Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejarah 30 Januari: Lahirnya I Gusti Ngurah Rai dan Perannya dalam Puputan Margarana

Sejarah 30 Januari: Lahirnya I Gusti Ngurah Rai dan Perannya dalam Puputan Margarana I Gusti Ngurah Rai. ©wikipedia.com

Merdeka.com - I Gusti Ngurah Rai adalah salah satu pahlawan Bali yang banyak dikenal terutama dalam perannya pada Perang Puputan Margarana. Namanya banyak dikenal sebab menjadi nama Bandara di Pulau Dewata.

Pada 104 tahun silam, tepatnya tanggal 30 Januari 1917 di Badung, I Gusti Ngurah Rai lahir ke dunia. Ia merupakan anak dari seorang camat Petang, I Gusti Ngurah Palung dan I Gusti Ayu Kompyang.

Tertarik dengan dunia militer sejak kecil, Ngurah Rai bergabung dengan HIS Denpasar lalu melanjutkan dengan MULO yang ada di Malang. Tak cukup sampai di sana, ia kemudian bergabung dengan sekolah kader militer, Prayodha Bali, Gianyar.

Pada tahun 1940, Ngurah Rai dilantik sebagai Letnan II yang kemudian melanjutkan pendidikan di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren (CORO), Magelang dan Pendidikan Artileri, Malang.

Memperjuangkan NKRI hingga titik darah penghabisan, I Gusti Ngurah Rai dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada 9 Agustus 1975. Berikut selengkapnya memperingati sejarah 30 Januari sebagai kelahiran I Gusti Ngurah Rai beserta perannya dalam perang Puputan Margarana dilansir dari Liputan6:

Perjalanan Hidup I Gusti Ngurai Rai

Kisah I Gusti Ngurah Rai tertulis dalam buku Jejak-jejak Pahlawan karya J.B. Sudarmanto (2007). Dalam buku itu, dikatakan bahwa I Gusti Ngurah Rai menempuh pendidikan di Sekolah Militer Gianyar, Bali dan lulusan Corps Opleiding voor Reserve Officieren (CORO) atau pendidikan perwira cadangan di Magelang.

Setamat pendidikan di sana, pria kelahiran 30 Januari 1917 itu diangkat menjadi perwira di Korps Prayudha Bali dengan pangkat letnan dua.

Setelah kabar Indonesia merdeka pada tahun 1945 akhirnya sampai di Bali, BKR berganti nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil di mana ia sebagai komandannya. Sebagai komandan TKR Sunda Kecil, Ngurah Rai merasa perlu untuk melakukan konsolidasi dengan pimpinan TKR pusat di mana saat itu bermarkas di Yogjakarta. Sampai di Yogjakarta, Ngurah Rai dilantik menjadi komandan resimen Sunda Kecil berpangkat Letnan Kolonel.

Kembali dari Yogjakarta dengan bantuan persenjataan, Ngurah Rai mendapati bahwa Belanda telah menduduki Bali dengan mempengaruhi raja-raja Bali. Sebanyak kurang lebih 2.000 pasukan dengan persenjataan lengkap dan sejumlah pesawat terbang yang berhasil dihimpun Belanda telah siap berperang menyerang Ngurah Rai dan pasukan kecilnya.

Pertempuran tersebut dilatar belakangi dengan kekecewaan Ngurah Rai atas hasil dari perjanjian Linggarjati antara Belanda dan pemerintah Indonesia. Dalam perjanjian tersebut menyebutkan bahwa pemerintah Belanda mengakui kekuasaan Indonesia yang meliputi pulau Jawa, Madura, dan Sumatera. Sedangkan Bali diakui menjadi bagian dari negara Indonesia timur bikinan Belanda.

Bersama Ciung Wanara, pasukan kecil Ngurah Rai, pada tanggal 18 November 1946 menyerang Tabanan yang menghasilkan satu datasemen Belanda dengan persenjataan lengkap menyerah.

Hal ini memicu Belanda untuk membalas pertempuran lebih sengit dan mengerahkan kekuatannya yang ada di seluruh pulau Bali dan Lombok untuk membalas perbuatan Ngurah Rai.

Pertempuran Puputan Margarana

Melansir dari Liputan6, dalam pertempuran itu pasukan Ciung Wanara berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Namun, pertempuran tidak berhenti sebab bala bantuan pasukan Belanda datang dengan jumlah besar.

Mereka bahkan dilengkapi persenjataan lebih modern serta didukung kekuatan pesawat tempur. Kondisi pun berbalik, pasukan Ngurah Rai malah terdesak karena kekuatan tidak seimbang.

Pertempuran antara pasukan Ngurah Rai dan Belanda terus terjadi meski hari beranjak malam. Pasukan Belanda juga kian brutal dengan menggempur pasukan Ciung Wanara dengan meriam dan bom dari pesawat tempur.

Pasukan Ciung Wanara menjadi terdesak ke wilayah terbuka di area persawahan dan ladang jagung di kawasan Kelaci, Desa Marga. Ngurah Rai lalu mengeluarkan perintah puputan atau pertempuran habis-habisan.

Menurut pandangan pejuang Bali itu, lebih baik berjuang sebagai kesatria daripada jatuh ke tangan musuh. Akhirnya, I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukannya gugur dalam pertempuran habis-habisan itu.

Ngurah Rai gugur dengan ksatria di usia 29 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Margaran Tabanan, Bali. Untuk mengenang peristiwa heroik itu, setiap 20 November diperingati sebagai Hari Puputan Margarana.

Pemerintah lalu menganugerahkan Bintang Mahaputera dan kenaikan pangkat menjadi Brigjen TNI (anumerta) untuk I Gusti Ngurah Rai. Pada tahun 1975, pemerintah juga menetapkan I Gusti Ngurah Rai sebagai Pahlawan Nasional.

Hingga kini, namanya diabadikan dalam nama bandara di Bali, Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan nama kapal perang KRI I Gusti Ngurah Rai. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya demi kemerdekaan Indonesia, wajah I Gusti Ngurah Rai pernah diabadikan dalam pecahan uang Rp 50.000.

(mdk/amd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP