Siang itu, suara lenguhan sapi terdengar saling bersahutan. Bukan untuk membajak sawah, para sapi ini sedang menunggu giliran tampil di Festival Gerobak Sapi pada 29 September 2019 lalu. Bersama pemiliknya, setidaknya ratusan sapi putih gemuk ini memadati kompleks Candi Bayunibo, Prambanan Sleman Yogyakarta.
Di atas punuknya, kedua sapi putih ini membawa gerobak yang terbuat dari bambu. Gerobak terlihat meriah dengan hiasan di kanan kirinya. Ada yang dihias dengan warna-warna cerah seperti merah, kinung, biru namun ada juga yang dihias menggunakan janur bak acara pernikahan.
Dalam festival ini terdapat 3 perombaan, Karnaval Gerobak Sapi Hias, Balap Gerobak Sapi dan Gerobak Sapi Custom. Meski berkompetisi, namun kebahagiaan tersirat dari para setiap peserta.
Uniknya, para pengemudi gerobak sapi memiliki panggilan khusus yaitu Bajingan. Bukan sebuah ungkapan marah ya, bajingan merupakan singkatan dari ‘Bagusing Jiwo Angen-angening Pangeran’. Artinya orang yang punya hati mulia serta dikehendaki oleh Tuhan.
Konon karena di zaman dulu mereka mengawal dan mengamankan hasil bumi yang diangkut untuk kemudian dijual. Saat masa perang kemerdekaan Republik Indonesia banyak bajingan dan gerobak sapinya yang telah berjasa membantu para gerilyawan.
Bahkan di Yogyakarta, sudah ada komunitas untuk profesi Bajingan yang disebut Bajingers Community. Ajang ini pun seolah menjadi ajang reuni, tempat berkumpulnya para bajingan.
Bunyi klinting pun mengikuti setiap langkah sapi peranakan Ongole ini. Di atas punuknya, gerobak yang terbuat dari kayu, beroda ban truk ini siap tampil. Berdasarkan nomor urut, mereka menunggu giliran dipanggil satu persatu. Dinilai berdasarkan penampilan gerobak.
Setelah itu, rentetan gerobak ini mengikuti karnaval berjalan melalui rute sekitar Candi Banyunibo, Prambanan. Menariknya, pengunjung memperoleh kesempatan untuk ikut naik dan berkeliling. Cukup mengeluarkan dana sebesar Rp 20 ribu, pengunjung bisa puas merasakan sensasi naik gerobak sapi di sekotar Candi Banyunibo.
Advertisement
Tak berhenti sampai di situ, para bajingan juga mengikuti balap sapi. Dimulai dari hitungan ketiga, hewan mamalia ini beradu kecepatan, berusaha menjadi terdepan. Suara langkah sapi pun langsung berdegup kencang.
Diiringi dengan tepuk tangan riuh para penonton membuat acara Festival Gerobak Sapi semakin meriah. Para bajingan tak boleh lengah. Mereka harus konsentrasi penuh agar sapi yang berlari tetap berada di jalur lintasan. Keseimbangan, kecepatan dan ketahan fisik yang baik harus dimiliki para bajingan.
Gerobak sapi memang menjadi alat transportasi andalan bagi sebagian masyarakat Indonesia khususnya Jawa pada zaman dulu.Melalui festival ini, alat transportasi jadul kembali dihidupkan. Acara ini juga menjadi salah satu bentuk perwujudan untuk melestarikan gerobak sapi yang sarat akan nilai budaya dan sejarah.
Festival ini juga menjadi ajang untuk pemilik sapi memperlihatkan sapi peliharaannya kepada masyarakat.Bukan ajang persaingan, melainkan wahana untuk bersilaturahmi dan bertukar informasi tentang jenis dan mutu sapi yang benar-benar unggul, cara merawat dan memelihara sapi yang baik. Sebelumnya Festival Gerobak Sapi diadakan pada tahun 2013,2014 dan 2015.