Singgung Insiden British Airways 009, Begini Bahaya Abu Anak Krakatau Bagi Pesawat

Anak Krakatau erupsi memicu penutupan ruang udara Jakarta. BMKG mencatat abu hingga 50.000 kaki. Pengamat jelaskan risikonya dan mengingatkan kasus BA009.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Singgung Insiden British Airways 009, Begini Bahaya Abu Anak Krakatau Bagi Pesawat
Ilustrasi maskapai British Airways. (dok. Skeeze/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Penutupan sementara ruang udara Jakarta dan sekitarnya menyusul anak krakatau erupsi dinilai sebagai langkah yang tepat dari sisi keselamatan penerbangan. Berdasarkan laporan meteorologi BMKG, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membumbung hingga 50.000 kaki, melampaui ketinggian jelajah pesawat komersial yang umumnya 30.000–35.000 kaki dengan batas tertinggi 40.000 kaki.

"Sudah benar keputusan untuk sementara waktu menutup ruang udara di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Perkembangan ke depan sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin," ujar Alvin Lie saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (6/9/2026).

Alvin menjelaskan, jika angin bergerak ke barat mengarah Lampung atau Palembang, pembukaan kembali ruang udara Jawa bagian barat dapat lebih cepat dilakukan. Namun bila angin berembus ke timur, dampak abu berpotensi meluas hingga Semarang, Yogyakarta, dan Solo.

Ia juga mengingatkan insiden British Airways 009 pada dekade 1980-an, ketika empat mesin pesawat sempat mati dan baru bisa menyala kembali setelah pesawat turun ke 10.000 kaki, sebelum mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma.

Pelajaran BA009 untuk Situasi Anak Krakatau Erupsi

Ancaman abu vulkanik terhadap penerbangan terbukti nyata. Pada 24 Juni 1982, penerbangan British Airways Flight 009 rute London–Auckland mengalami kejadian genting di langit Jawa Barat.

Saat melintas di atas Pelabuhan Ratu, pesawat Boeing 747 tersebut masuk ke awan abu dari erupsi Gunung Galunggung. Partikel abu halus yang tersedot ke mesin menyumbat proses pembakaran sehingga empat mesin jet mati secara berurutan di udara.

Dalam kondisi tanpa dorongan mesin, pilot mengarahkan pesawat untuk meluncur (gliding) menjauhi paparan abu menuju Jakarta. Saat ketinggian turun ke 10.000 kaki, ketika kerapatan udara lebih pekat, keempat mesin berhasil dihidupkan kembali satu per satu.

Pesawat kemudian mendarat darurat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Pengalaman mencekam itu dituliskan salah satu penumpang, Betty Tootell, dalam buku berjudul All Four Engines Have Failed. Para penyintas bahkan membentuk komunitas Galunggung Gliding Club untuk mengenang peristiwa tersebut.

Kejadian ini menjadi rujukan penting industri penerbangan global bahwa abu vulkanik—sekecil apa pun partikelnya—dapat melumpuhkan total mesin jet, sehingga penutupan ruang udara saat erupsi gunung berapi merupakan prosedur keselamatan yang wajib dipatuhi.

Rekomendasi