Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Peristiwa Pertempuran di Tebing Tinggi, Perjuangan Berdarah Pemuda Indonesia Melawan Penjajah

Peristiwa Pertempuran di Tebing Tinggi, Perjuangan Berdarah Pemuda Indonesia Melawan Penjajah

Peristiwa Pertempuran di Tebing Tinggi, Perjuangan Berdarah Pemuda Indonesia Melawan Penjajah

Pasca kemerdekaan menjadi masa-masa pemuda Indonesia berjuang untuk mengusir penjajah kolonial Jepang.

Rampas Senjata Jepang

Pemuda-pemuda di Sumatra Utara khususnya daerah Tebing Tinggi menjadi medan pertempuran melawan penjajah Jepang. Pada awalnya beberapa tempat di Tebing Tinggi memang menjadi tempat perkumpulan tentara Jepang. Maka dari itu, insiden perampasan senjata sering terjadi di wilayah tersebut.

Awal Mula Pertempuran

Mengutip buku "Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sumatera Utara", peristiwa ini berawal para pemuda berusaha merampas senjata milik Jepang dengan damai. Namun, terjadi gesekan antara dua kubu tersebut dan akhirnya pertempuran tak dapat dibendung. Dari pertempuran melawan pemuda Indonesia, pihak Perwira Jepang yang terbunuh. Pertempuran ini terjadi di beberapa wilayah seperti di Dolok Merawan dan di Paya Pinang.

Keadaan Semakin Keruh

Pertempuran ini membuat pihak sekutu dan Belanda tak tinggal diam. Mereka terus memperalat Jepang untuk melawan dan menindas para pemuda Indonesia di Tebing Tinggi. Kemudian, keadaan semakin keruh dan terjadilah pertempuran dahsyat ketika empat perwira Jepang dinyatakan hilang setelah melakukan perundingan antara Indonesia dan Jepang.

Mengutip dari sumber serupa, penculikan ini terjadi tanpa sepengetahuan pemuda Indonesia. Diduga, skenario ini dilakukan oleh kaki tangan NICA untuk memperkeruh suasana dan mengadu domba. Dari situlah, pecah pertempuran berdarah dan dikenang sebagai "Peristiwa Tebing Tinggi 13 Desember 1945". Tepat di hari itu, tentara Jepang mengepung Bukit Tinggi dan mengerahkan 1.200 tentara untuk balas dendam.

Meriam Pertama

Pertempuran dimulai dengan tembakan meriam yang dilakukan oleh tentara Jepang di Bukit Tinggi. Hal tersebut menjadi penanda bahwa medan pertempuran telah dibuka dan saatnya pemuda Indonesia untuk berjuang mempertahankan kedaulatan negara Indonesia. Dalam pertempuran itu, tentara Jepang melakukan pembantaian tanpa ampun kepada rakyat Indonesia dan juga para pemuda.

Pembantaian Massal

Teror Jepang pun tak hanya sampai situ saja, mereka juga melakukan serangkaian serangan dan tembakan kepada rakyat dengan membabi buta. Markas pemuda pun juga digempur dengan keji dan para pemuda banyak yang tidak selamat. Pertempuran ini berlangsung hingga 14 Desember 1945. Kondisi Tebing Tinggi pun mencekam, sunyi, tanpa ada kehidupan. Hanya terdapat orang-orang Cina saja di sana. Korban yang gugur pada pertempuran ini mencapai 3.000 jiwa.

Mereka yang menjadi korban pembantaian Jepang di antaranya Jaksa Suleman, Harun Al-Rasyid, Yacub Lubis, Tahir Hasyim, Deplot Sundaro, Arif Hasibuan. Mereka adalah tokoh-tokoh pimpinan dari Barisan Pemuda Indonesia dari Tebing Tinggi. Petempuran ini menjadi salah satu yang paling kelam dalam sejarah Indonesia khususnya di Tebing Tinggi.

Terus Dikenang

Hingga saat ini, sejarah pun masih terus menyala. Peristiwa 13 Desember 1945 di Tebing Tinggi diabadikan dalam sebuah tugu peringatan. Tugu ini kemudian menjadi ikon kota tersebut dan menjadi salah satu bukti sejarah kelam di masa lampau. Mengutip pariwisatasumut.net, pada tugu ini ada tulisan "Esa Hilang Dua Terbilang" yang artinya kota tua dan historis itu tak akan pernah hilang dan terus ada mengikuti zaman.

Mengenang Momen Pengumuman Hari Lebaran di Masa Awal Kemerdekaan Indonesia
Mengenang Momen Pengumuman Hari Lebaran di Masa Awal Kemerdekaan Indonesia

Semua masyarakat pribumi larut dalam kegembiraan dalam merayakan kemenangan.

Baca Selengkapnya
Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, Ini Sejarah dan Para Tokoh Penggagasnya
Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, Ini Sejarah dan Para Tokoh Penggagasnya

Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah sebuah upaya besar dalam perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.

Baca Selengkapnya
Kisah Burung Berpangkat Letnan Paling Berjasa Bagi Pejuang Indonesia Sampai Tewas Ditembak di Hadapan Komandan
Kisah Burung Berpangkat Letnan Paling Berjasa Bagi Pejuang Indonesia Sampai Tewas Ditembak di Hadapan Komandan

Bukan hanya manusia, ini sosok binatang paling berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Siapa yang dimaksud?

Baca Selengkapnya
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
PPS Pemilu adalah Panitia Pemungutan Suara, Ketahui Tugas dan Masa Kerjanya
PPS Pemilu adalah Panitia Pemungutan Suara, Ketahui Tugas dan Masa Kerjanya

PPS membantu kelancaran penyelenggaraan pemilu di Indonesia.

Baca Selengkapnya
Persaudaraan Jangan Sampai Memudar karena Tidak Bisa Menerima Hasil Pemilu
Persaudaraan Jangan Sampai Memudar karena Tidak Bisa Menerima Hasil Pemilu

Masyarakat Indonesia patut bersyukur dan bersuka cita karena telah melewati proses Pemilu 2024

Baca Selengkapnya
Kisah Perjuangan Kyai Makmur, Pahlawan Kemerdekaan dari Pemalang yang Tewas Tertembak Belanda
Kisah Perjuangan Kyai Makmur, Pahlawan Kemerdekaan dari Pemalang yang Tewas Tertembak Belanda

Kyai Makmur ditembak Belanda karena tidak mau diajak bekerja sama.

Baca Selengkapnya
Pemenang Pemilu Tahun 1955, Berikut Sejarahnya
Pemenang Pemilu Tahun 1955, Berikut Sejarahnya

Pemilu 1955 di Indonesia merupakan salah satu tonggak sejarah penting dalam proses demokratisasi dan konsolidasi negara setelah merdeka pada tahun 1945.

Baca Selengkapnya
Kisah Bu Dar Mortir, Jadi Pahlawan Nasional Berkat Sediakan Makanan untuk Prajurit
Kisah Bu Dar Mortir, Jadi Pahlawan Nasional Berkat Sediakan Makanan untuk Prajurit

Ia tidak mengangkat senjata, tapi perannya sangat besar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia

Baca Selengkapnya
Ini 6 Syarat Pemilih dalam Pemilu 2024 Sesuai Undang-Undang, Ketahui Batas Waktu Memilih di TPS
Ini 6 Syarat Pemilih dalam Pemilu 2024 Sesuai Undang-Undang, Ketahui Batas Waktu Memilih di TPS

Berikut enam syarat pemilih dalam Pemilu 2024 sesuai dengan Undang-Undang berlaku.

Baca Selengkapnya