Provinsi Sumatra Utara tak lekang dari budaya Melayu. Sesuai dengan falsafahnya, Melayu juga sangat identik dengan adat dan budaya yang kental dengan ajaran agama Islam.
Salah satu kebudayaan masyarakat Melayu adalah adat kesenian tradisional dari Asahan yang bernama Tari Gubang. Wilayah Asahan merupakan salah satu kabupaten yang mayoritas penduduknya adalah suku Melayu.
Tari Gubang merupakan tari asli Asahan yang berkembang pada masyarakat Nelayan. Berdasarkan letak geografis yang berada di wilayah pesisir, banyak sekali masyarakat Asahan yang berprofesi sebagai nelayan.
Penasaran dengan kesenian tradisional khas Asahan ini? Simak rangkuman selengkapnya yang dihimpun dari beberapa sumber.
Advertisement
Asal Usul Tari Gubang
Tari Gubang berasal dari kata Gebeng, yang artinya sampan atau perahu dalam bahasa Melayu Asahan. Tarian ini pada dasarnya lahir dari aktivitas nelayan yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat Asahan.
Mengutip dari buku "Tari Gubang Asahan" karya Fariani (2016), pada zaman dahulu terdapat sekelompok nelayan yang hendak melaut untuk mencari ikan. Setelah seharian melaut, nelayan sudah mendapatkan hasil tangkapan yang banyak.
Para nelayan yang sudah merasa cukup dengan hasil tangkapannya justru tidak dapat berlayar kembali ke pesisir karena secara tiba-tiba tidak ada embusan angin yang dapat menjalankan perahunya.
Nelayan pun kebingungan, mereka akhirnya sempat mengayuh perahu ke pantai terdekat. Mereka pun beristirahat di pantai tersebut sambil menyanyikan sebuah lagu bernama nyanyian Haloban.
Usaha tersebut akhirnya berhasil, angin pun kembali bertiup dan membawa pulang para nelayan. Saking senangnya, para nelayan itu kemudian menari-nari di atas perahunya. Dari sinilah lahir istilah Tari Gubang.
Advertisement
Ciri Khas
Dalam Tari Gubang, para penarinya banyak sekali menggunakan kecepatan gerakan kaki serta tangan. Tak hanya itu, tarian ini juga bertumpu pada tumit. Gerakan kaki yang cepat ini berfungsi untuk mengimbangi goyangan perahu yang terombang-ambing.
Tarian ini dilaksanakan oleh putra dan putri dengan jumlahnya yang bervariasi. Bisa dilakukan oleh putra atau putri saja dan secara berpasangan dengan empat pasangan penari putra dan putri. Bahkan, tarian ini juga bisa dilakukan satu orang saja yang disebut dengan Gubang Tunggal.
Tari Gubang tentunya juga diiringi dengan musik, awalnya menggunakan kayu sebagai pengiringnya. Hal ini dulu para nelayan bersyair sambil menepukkan tangannya ke lambung perahu. Saat ini Tari Gubang diiringi alat musik melayu pada umumnya.
Advertisement
Tarian Hiburan
Mengutip dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, Tari Gubang tak hanya menjadi sarana untuk pemanggil angin saat nelayan hendak melaut. Melainkan juga sebagai tarian hiburan bagi para nelayan yang sudah melaut seharian penuh.
Seiring berkembangnya zaman, Tari Gubang lambat laun berubah fungsi. Ketika tarian ini dipentaskan maka fungsinya menjadi sarana hiburan bagi masyarakat nelayan.
Selain itu, tarian ini juga digunakan sebagai tarian penyambutan tamu, upacara adat seperti perayaan, pesta perkawinan, hingga proses pengobatan.