Tapteng Mulai Belajar Tatap Muka Terbatas, Pedagang Seragam Mendadak Banjir Pesanan

Kegiatan belajar tatap muka terbatas yag mulai diselenggarakan di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara sejak Senin (16/8), membuat sejumlah pedagang seragam dan sepatu sekolah serta tukang pangkas rambut meningkat penghasilannya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tapteng Mulai Belajar Tatap Muka Terbatas, Pedagang Seragam Mendadak Banjir Pesanan
Penjualan Seragam Sekolah Anjlok. ©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Kegiatan belajar tatap muka terbatas di masa pandemi Covid-19 mulai diselenggarakan di Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatra Utara (Sumut) sejak Senin (16/8).

Hal ini ternyata berpengaruh pada penghasilan sejumlah pedagang di Pasar Sibolga dan Pasar Pandan. Di antaranya pedagang seragam sekolah, sepatu sekolah dan tukang pangkas rambut.

Sejak belajar tatap muka ini dimulai, para pedagang ini mengaku banjir pesanan. Seperti yang diketahui, para pedagang ini tak lepas dari imbas pandemi Covid-19 yang sempat membuat mereka kehilangan pendapatan.

“Sebenarnya saya tidak tahu kalau hari ini sudah dimulai belajar tatap muka terbatas. Memang dari semalam sudah ramai yang beli baju dinas. Ketika kami tanya kepada pembeli, katanya hari ini sudah mulai belajar tatap muka, dan wajib pakai dinas,” ujar salah seorang pedagang pakaian sekolah di Pasar Sibolga Nauli, Ompung Aritonang.

Sebelumnya, proses belajar tatap muka di sejumlah sekolah di Tapteng ini berlangsung hanya sekitar 1 jam dengan jumlah siswa yang juga dibatasi dengan dua gelombang masuk.

Melansir dari ANTARA, berikut informasi selengkapnya.

Ompung mengatakan, Ia mendadak banyak pesanan seragam sekolah. Namun, karena tidak mengetahui kalau sekolah mulai masuk kembali, Ia mengaku tidak sempat belanja stok seragam. Ia pun hanya mengandalkan stok yang lama.

“Kami tidak tahu kalau hari ini sudah mulai tatap muka terbatas, sehingga kami tidak belanja. Dan stok yang ada sekarang ini, adalah stok yang kemarin-kemarin,” katanya.

Selain itu, untuk harga, Ompung mengaku masih membanderol seragam sekolah yang Ia jual dengan harga lama. Ia masih berpatokan ke harga pembelian bahan beberapa bulan yang lalu. Ia menjual seragam sekolah untuk SD seharga Rp160 ribu satu stel, sedangkan untuk seragam sekolah SMP seharga Rp170 ribu.

“Yang paling banyak laku itu pakaian seragam SD, khususnya untuk kelas 1. Mungkin karena ini baru pertama masuk sekolah. Untuk SMP tidak begitu banyak laku, paling-paling untuk dinas kelas 7,” tambahnya.

Selain pedagang seragam sekolah, ternyata dampak dari belajar tatap muka ini juga dirasakan oleh pedagang sepatu sekolah di Pasar Sibolga. Salah seorang pedagang sepatu, M Koto mengaku penjualan sepatunya meningkat. Meski Ia tak tahu kalau sekolah sudah masuk kembali, beruntung masih ada sisa stok sepatu di tokonya. “Ini tiba-tiba saja pak, karena kita tidak tahu kapan masuk sekolah tatap muka. Untung saja stok kita masih ada, dan itupun sudah tinggal dikit,” ungkapnya.Koto menjual sepatu untuk anak SD kelas 1 seharga Rp80 ribu dengan merk yang lumayan bagus, sedangkan untuk anak SMP dibanderol harga kisaran Rp90-100 ribu.“Lumayanlah pak penghasilan sejak kemarin sampai hari ini,” ujarnya.

Meningkatnya pendapatan seiring dimulainya belajar tatap muka di sekolah juga dirasakan oleh tukang pangkas rambut. Salah seorang tukang pangkas rambut, Uda Romi mengaku Ia jadi ramai pelanggan anak-anak yang ingin potong rambut. “Meningkat penghasilan kami, dan rata-rata anak-anak yang potong rambut. Menurut pengakuan orangtua mereka, anaknya akan belajar tatap muka, jadi harus rapi. Alhamdulillah pak, dengan adanya sekolah tatap muka ini, meningkat penghasilan kami. Mungkin selama ini karena belajar online, tidak begitu diperhatikan penampilan rambut anaknya,” katanya.

Rekomendasi