Unik dan Kreatif, Desainer Ternama Ini Inovasikan Ulos dalam Gaya ala Manhattan
Merdeka.com - Indonesia menyimpan banyak kekayaan kain wastra yang begitu berharga, salah satunya berasal dari Sumatra Utara, yaitu kain Ulos Batak. Meski selama ini fashion identik dengan gaya berpakaian modern, siapa sangka jika kain warisan budaya bangsa juga bisa jadi idola di tengah tren masa kini.
Itu lah yang ingin didobrak oleh Edward Hutabarat, desainer ternama yang sudah empat dekade berkecimpung di dunia fashion. Edward dikenal sebagai desainer yang suka menyoroti ragam kain wastra sarat makna, tak terkecuali Ulos. Ia tak pernah lelah meneliti, menggali dan berkarya dengan beragam kain peradaban di Indonesia.
Bagi desainer senior yang akrab disapa Edo ini, Ulos adalah kain peradaban yang diciptakan untuk melengkapi seremoni. Kecintaannya terhadap Ulos, akhirnya membuat Ia melakukan inovasi agar kain peninggalan leluhurnya tetap bisa eksis dan semakin dikenal para pecinta fashion di Tanah Air.
Salah satu karyanya yang terkenal adalah saat Ia memadukan Ulos ke dalam gaya fashion modern ala Manhattan. Melansir dari Liputan6.com, berikut cerita di balik karya Ulos ala Manhattan Edward yang terkenal.
Memadukan Ulos ke dalam Gaya Hidup Modern ala Manhattan

liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Karya Ulos ini pertama kali Ia tampilkan di acara peragaan busana tunggalnya yang juga bertepatan dengan Hari Ulos Nasional pada tanggal 17 Oktober 2019 lalu. Mendedikasikan hidupnya selama lebih dari tiga dekade untuk menjelajah Indonesia, Edward mengangkat kain Ulos ke dalam gaya hidup modern ala Manhattan.
"Melalui koleksi saya ini, saya ingin memberitahu bahwa kain Ulos bisa dikenakan dalam segala kondisi. Kali ini saya mencoba mengangkat gaya Manhattan yang modern," jelas Edward.
Karyanya ini Ia sajikan dalam 50 look. Edward banyak bermain dengan layering dan siluet busana yang longgar, membuat semua look dalam koleksinya dalam dikenakan oleh pria, maupun perempuan.
Tak Sembarangan Mengolah Kain dari Leluhur

liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Edward tak ingin sembarangan dalam mengolah kain dari leluhur ini. Karenanya, dalam proses desain, Ia mengaku membiarkan karyanya mengalir berdasarkan jiwa. "Karena saya tidak ingin asal mengolah, tidak mau asal tempel, tidak mau asal dibilang modern. Ini kain peradaban, sehingga orang-orang yang memakainya tidak asal pakai, tapi juga tahu apa yang dipakai," ungkapnya.Edward membuat karya tidak hanya berdasarkan permintaan pasar. Ia justru membentuk demand publik untuk menikmati karya-karyanya. "Caranya bagaimana (supaya publik memerhatikan)? Tangkap jiwanya. Busana saya memang untuk dikoleksi," ujar desainer senior tersebut.
Ingin Mengembangkan Ulos Jadi Busana Sehari-hari

liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Lewat karya-karyanya, Edward bermaksud mengembangkan kain Ulos yang fungsional, bertahan lama, modis, berkualitas, dan santun. "Santun ini bisa dilihat secara look," katanya.Ia juga ingin, pemakaiannya juga bisa diadopsi ke busana sehari-hari. Karyanya terefleksi mulai dari outer, atasan, bawahan, selimut, sampai masker yang dirilis secara eksklusif.
Melahirkan Karya dengan Cinta

liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Edward mengaku, Ia tak pernah memaksakan kreativitasnya. Semua dibiarkannya mengalir. Bahkan, Ia juga mengaku tak pernah punya story board. "Jadi, saya juga tidak tahu kapan karya itu akan keluar, kapan akan lahir. Ada kecintaan, ada passion. Tidak ada ambisi pribadi. Jadi, semua mengalir secara hati," tuturnya.Apalagi di tengah kondisi sulit seperti ini, berkarya dengan cinta disebutkannya sebagai cara berdamai dengan pandemi.
(mdk/far)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya