Berlantai Tiga Bak Mal, Ini 7 Potret Mewah Wardrobe 'Terbesar di Dunia

Pengusaha Theresa Roemer memiliki walking closet yang menjadi perhatian publik karena ukurannya yang sangat luas. Digadang-gadang, lemari pribadinya tersebut menjadi yang terluas di dunia.

Dimas Putra Mandegani
Oleh Dimas Putra Mandegani - Reporter
Berlantai Tiga Bak Mal, Ini 7 Potret Mewah Wardrobe 'Terbesar di Dunia
Walking Closet terbesar di dunia. Youtube Ryan Serhant ©2020 Merdeka.com

Apa jadinya jika memiliki pakaian dalam jumlah besar? Tentu membutuhkan lemari pakaian yang besar pula. Hal Ini yang dialami oleh Theresa Roemer, istri ahli minyak Houston Lamar Roemer.

Pengusaha Theresa Roemer memiliki walking closet yang menjadi perhatian publik karena ukurannya yang sangat luas. Digadang-gadang, lemari pribadinya tersebut menjadi yang terluas di dunia.

Seperti apa wujudnya? Berikut merdeka.com lansir dari berbagai sumber, Rabu (6/5).

Dilansir dari video Youtube miliki Ryan Serhant, luas lemari pribadinya tersebut 278 meter persegi. Bisa dibayangkan betapa luasnya walking closet yang ia punya.

Bahkan, dalam video itu, diberi judul, "The Biggest Closet in The World" saking besar dan luasnya lemari.

Theresa memang seorang milyarder. Ia merupakan pengusaha busana olahraga dan pusat kebugaran terkenal di Amerika Serikat. Ia juga seorang penulis yang telah menelurkan tiga buku.

Suaminya juga seorang kaya raya karena merupakan ahli minyak ternama Amerika Serikat, Houston Lamar Roemer. Tak ayal, rumah mewah Theresa dipenuhi dengan barang bermerek.


Walking closet milik Theresa terdiri dari tiga lantai. Pada lantai pertama, ia gunakan sebagai tempat menyimpan aksesori, termasuk jam tangan mewah dan perhiasan. Lantai dasar menyimpan 50 tas Hermes yang dikelompokkan berdasarkan desain dan warna. Walking closet mewah ini ia bangun senilai USD1 juta dengan desain mirip butik brand mewah.

Jarak antar rak penyimpanan juga luas. Bahkan untuk menjangkau tas yang berada di rak teratas, ia memanfaatkan sebuah tongkat dengan pengait di bagian ujung. Hal itu untuk menggambarkan betapa luas lantai dasar walking closet tersebut.

Tentu saja walking closet ini diisi dengan koleksi barang mewah milik Theresa. Koleksi tas branded, sepatu, hingga berlian terpampang nyata dalam walking closet ini. Satu yang jadi favoritnya adalah tas Hermes senilai US60 ribu atau hampir sekita Rp1 miliar, yang berada di rak paling bawah.

Theresia juga memiliki cincin tanzanit 10 karat yang jadi favoritnya. Cincin tersebut bernilai USD80 ribu ata setara dengan Rp1,129 miliar.

Selain Hermes, tas lain kesayangan Theresia adalah Vintage Louis Vitton Purse motif logo LV di sekelilingnya. Ia memperoleh tas tersebut saat berusia 19 tahun. Tas tersebut jadi saksi sejarah bagaimana perjuangan kerasnya agar mampu membeli tas mewah pertamanya itu. Bahkan hingga kini, ia tak pernah memakainya dan kondisinya masih sangat mulus.

Beranjak ke lantai tiga, Theresa menyimpan koleksi coat, rompi bulu, dan jaket kulit. Tidak semuanya dari kulit asli. Ia juga membeli pakaian dengan bulu atau kulit sintetis. Namun, yang termahal di deretan koleksinya adalah jubah dari bulu cerpelai yang berharga USD60 ribu.

Theresia juga memasang mini bar untuk bersantai dan menaruh sampanye favoritnya. Terdapat tangga putar di tengah ruangan untuk menghubungkan lantai bawah dengan mini bar miliknya yang berada di lantai dua. Ia mengaku senang berada di walking closet itu sambil menikmati minuman tersebut.


Di lantai dua, Theresa menyimpan lebih dari 500 pasang sepatu koleksinya dan ratusan di antaranya bermerek Loubotin dengan ciri khas merah. Ia mengaku memiliki Loubotin Limited Edition Pump dengan permata di sekelilingnya. Sepatu mewah tersebut seharga USD4 ribu.

Namun, walaupun ia memiliki ratusan koleksi barang mewah, ia selalu tahu jika barang miliknya tidak ada di tempat.

"Percayalah, aku selalu tahu," ujarnya.


Walaupun kekayaannya melimpah, Theresa tidak lupa untuk beramal. Ia sempat melakukan galang dana yang kemudian disumbangkan untuk warga yang membutuhkan di Houston, AS. Bahkan ia memperoleh USD40 ribu dari hasil penggalangan dananya tersebut.

"Lemari ini adalah cara saya memberikan kembali apa yang saya punya ke komunitas. Setiap kali saya menggalang dana, saya membuka closet ini. Para wanita pasti menyukainya dan mau membayarnya dengan harga mahal," kata Theresa.

 

Rekomendasi