Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejarah Hari Arafah, Makna, Beserta Amalannya yang Penting Diketahui

Sejarah Hari Arafah, Makna, Beserta Amalannya yang Penting Diketahui Jemaah haji di Padang Arafah. ©AFP PHOTO/MOHAMMED AL-SHAIKH

Merdeka.com - Arafah adalah hari di mana Allah (SWT) menyempurnakan agama-Nya, menyempurnakan nikmat-Nya atas Nabi Muhammad (SAW), dan menyetujui Islam sebagai jalan hidup.

Arafah adalah hari kesembilan Dzulhijjah, bulan ke-12 dan terakhir dalam kalender Islam. Itu terjadi pada hari kedua haji ke Mekkah.

Baca juga: Kapan Puasa Idul Adha 2022 Ini Jadwal Dan Bacaan Niatnya

Mereka yang melakukan ziarah ke bukit Arafah, berdiri dalam kewaspadaan kontemplatif, memanjatkan doa, mencari belas kasihan Tuhan atas dosa-dosa masa lalu mereka dan mendengarkan khotbah para ulama Islam.

Hari Arafah dianggap sebagai hari keberuntungan dalam Islam, dan banyak peziarah mencoba yang terbaik untuk mengunjungi Bukit Arafah setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Lantas mengapa hari Arafah begitu penting setiap tahunnya bagi umat Islam? Berikut merdeka.com merangkum selengkapnya sejarah hari Arafah, makna, beserta amalannya:

Sejarah Hari Arafah

Nama lain untuk hari Arafah adalah 'Bebas dari Api.' Arti nama Arafah adalah: "mengetahui". Hari Arafah adalah hari paling suci dalam kalender Islam. Itu jatuh pada hari ke-9 bulan Dzulhijjah dalam kalender Islam lunar.

Ini bertepatan dengan hari kedua haji tahunan ke Mekkah dan pada hari sebelum awal Iduladha, perayaan Muslim memperingati pengabdian Nabi Ibrahim kepada Allah.

Hari Arafah adalah hari semua umat Islam yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah berkumpul saat fajar di Gunung Arafah.

Menurut agama Islam, Gunung Arafah adalah tempat di mana Nabi Muhammad memberikan salah satu khotbah terakhirnya yang terkenal tentang Islam dan Allah.

Setelah hari Arafah datanglah awal Iduladha. Tepat ketika Ibrahim hendak membunuh putranya Ismail atas perintah Allah, Allah menempatkan seekor domba di untuk menggantikan Ismail.

Tradisi Hari Arafah

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima dan penting dilakukan bagi semua umat Islam yang mampu melakukannya. Ibadah haji memiliki tujuh tahapan rangkaian dan tradisi yang diikuti secara berurutan. Umat Islam yang melaksanakan haji mengitari Ka’bah sekitar tujuh kali.

Selanjutnya, umat Islam menghabiskan satu hari berdoa di Gunung Arafah, diikuti dengan bermalam di Muzdalifah.

Pada 10 Dzulhijjah, jemaah haji melaksanakan ibadah melempar jumroh, yaitu sebanyak 7 kali ke Jumrah Aqabah sebagai simbol untuk mengusir setan. Dilanjutkan dengan tahalul, yaitu mencukur rambut atau sebagian rambut.

Jika jemaah mengambil nafar awal maka dapat dilanjutkan perjalanannya ke Masjidil Haram untuk Tawaf Haji atau menyelesaikan haji. Sedangkan jika mengambil nafar akhir, jemaah haji tetap tinggal di Mina dan dilanjutkan dengan melontar jumrah sambungan, yaitu jumrah ‘Ula dan jumrah Wustha.

Terakhir, Tawaaf perpisahan dilakukan berlawanan arah jarum jam. Ritual haji jauh lebih rumit dari ini, tetapi langkah-langkah ini adalah dasar-dasarnya.

Amalan di Hari Arafah

Bagi yang tidak melaksanakan haji, ada sejumlah ibadah yang bisa diamalkan saat hari Arafah. Berikut amalan yang bisa dilakukan di hari Arafah:

Puasa Arafah

Puasa Arafah merupakan amalan yang paling diajurkan saat hari Arafah. Puasa Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah diketahui mampu menghapus dosa selama dua tahun. Ini sesuai dengan hadis yang berbunyi:

Dari Abu Qatadah Al-Anshariy,

”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang (keutamaan) puasa pada hari Arafah?” Maka beliau menjawab,“ Menghapuskan (kesalahan) tahun yang lalu dan yang sesudahnya.” H.R. Muslim.

Berikut niat dari puasa Arafah:

Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala

Artinya: "Saya niat puasa Arafah, karena Allah ta’ala."

Perbanyak doa

Hari Arafah merupakan hari di mana doa lebih banyak dikabulkan. Rasulullah Muhammad SAW menyatakan doa terbaik adalah doa yang diucapkan di hari Arafah. Ini sesuai dengan hadis yang berbunyi:

"Doa paling utama pada hari Arafah dan kalimat paling utama yang saya baca dan para nabi sebelum saya adalah, 'La ilaha illah wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodir'."

Berdasarkan hadis tersebut doa yang dianjurkan dibaca saat hari Arafah adalah:

La ilaaha illallahu wahdahu, la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wahuwa 'ala kulli syaiin qodir.

Artinya:

"Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Dia yang menguasai segala sesuatu."

Bertakbir

Hari Arafah yang jatuh pada 9 Dzulhijjah merupakan hari sebelum Iduladha. Salah satu sunah untuk menyambut hari raya Iduladha adalah memperbanyak takbir. Takbir ini bisa dimulai pada hari Arafah sampai hari Tasyrik selesai. Hal ini sesuai dengan hadis yang berbunyi:

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Kami pagi-pagi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mina menuju Arafah, di antara kami ada yang bertalbiyah dan di antara kami ada yang bertakbir.” (HR. Muslim, no. 1284).

Bersedekah

Amalan di hari Arafah selanjutnya adalah memperbanyak sedekah. Hari Arafah masih termasuk 10 hari pertama bulan Dzulhijjah yang begitu mulia. Bersedekah di waktu ini sangat besar pahalanya.

Bersedekah termasuk ibadah yang dicintai Allah. Bersedekah tak harus dengan materi. Umat Islam bahkan bisa bersedekah hanya dengan senyuman dan perkataan baik.

(mdk/amd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP