Kesabaran Menanti Garam Kristal Khas Kusamba Bali

Senin, 7 Juni 2021 13:15 Reporter : Tyas Titi Kinapti
Kesabaran Menanti Garam Kristal Khas Kusamba Bali Petani Garam Kusamba. ©2021 Merdeka.com/Alif Alim

Merdeka.com - Tidak seperti garam dapur pada umumnya, kristal putih dari Kusamba Bali ini memiliki rasa umami (gurih). Saat ditaburkan di atas makanan jadi seperti sayur, ikan, daging panggang dan saos. Cita rasa tinggi garam Kusamba langsung menggoyang lidah.

Bahkan tanpa ditabur untuk hidangan, garam beryodium tinggi ini sudah enak. Garam ini mengandung lebih dari 80 mineral alami. Sehingga mudah terserap tubuh dan membuat mengolah makanan lebih mudah. Diproduksi secara tradisional, garam kusamba ini teruji klinis baik untuk kesehatan.

Butuh kesabaran yang ekstra sebelum garam kusamba bisa dikonsumsi. Ada rangkaian kegiatan berhari-hari sampai garam jadi atau terhidang di dapur. Dari proses pengambilan air, penjemuran dan lain-lain. Di desa Kusamba di Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali. Tempat ini merupakan salah satu tempat penghasil garam kualitas terbaik di dunia.

petani garam kusamba
©2021 Merdeka.com/Alif Alim

Dari pesisir Pantai Pesinggahan, Klungkung rumah ijuk kecil berdiri. Rumah-rumah kecil ini menjadi tempat penyimpanan garam yang sudah jadi. Di gubuk kecil ini juga tempat para petani garam melepas lelahnya menanti si kristal putih.

Pembuatan garam dimulai dari membawa air laut ke tempat ladang garam, yaitu pasir pantai yang panas di bawah terik matahari. Proses ini diulang 3-4 kali penyiraman sampai mendapat air garam pertama. Jika matahari terik, setidaknya membutuhkan waktu 4 jam untuk menunggu pasir kering. Proses ini dinamakan proses penyulingan.

Bagi para petani garam, matahari terik bak doa di setiap memulai hari. Hujan adalah malapetaka baginya. Pasalnya, memanen air laut menjadi garam di tengah hujan adalah mustahil.

petani garam kusamba
©2021 Merdeka.com/Alif Alim

Gumpalan pasir di ladang itu akan dijemur lagi di dalam palungan, bilah-bilah pohon kelapa untuk proses pegkristalan garam. Setidaknya, perlu dua hari untuk proses penjemuran menjadi garam di bawah matahari yang terik.

Sinar matahari yang cukup membuat air mengkristal. Butiran-butiral kristal inilah yang menjadi garam murni berkualitas tinggi. Sambil melindungi kepala dari panasnya terik sinar mentari, jemari-jemari mereka mengambil kristal dengan tempurung kelapa.

petani garam kusamba

©2021 Merdeka.com/Alif Alim

Hasil kesabaran mereka berbuah manis, butira-butiran garam kecil khas Kusamba Bali ini siap dikonsumsi.Sisik-sisik kristal yang terbentuk di permukaan diambil dan dikemas di dalam besek daun Lontar khas buatan tangan.

Dalam kondisi matahari terik, per hari hanya memperoleh 10 – 15 kg garam.Garam itu lalu dijual kepada pedagang yang datang ke desa itu seharga Rp 1,200 per kg. Jika cuaca mulai memburuk dan hujan mulai sering turun, harga garam bisa meningkat menjadi Rp 3.000 per kg.

petani garam kusamba
©2021 Merdeka.com/Alif Alim

Nyoman Warta, adalah salah satu dari sedikit petani garam Kusamba yang tetap bertahan, melestarikan tradisi garam Kusamba. Ratusan lainnya memilih berhenti menanti sang kristal putih, beralih berpfrofesi.Tak ada regenerasi penerus, generasi muda yang kurang tertarik dengan pekerjaan ini menjadi salah satu masalah.

Para petani garam diancam kepunahan. Segelintir petani yang tersisa gigih memepertahankan usahanya demi memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga. Sembari melestarikan kearifan lokal dan sumber daya alam yang ada di kawasan Kusamba. [Tys]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Picture First
  3. Bali
  4. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini