Sebuah kabar menyebutkan Indonesia bakal didera gelombang panas mematikan. Badan Meteorologi, Kllimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun langsung angkat bicara mengenai kabar tersebut.
Kabar tersebut pertama kali diembuskan di laman Deutsche Welle (DW) dengan judul Indonesia Akan Didera Gelombang Panas Mematikan. Artikel ini merupakan tulisan ulang dari artikel sebelumnya yang terbit 20 Juni 2017.
BMKG menyatakan, kabar tersebut terlalu bombastis. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, mengatakan, artikel DW itu didasari paper ilmiah Camilo Mora yang terbit di Jurnal Nature Climate Change pada Juni 2017 dengan judul Global Risk of Deadly Heat.
"Pemberitaan DW Indonesia dengan judul yang bombastis dengan kesan terkonsentrasi pada dampak besar yang akan terjadi di Indonesia sebenarnya tidak cukup relevan dengan kajian ilmiah paper Mora et al (2017) tersebut," tulis Herizal di laman BMKG, Selasa (24/4).
Artikel tersebut, lanjut Herizal, mengkaji naiknya risiko ketakmampuan kapasitas tubuh manusia bertahan terhadap panas akibat kenaikan temperatur perubahan iklim. Kajian tersebut menggunakan data kasus kematian terkait gelombang panas dari tahun 1980-2014 dan menemukan 783 kasus kejadian gelombang panas berdampak kematian dari 164 kota di 36 negara.
"Hasilnya, dengan menghitung indeks threshold global suhu harian udara permukaan dan kelembaban udara (RH) yang menjadi pemicu kematian pada kejadian gelombang panas ditemukan 30 persen penduduk bumi saat ini terpapar threshold global suhu dan RH tersebut, setidaknya 20 hari dalam setahun," jelas Herizal.
Menurutnya, pemberitaan DW tersebut pun sebenarnya tidak cukup relevan dengan kajian ilmiah paper Mora et al (2017) tersebut. Hal itu dikarenakan, paper Mora et al tidak menyebut Indonesia secara spesifik. Bahkan Indonesia tidak termasuk dari 164 kota dari 36 negara yang dikaji dalam paper tersebut.
"Juga data kejadian gelombang panas yang dipakai sebagai dasar analisis dan pengambilan kesimpulan tidak ada satupun yang berasal dari Indonesia, sebagian besar data gelombang panas terjadi di Eropa dan Amerika Utara, sebagian kecil di India, China dan Australia," jelasnya.