Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menyuguhkan konten pembaca milenial

Menyuguhkan konten pembaca milenial Ilustrasi Startup. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Pengguna internet di Indonesia terus tumbuh setiap tahunnya. Merujuk data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, terdapat 132 juta pengguna internet dari total populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 256 juta. Jumlah itu, ternyata didominasi dengan rentang usia penggunanya 25-34 tahun. Rentang usia itu, boleh dibilang adalah kalangan milenial.

Para milenial ini memiliki preferensi dalam mengakses internet. Mereka cenderung menyukai konten-konten di internet yang bernuansa menghibur. Maka, tak bisa dimungkiri tumbuh konten-konten yang memfasilitasi keinginan mereka.

Misalnya saja Brilio, IDN Times, dan Vice Indonesia. Ketiga platform itu, menjadi rujukan para milenial untuk mendapat informasi sesuai dengan apa yang diinginkan.

Chief Marketing Officer (CMO) Brilio, Dani Purnomo menyebutkan bahwa dalam waktu dua tahun sejak berdiri, Brilio mampu memikat para milenial untuk menyambangi platformnya. Saat ini saja, terdapat lebih dari 20 juta unique visitor yang dimiliki Brilio.

“Lantas, selama 2 tahun itu bagaimana caranya?” kata Dani saat menjadi pembicara di ajang Ideafest 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (6/10).

Tak segan-segan, Dani berbagi pengalaman bagaimana cara mereka menggaet para pembaca milenial. Menurutnya, ada dua cara yang dilakukannya. Pertama, trial and error. Maksudnya, banyak percobaan model konten yang disuguhkan kepada pembaca untuk mengetahui apa yang diinginkan. Di awal, model konten yang ditawarkan adalah artikel. Namun, seiring berjalannya waktu, model konten yang disuguhkan akhirnya beragam.

“Berbicara konten kebanyakan itu artikel. Pertama memang artikel tapi akhirnya melebar. Gaya artikelnya pun macam-macam, seperti listicle, memes, dan interactive quiz. Kemudian, pelan-pelan kami pun memproduksi video. Bagi kami, itu yang kena untuk milenial,” ujarnya.

Selanjutnya yang tak kalah penting adalah proses distribusi artikel. Langkah ini juga perlu diperhatikan. Terutama disesuaikan dengan platform apa saja yang kerap dikunjungi oleh milenial. Di Brilio, ada tiga distribusi channel yang dilakukan.

“Sosial media itu pasti ya. Selain itu ada Chat apps dan aggregator platform. Itu yang kami gunakan,” ungkap Dani.

Kemudian faktor kedua yang harus diperhatikan adalah milenial itu berevolusi. Maksudnya adalah harus bisa menyesuaikan perubahan sesuai dengan kebiasaan dan keinginan pembaca milenial.

Hampir sama dengan Brilio, Founder sekaligus CEO IDNTimes Winston Utomo juga berbagi dalam sharing yang bertemakan ‘Voice of Authority: How to Get Millennials Listen to You’. Menurutnya, setiap artikel yang ditulis, harus disesuaikan dengan target market milenial yang ingin disasar.

Dengan cara itu, maka para pembaca merasa informasi itu sesuai dengan yang diharapkan. Sedikit berbeda dengan penerapan dari Vice Indonesia. Ardyan M. Erlangga, Managing Editor Vice Indonesia, menyebutkan apa yang dilakukan Vice justru mencari pembahasan berbeda yang tak pernah dibahas oleh media-media lain. Namun tetap dalam konteks menyasar pembaca milenial.

“Pasar yang kami sasar itu kecil. Kami harapkan, dari pasar yang kecil itu, pembaca juga akan loyal,” katanya.

(mdk/idc)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP