Terancam Punah dan Jalan Panjang Digitalisasi Aksara Daerah di Indonesia

Selasa, 15 Desember 2020 07:55 Reporter : Syakur Usman
Terancam Punah dan Jalan Panjang Digitalisasi Aksara Daerah di Indonesia PANDI meluncurkan program merajut indonesia melalui digitalisasi aksara nusantara 2020. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Miris, begitu gambaran simpel nasib aksara daerah di republik ini. Selain terancam punah karena penuturnya semakin sedikit, upaya pelestariannya secara digital juga sangat rendah.

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) menyebutkan, dari 718 bahasa daerah di Indonesia, baru 7 yang terdaftar di Unicode. Kita kalah dari India yang lebih banyak mendaftarkan secara digital aksaranya.

Data UNESCO Atlas of Worlds Languages menyebutkan ada 2.500 bahasa di dunia yang terancam punah. Dari jumlah itu, lebih 570 bahasa statusnya sangat terancam punah dan lebih 230 bahasa telah punah sejak 1950.

Pendaftaran aksara daerah di Unicode penting supaya aksara-aksara daerah kita bisa masuk ek format internationalize domain name (IDN), sehingga aksara-aksara itu bisa diakses dan digunakan di internet.

IDN merupakan nama domain untuk bahasa lokal atau aksara setiap daerah/negara. Karena nama domain ini bersifat khusus, maka tidak menggunakan huruf latin dengan karakter selain a, b…, z; 0, 1,…, 9; dan "-" yang merupakan kode American Standard Code for Information Interchange (ASCII).

Simpelnya, bila aksara daerah kita sudah terdaftar di Unicode, maka aksara itu bisa didaftarkan ke lembaga internet dunia (ICANN) supaya aksara itu bisa muncul di komputer, laptop, smartphone, dan tablet.

"Jadi ada 700 bahasa daerah di Indonesia yang belum digital. Bila penutur bahasa daerahnya tidak ada lagi, maka aksara daerah itu bisa punah dari bumi Indonesia," kata Yudho Giri Sucahyo, Ketua PANDI, usai meluncurkan secara daring program 'Merajut Indonesia melalui Digitalisasi Aksara Nusantara', akhir pekan lalu.

Menurut Yudho, digitalisasi aksara daerah ini penting, karena pertumbuhan pengguna internet dunia semakin pesat. Namun, pengguna internet itu biasanya memakai aksara/ huruf latin untuk menulis di laptop atau smartphone, dan bukan aksara daerah.

Bila kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin, aksara daerah di Indonesia akan punah. Apalagi di Indonesia bahasa utamanya menggunakan aksara latin, sehingga bahasa ibu yang jadi warisan nusatara kemungkinan besar hilang makin tinggi.

PANDI mendata baru 7 aksara daerah yang tercatat di Unicode, yakni aksara Jawa (Hanacaraka), Sunda, Bali, Lontaraq (Bugis), Rejang, Batak, dan Pegon. Namun, tidak mudah mendaftarkan aksara daerah ke Unicode, karena Unicode melihat Indonesia masih di level limitless usage dari aksara-aksara daerahnya. Maksudnya, aksara daerah baru digunakan untuk nama-nama gedung.

Bila ingin menambah jumlah aksara daerah di daftar Unicode, maka Indonesia mesti meningkatkan levelnya dari level limitless usage saat ini.

"Pada tahun depan (2021), kita harus membuktikan ke Unicode memang aksara daerah kita ada penuturnya. Maka itu, PANDI juga membuat laman Merajutindonesia.id yang bersifat open source sehingga seluruh kalangan khususnya pegiat aksara bisa berpartisipasi dan berkontribusi menuliskan aksara daerahnya," ujar Shidiq Purnama, Chief Registry Officer PANDI, bersemangat.

Baca Selanjutnya: PANDI Anggota Unicode...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini