Ternyata Tak Mudah Bagi Astronot Tidur saat di Luar Angkasa, Ini Penyebabnya

Persoalan ini kerap menjadi masalah bagi para astronot ketika di luar angkasa. Bagaiamana solusinya?

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Ternyata Tak Mudah Bagi Astronot Tidur saat di Luar Angkasa, Ini Penyebabnya
Ternyata Tak Mudah Bagi Astronot Tidur saat di Luar Angkasa, Ini Penyebabnya (Merdeka.com)

Manusia pasti butuh istirahat untuk menenangkan tubuhnya setelah lelah beraktivitas. Namun, hal ini sulit dilakukan oleh para astronot ketika berada di luar angkasa.

Mengapa? karena pergantian tempat yang cepat menyebabkan tubuh para astronot kesulitan untuk menyesuaikan.

Dilansir dari Space & Tech Radar, Jumat, (8/9), seorang astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) memiliki kesulitan dalam mengatur waktu tidur.

Sebab, setiap 90 menit sekali para astronot berputar mengeliling planet yang menyebabkan dalam sehari mereka bisa melihat 16 kali matahari terbit dan tenggelam. 

Perlu diketahui bahwa tanpa sadar cahaya matahari ternyata memengaruhi tubuh dalam mengatur jadwal tidur setiap harinya.

Perlu diketahui bahwa tanpa sadar cahaya matahari ternyata memengaruhi tubuh dalam mengatur jadwal tidur setiap harinya.
Dok. Istimewa

Ketika sedang berada di luar angkasa menemui banyak sekali matahari terbit dan tenggelam dalam waktu singkat tentunya akan mengubah ritme sirkadian. 

Nah, karena sinar matahari merupakan isyarat bagi tubuh seseorang untuk membantu dalam menentukan jam istirahat.

Matahari terbit dalam sistem sirkadian akan diartikan sebagai waktu untuk bangun tidur dan beraktivitas, sedangkan matahari terbenam akan diartikan sebagai waktu istirahat dan mengakhiri aktivitas berat.

Oleh karena itu, jika terjadi perubahan secara cepat maka tubuh secara otomatis akan mencoba untuk merubah jam internal tubuh seseorang.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Jika perubahan ini terjadi berulang-ulang dengan sangat cepat tentunya akan mengganggu produktivitas dan kesehatan astronot ketika berada di dalam ruang angkasa.

Oleh sebab itu, para astronot biasanya mengalami gangguan kecemasan, stress, dan merasa terisolasi, karena tidak bisa beristirahat atau tidur dengan nyenyak.

Oleh sebab itu, para astronot biasanya mengalami gangguan kecemasan, stress, dan merasa terisolasi, karena tidak bisa beristirahat atau tidur dengan nyenyak.<br>
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Untuk mengatasi hal tersebut European Space Agency (ESA) mencoba untuk mengakalinya dengan kumpulan lampu LED dengan warna dan kegunaan yang berbeda.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Ketika dinyalakan, lampu LED memunculkan berbagai tanda seperti merah yang berarti matahari terbenam dan relaksasi sebelum tidur. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Namun, ketika pagi hari maka lampu akan berubah menjadi warna biru. Saat alat itu diterapkan ternyata upaya ini berhasil dan dapat membantu para astronot untuk mengetahui jam istirahat mereka.

Rekomendasi