Bangkai Burung Dijadikan Drone, Peneliti Ingin Bisa Terbangkan Lebih Lama

Peneliti ingin drone dari bangkai burung yang dibuatnya bisa terbang lebih lama seperti kawanannya.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Bangkai Burung Dijadikan Drone, Peneliti Ingin Bisa Terbangkan Lebih Lama
Burung Mati Ini Diawetkan dan Dirancang Kembali untuk Dibuat Drone. ©2023 Merdeka.com

Seiring perkembangan waktu, inovasi terbaru yang mampu memudahkan hidup manusia terus diluncurkan oleh para ilmuwan. Belum lama ini, muncul ide baru yang cukup unik, menggunakan bangkai burung untuk dijadikan drone.

Inovasi luar biasa ini akan segera diwujudkan oleh para peneliti di New Mexico Tech, yang dipimpin oleh Dr. Mostafa Hassanalian, seorang profesor teknik mesin.

Sebelumnya, Hassanalian berhasil menyelesaikan drone sayap dengan bahan buatan, dan atas pencapaiannya itu dia berhasil mendapatkan dua gelar Master. Namun, Hassanalian menyadari bahwa model-model itu tidak memberikan efisiensi tertinggi dibandingkan dengan burung yang sebenarnya.

Dengan demikian Hassanalian memutuskan untuk memberi kehidupan baru bagi burung yang telah mati dengan mengubahnya menjadi drone. Burung yang mereka gunakan untuk temuan ini adalah bangkai burung taksidermi.

Hassanalian mengatakan kini mereka dapat menggunakan burung rekayasa dan burung mati untuk dijadikan sebagai drone.

"Satu-satunya hal yang perlu kita berikan kepada mereka untuk membuat mereka hidup adalah merancang mekanisme gesekan, dimasukkan ke dalam tubuh mereka. Jadi mereka tetap memiliki ekor, memiliki sayap, memiliki kepala, tubuh, semuanya tetap di sana. Jadi kami melakukan reverse engineering," kata Hassanalian, dilansir dari New York Post, Rabu (26/4).

Hassanalian bersama timnya menghitung berat, frekuensi mengepak, dan sudut mengepak yang dimiliki burung saat masih hidup untuk menciptakan inovasi yang serupa.

Karena masih belum bisa menerbangkan burung taksidermi mereka dengan kawanan sungguhan, tim teknik menjalankan eksperimennya di dalam kandang dengan burung mekanik palsu. Hal ini memungkinkan mereka untuk mempelajari pembentukan, penerbangan, atau kawanan burung burung yang bermigrasi.

"Pada dasarnya jika kita belajar bagaimana cara burung mengelola energinya saat terbang, kita dapat menerapkannya ke industri penerbangan untuk menghemat energi dan menghemat lebih banyak bahan bakar," Jelas Hassanalian.

Hassanalian mengatakan dia dan timnya akan terus mengerjakan proyek ini selama dua tahun ke depan. Tahap selanjutnya adalah mencari cara untuk membuat drone burung taksidermi terbang lebih lama, karena prototipe saat ini hanya terbang selama 10 hingga 20 menit.

Rekomendasi