FWA tinggal menghitung hari

Jumat, 21 Juni 2013 10:37 Reporter : Arif Pitoyo
FWA tinggal menghitung hari FWA. © Star21.cz

Merdeka.com - FWA atau fixed wireless access (FWA) merupakan layanan seluler yang dikerdilkan melalui regulasi, terutama dari sisi mobilitas yang terbatas meskipun dari sisi teknologi sebenarnya bisa lintas daerah seperti halnya seluler.

Tujuan awal FWA sebenarnya untuk memanipulasi data pelanggan telepon tetap yang saat hanya dilayani oleh Telkom melalui telepon kabel PSTN tak beranjak dari angka 8 juta pengguna.

Namun, pemilihan teknologi CDMA dianggap simalakama karena CDMA 2000 di International Telecommunication Union (ITU) sudah dikategorikan sebagai IMT-2000 atau 3G.

Namun, karena izin dikantongi pemain jaringan tetap lokal, maka teknologinya dipasung tidak boleh roaming dan tidak boleh bergerak di luar kode wilayah.

Kenyataannya saat ini, operator telekomunikasi sudah bersiap-siap meninggalkan FWA. Indosat sudah lebih dulu menelantarkan segmen FWA-nya, yaitu Star One. Mobile-8 yang baru dapat FWA (Hepi) pun seperti hidup segan mati tak mau, karena tentunya layanan baru perlu investasi yang besar, sementara peminatnya sudah menyusut.

Mungkin hanya Telkom yang masih percaya diri melenggang memberikan layanan FWA meski dengan berbagai cara meluncurkan Flexi Combo sehingga pelanggannya tetap bisa berkomunikasi di luar kota.

Pelanggan Flexi pun sebenarnya pelanggan telepon rumah yang dialihkan ke nirkabel sehingga pertumbuhannya bisa jadi datar-datar saja.

Pertumbuhan sektor FWA makin terjepit seiring dengan makin langkanya ponsel berteknologi CDMA, karena hampir 99% ponsel yang beredar di pasar merupakan ponsel GSM, kalaupun ada, itu pun harus melalui program bundling, dan hanya ada satu dua merek saja yang menyediakannya, seperti ZTE.

Pertumbuhan FWA makin terpuruk seiring dengan berdesak-desakannya 4 operator di pita 800 MHz, di mana lebar pita masing-masing operator tak lebih hanya 7,5 MHz. "Dengan lebar tersebut, operator sulit menggelar layanan data pita lebar seperti LTE," ujar Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Muhammad Budi Setiawan, belum lama ini.

Serangan FWA juga datang dari seluler. Sebagai pemegang lisensi yang berbeda, seluler dan FWA tentunya memiliki hak dan kewajiban yang tidak sama.Namun, realita memaksa keduanya harus bersaing memperebutkan segmen pasar yang sama.

Kondisi seperti ini tidak menguntungkan kedua belah pihak, terlebih-lebih bagi operator FWA.Tarif seluler yang mengalami penurunan sangat tajam dalam lima tahun terakhir membuat operator FWA makin terpojok.

Dari sisi kinerja keuangan, hampir semua operator FWA mengalami masa yang sangat sulit, kecuali tentunya Flexi dan StarOne yang masih ditopang layanan selulernya sehingga masih bisa bernafas meski tak ada pertumbuhan, bahkan pelanggannya terus tergerus.

Sebagaimana diketahui, selain pengguna yang berkurang hingga 2 juta pengguna dibanding pada 2011, dalam laporan keuangan terakhir untuk 2012, BTEL menderita kerugian hingga mencapai Rp3,13 triliun. Kerugian ini jauh meningkat dibanding 2011 yang 'hanya' mencapai Rp782 miliar.

Tidak jauh berbeda dengan BTEL, operator lain PT SmartFren—yang memiliki lisensi FWA dan Seluler, mengalami kondisi yang hampir sama. Sepanjang 2012, Smartfren merugi hingga Rp1,56 triliun. Meskipun, angka ini menurun dibanding kerugian tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2,39 triliun.

Kini, pemerintah sudah berancang-ancang menjadikan pita 800 MHz berteknologi netral. Artinya, operator FWA yang ada di pita tersebut bisa menyelenggarakan layanan telekomunikasi seluer, bahkan LTE sekalipun.

Sejumlah operator FWA sudah menyuarakan agar pemerintah menjadikan pita 800 MHz menjadi teknologi netral, seperti Indosat, Smartfren, dan belakangan Bakrie Telecom (Esia). Pemerintah pun berjanji akan membahas hal tersebut mulai bulan depan.

Namun, dengan lebar pita hanya maksimal 7,5 MHz membuat operator FWA tak bisa banyak berbuat meski pemerintah sudah menerapkan teknologi netral di pita 800 MHz. Jalan satu-satunya adalah konsolidasi antar operator FWA menjadi satu atau dua operator besar.

Langkah konsolidasi sangat didukung operator yang medioker seperti Smartfren dan Bakrie Telecom, sedangkan operator yang lebih mapan, yaitu Indosat dan Telkom menyatakan keengganannya.

Namun, apapun bentuk konsolidasinya nanti, pastinya layanan FWA bakal punah, paling lambat sebelum akhir tahun ini seiring dengan penerapan teknologi netral di pita 800 MHz. Untuk ganti teknologi menuju GSM perlu investasi yang tidak sedikit, sehingga CDMA mungkin masih akan bertahan beberapa tahun lagi. [ega]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Teknologi
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini