Tradisi Martutu Aek, Pembaptisan Batak Kuno untuk Anak yang Baru Lahir
Merdeka.com - Suku Batak merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih menjaga tradisi leluhur mereka. Banyak tradisi yang mereka pertahankan sampai sekarang. Mereka menganggap warisan dari leluhur ini tidak boleh ditinggalkan karena perkembangan zaman. Apalagi tradisi yang sudah ada sejak zaman Batak Kuno.
Salah satu tradisi Batak Kuno yang jarang diketahui orang adalah Tradisi Martutu Aek.Masyarakat Batak menganggap air adalah unsur alam yang penting.Tradisi ini mirip dengan pembaptisan umat Kristiani.
Pembaptisan ini dilakukan kepada anak yang baru lahir. Tradisi Martutu Aek ini dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan dari keluarga tersebut. Inti dari tradisi ini adalah pemberian nama pada anak sekaligus memperkenalkan anak pada dunia baru.
Seperti apa tradisi Martutu Aek ini berjalan di Tanah Batak? Simak informasi mengenai Tradisi Martutu Aek berikut ini.
Apa Itu Martutu Aek?
Melansir journal.sttasm.ac.id, Martutu aek merupakan salah satu tradisi di Tanah Batak untuk anak yang baru lahir. Tradisi ini disebut juga dengan pembaptisan Batak Kuno saat anak berusia sekitar 7 hari. Air mengalir menjadi sarana pembaptisan untuk anak tersebut.
Tradisi ini dilakukan dengan membawa anak ke sumber mata air dengan membawa bara api sebagai tempat membakar dupa. Anak terlebih dahulu diperkenalkan dengan bumi khususnya air untuk membersihkannya. Hal ini tidak terlepas dari Budaya Batak yang mengenal tiga hubungan hakikat manusia hadir di dunia, salah satunya hubungan dengan alam semesta.
Melansir kanal YouTube GoBatakTV, terdapat perlengkapan lain yang harus dibawa dengan menyesuaikan jenis kelamin anak tersebut. Tombak untuk anak laki-laki dan baliga (alat tenun menyerupai sisir) sebagai simbol jenis kelamin.
Pentingnya Air Bagi Orang Batak
Sejak masa lampau, suku Batak selalu memperhatikan unsur alam sebagai sumber kehidupan yaitu air. Air digunakan untuk membersihkan fisik dan rohani secara ritual pada masyarakat Batak. Selain itu, dalam kepercayaan tradisional Batak, air adalah salah satu unsur alam yang erat dengan kehidupan manusia dalam berbagai hal termasuk sebagai penyucian diri.
Keyakinan Batak tradisional tidak terlepas dari air sebagai sarana spiritual. Biasanya dalam tradisi Batak, air yang sudah didoakan akan dipercikkan pada penganut yang menjadi objek ritual tersebut. Hal ini bertujuan untuk membersihkan seluruh jiwa raga. Seringkali, penganut tersebut menengadahkan tangan untuk mendapatkan air percikan yang dianggap sebagai berkat.
Di Tanah Batak sendiri, air banyak ditemukan sebagai pemberian dari Tuhan. Mereka menganggap air tersebut tidak akan pernah kering. Ini merupakan wujud masyarakat Batak untuk semakin mengingat akan kebesaran Sang Pencipta.
Rangkaian Tradisi Martutu Aek
Ritual ini dimulai dengan penyampaian doa oleh Ulu Punguan (pemimpin umat Parmalim) kepada Muljadi na Bolon (dewa tertinggi dalam mitologi Batak). Selanjutnya terdapat pembentangan ulos ragi idup di atas pasir dan memandikan anak di mata air. Diikuti dengan penyapuan kunyit dan jeruk purut ke tubuh anak serta mengoleskan minyak kelapa ke dahinya. Pemberkatan dilakukan oleh Ulu Punguan dengan mencabut pisau solam debata yang dibawanya.
Setelah rangkaian di mata air selesai, anak itu dibawa berkeliling untuk menjajaki dunia yang baru. Ketika di pasar, ia akan diberi buah-buahan manis sebagai lambang “hari depan” yang makin manis. Selain itu, keluarga juga memilih salah satu orang untuk meminta “bawaan” anak dari pasar tadi sebagai lambang agar anak menjadi pemurah.
Acara Martutu Aek ini dilanjutkan di rumah orang tua anak tersebut yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarganya. Di rumah inilah anak diberi nama dengan pertimbangan yang cermat karena nama yang dipilih harus disesuaikan dengan roh anak tersebut. Untuk dianggap sah, nama tersebut harus mendapat doa dan restu dari seluruh keluarga dan sanak saudara. Tradisi ini ditutup dengan makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur.
(mdk/jen)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya