Seorang pria di Inggris terbukti bersalah memalsukan hasil uji DNA demi menghindari kewajiban membayar tunjangan anak. Kasus ini menyeret dua terdakwa: Sheldon B., pria yang menyangkal menjadi ayah kandung seorang anak, serta Robert P., pegawai laboratorium yang membantu memanipulasi sampel. Keduanya divonis penjara setelah mengaku bersalah atas dakwaan konspirasi penipuan.
Mengutip OddityCentral, Minggu (20/7), skandal ini terungkap berkat upaya Chelsea Miller (31), ibu dari anak bernama Louie, yang curiga terhadap hasil tes DNA awal. Sheldon—mantan pasangan Chelsea—menuntut tes setelah hubungan mereka berakhir hanya tiga hari pasca persalinan pada 2022. Hasil tes menyatakan bahwa Sheldon bukan ayah biologis Louie, membebaskannya dari kewajiban finansial.
Namun Chelsea tidak tinggal diam. Ia menginisiasi uji DNA tandingan dengan mengikutsertakan ibu Sheldon, Katie, yang secara biologis akan menunjukkan hubungan kekerabatan jika Louie memang cucunya. Hasilnya membuktikan bahwa Louie adalah cucu kandung Katie, sehingga Sheldon tak bisa lagi menyangkal hubungan darah.
Pemeriksaan lebih lanjut mengungkap bahwa Sheldon telah menggandeng Robert P., pria 38 tahun yang bekerja di laboratorium penguji DNA. Robert mengaku menukar sampel DNA asli Sheldon dengan miliknya sendiri, sehingga menghasilkan laporan negatif palsu.
Ia juga menyebut keterlibatan bibi Sheldon yang menjembatani koneksi tersebut. Tidak ada bukti uang suap dalam kasus ini, namun pengadilan menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap sistem peradilan dan kepercayaan publik.
Dalam sidang di pengadilan Inggris, Sheldon dijatuhi hukuman 50 minggu penjara, sementara Robert mendapat hukuman 33 minggu. Mereka dinyatakan bersalah karena sengaja menyesatkan lembaga hukum melalui manipulasi ilmiah, yang berdampak pada keputusan hak dan tunjangan anak.
Dampak kasus ini bukan sekadar finansial. Tunjangan anak yang seharusnya dibayar Sheldon senilai £94.000 (sekitar Rp2 miliar) sempat tertunda akibat manipulasi tersebut. Lebih jauh, kasus ini menyoroti lemahnya kontrol etika di laboratorium swasta serta perlunya pengawasan ketat terhadap lembaga yang memproduksi bukti ilmiah untuk kepentingan hukum.
Chelsea Miller menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kinerja laboratorium yang terlibat. "Tingkat ketidakprofesionalan dan pengkhianatan kepercayaan dalam kasus ini sangat tidak dapat diterima," ujarnya dalam wawancara dengan The Sun. Ia juga menyoroti pentingnya kejelasan dan integritas prosedur uji DNA, terutama dalam perkara yang menyangkut masa depan dan kesejahteraan anak.
Kasus ini kini menjadi sorotan di Inggris, memunculkan kembali perdebatan soal standar pengawasan terhadap laboratorium forensik serta sistem perlindungan terhadap hak anak dan ibu tunggal. Kejadian tersebut juga menjadi preseden bahwa manipulasi ilmiah dalam konteks hukum keluarga bukan hanya pelanggaran etik, tapi juga tindak pidana berat.
Pemerintah Inggris melalui otoritas layanan laboratorium dikabarkan sedang melakukan evaluasi atas mekanisme audit dan sertifikasi laboratorium yang terlibat dalam pengujian genetik yang berhubungan dengan pengadilan. Belum ada keputusan apakah izin operasi laboratorium tempat Robert bekerja akan dicabut.
Kasus ini menegaskan bahwa meski hukum bisa dimanipulasi sesaat, kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya. Perjuangan seorang ibu yang percaya pada bukti dan keadilan membuahkan hasil, sekaligus menjadi pengingat bahwa integritas ilmiah dan tanggung jawab hukum harus berjalan seiring.