetik juga semakin melimpah. Tiap tahunnya warga desa Kandri menggelar acara Nyadran kali. Namun pandemi yang melanda Indonesia menyebabkan acara massal ini terpaksa dihentikan. (mdk/Ibr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP