Perusahaan Elon Musk Kembangkan Chip yang Dipasang di Otak
Merdeka.com - Elon Musk adalah miliuner yang mendedikasikan dirinya untuk kemajuan teknologi. Selain Tesla dan SpaceX yang telah jadi perusahaan besutannya, kini Elon sedang sibuk bersama Neuralink, salah satu perusahaan miliknya pula.
Melansir Android Authority, Neuralink yang mendapatkan pendanaan 158 juta Dollar pada 2017 lalu (termasuk 100 juta Dollar dari Elon), kini sedang mengembangkan mesin penghubung otak manusia dan komputer berbasis bandwaith yang tinggi.
Tim dari Neuralink kini sedang mengerjakan sebuah robot yang disebut "mirip dengan mesin jahit yang dapat mengimplan benang fleksibel ke otak. Benang ini sangat tipis, hanya berdiameter 4 hingga 6 nanometer. benang ini lebih tipis dari rambut manusia.
Benang ini ditempatkan berdekatan dengan neuron otak untuk mendeteksi aktivitasnya, dan menyampaikan kembali informasi tersebut.
Pengerjaan ini dilakukan berdasarkan riset akademis yang telah dilakukan berdekade lamanya, dan para ilmuwan telah mengujicobanya ke tikus. Tujuannya, untuk memasang benang di otak manusia demi performa otak yang layaknya robot.
Bahkan, jika FDA, yang merupakan BPOM Amerika Serikat menyetujui, hal ini sudah akan dilakukan pada akhir paruh pertama tahun depan.
Percobaan di Tikus Berhasil
Melansir laporan Bloomberg, percobaan yang telah dilakukan di tikus cukup berhasil. Teknologi ini disematkan ke otak tikus, dan dikoneksikan ke komputer lewat port USB-C.
Ilmuwan mengklaim bahwa pikiran tikus berhasil ditransmisikan ke komputer. Bahkan, derak neuron tikus dapat terdengar melalui speaker, sembari software menganalisis aktivitas otak tikus.
Tak Ada Garansi Kesuksesan
Hal ini harusnya jadi tonggak sejarah di bidang teknologi. Namun besarnya risiko dan tak adanya garansi kesuksesan membuat banyak juga yang skeptis.
Salah satu sentimen datang dari laporan The New York Times yang mengutip deretan ilmuwan independen. Disebut, banyak yang memperingatkan bahwa hasil ujicoba hewan di laboratorium tentu tak bisa langsung diterjemahkan sebagai keberhasilan untuk manusia.
Risiko juga makin besar karena pengeboran ke dalam tengkorak adalah hal yang tidak bisa ditolak untuk teknologi ini. Risiko ingin lebih ditekan dengan menggunakan pemotongan berbasis laser yang bisa melubangi tengkorak dengan lebih kecil.
Meski demikian, pihak Neuralink menyebut bahwa penelitian ini akan melakukan uji teknologi selanjutnya untuk pasien lumpuh dengan cedera tulang belakang bagian atas. Jika berhasil, tentu proyek ini sudah bisa dikatakan sukses.
Skenario Manusia Berbasis Robot
Elon Musk merupakan orang yang tak malu untuk menyebut bahwa umat manusia membutuhkan kekuatan robot untuk menyambut masa depan.
Ia sendiri menyebut bahwa teknologi adalah hal yang penting dalam skala masyarakat. Jika kita tidak menerapkannya, meski di tingkatan kecerdasan buatan yang 'jinak' sekalipun, umat manusia akan ketinggalan zaman.
Itulah mengapa ia mengembangkan teknologi ini, agar manusia bisa 'berbaur' dengan kecerdasan buatan. Elon sendiri berharap bahwa kelak konsep manusia yang otaknya terhubung dengan AI adalah hal yang lazim.
Meski demikian, konsep manusia robot adalah mimpi dan ambisi jangka panjang. Dalam jangka pendek, tujuan dari teknologi ini adalah untuk memberi kemudahan untuk mereka yang memiliki kekurangan atau penyandang difabel.
Menurut Anda?
(mdk/idc)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya