Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Penyebab Anak Sering Menangis dan Mengamuk Beserta Cara Mengatasinya

Penyebab Anak Sering Menangis dan Mengamuk Beserta Cara Mengatasinya Ilustrasi anak marah. ©Shutterstock.com/ ollyy

Merdeka.com - Membesarkan anak bukanlah hal yang mudah, terutama karena bagi semua orang orang itu menjadi hal pertama kali dan terkadang banyak orang tidak mengambil pelatihan menjadi orang tua.

Ketika memiliki anak, orang tua juga belajar bagaimana memahami perilaku seseorang dan mengajarinya banyak hal. Terkadang perasaan seorang anak sulit ditebak dan menanggapinya butuh banyak wawasan. Anak sering menangis dan mengamuk menjadi persoalan utama dalam masa pertumbuhannya.

Baca juga: Arti Mimpi Marah Marah Bisa Jadi Pertanda Buruk

Amukan anak bisa berupa menangis keras, meronta, berguling di lantai, berteriak dan bahkan menahan napas. Kondisi ini disebut dengan tantrum. Berikut selengkapnya merdeka.com merangkum selengkapnya tentang tantrum serta penyebab anak sering menangis dan mengamuk:

Penyebab Anak Sering Menangis dan Mengamuk

Penyebab anak sering menangis dan mengamuk bisa karena ia sedang dalam masa tantrum. Temper tantrum adalah cara seorang anak kecil mengeluarkan emosi yang kuat sebelum dia mampu mengekspresikannya dengan cara yang dapat diterima secara sosial. Ini adalah hal yang normal dan wajar, bahkan bisa berkontribusi untuk kesehatan emosionalnya.

Sebuah studi 2011 yang diterbitkan dalam Journal of Research and Personality menemukan bahwa ada banyak keadaan di mana menangis membantu orang merasa lebih baik.

Temper tantrum sering dimulai pada usia sekitar 1 tahun dan berlanjut hingga usia 2 hingga 3 tahun. Temper tantrum mulai berkurang saat seorang anak menjadi lebih mampu mengomunikasikan keinginan dan kebutuhannya.

Memberi anak apa yang mereka inginkan untuk menghentikan amukannya adalah hal yang umum, seperti memberi anak mainan agar mereka berhenti menangis. 

Tetapi respons itu mengajarkan anak bahwa mereka bisa mendapatkan mainan dengan menangis, sehingga mereka cenderung lebih sering mengamuk. Alih-alih, mencari pemicu yang menyebabkan anak Anda bertindak dan mengarahkan mereka ke cara yang lebih dewasa untuk mengekspresikan perasaan mereka akan membantu. 

Apa Saja Kemungkinan Penyebab Anak Tantrum

Penyebab yang mendasari kenapa anak sering menangis dan mengamuk bisa karena beberapa hal di bawah ini:

Anak Kelelahan

Penyebab anak sering menangis dan mengamuk bisa karena mereka terlalu lelah. Menjadi gelisah dapat menyebabkan amukan dan ledakan lain dari perilaku yang tampaknya tidak rasional.

Anda tidak dapat mencegah keletihan yang memicu amukan anak 100% sepanjang waktu, tetapi Anda dapat meminimalkannya dengan mengatur jadwal tidur mereka secara rutin.

Anda sebaiknya merencanakan tidur siang dua kali sehari sampai anak berusia 15 hingga 18 bulan, kemudian tidur siang satu kali sehari sampai anak  berusia sekitar 3 atau 4 tahun.

Anak Lapar

ilustrasi anak makan

©2021 Merdeka.com

Kelaparan mungkin menjadi penyebab anak sering menangis dan mengamuk. Jika anak sudah lama tidak makan dan suasana hatinya sedang menurun dengan cepat, cobalah menawarkan makanan untuknya. Menyimpan beberapa camilan sehat dapat dengan cepat menahan air mata saat Anda jauh dari rumah.

Anak Terlalu Terstimulasi

Tempat bermain yang menyenangkan, seperti rumah pentas atau pesta ulang tahun, adalah tempat yang diinginkan anak. Namun, pada titik tertentu, hiruk pikuk bisa menjadi terlalu berat bagi beberapa anak. Tidak jarang seorang anak tidak dapat mengungkapkan apa yang salah dalam situasi ini.

Jika si kecil menangis tanpa alasan dan Anda berada di lokasi yang bising atau sibuk, cobalah beri mereka istirahat. Bawa mereka ke luar atau ke ruangan yang lebih tenang dan biarkan mereka duduk selama beberapa menit untuk menenangkan diri.

Untuk beberapa anak, istirahat mungkin tidak cukup. Jika anak kesal dan tidak dihibur atau ditenangkan, mungkin yang terbaik adalah membawanya pulang lebih awal.

Anak Stres

menangis

©2014 Merdeka.com/Shutterstock/ Happy Together

Stres adalah alasan besar untuk menangis, terutama pada anak yang lebih besar. Sebagai orang tua yang harus membayar tagihan dan menjalankan rumah tangga yang sibuk, Anda mungkin bertanya-tanya apa yang membuat seorang anak stres.

Jawabannya adalah, banyak hal.  Anak-anak yang jadwalnya terlalu padat bisa menjadi sangat stres. Semua anak membutuhkan waktu luang untuk bermain kreatif, juga untuk bersantai.

Anak Ingin Melarikan Diri dari Tuntutan

Ketika anak benar-benar tidak ingin melakukan sesuatu seperti menyimpan mainan mereka atau bersiap-siap untuk tidur Anda mungkin melihat mereka meneteskan air mata. Air mata ini mungkin berasal dari kesedihan sejati seorang anak, tetapi bisa juga merupakan tipuan. Jika anak membuat Anda terlibat dengan mereka, meskipun hanya sebentar, mereka dapat menunda melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan.

Validasi perasaan anak dengan mengatakan, "Aku tahu sulit untuk mengambil mainan ketika kamu ingin terus bermain." Pada saat yang sama, hindari terlibat dalam diskusi panjang atau perebutan kekuasaan.

Tawarkan satu peringatan, jika perlu, berikan konsekuensi jika mereka tidak mematuhinya. Coba katakan sesuatu seperti, “Jika kamu tidak mengambil mainannya sekarang, kamu tidak akan bisa bermain dengannya setelah makan siang.” Jika anak tidak mematuhi, tindak lanjuti dengan konsekuensi.

Penting untuk mengajari anak bahwa meskipun mereka merasa sedih atau marah, mereka tetap dapat mengikuti aturan. Setiap kali anak marah karena permintaan yang dibuat, ini adalah kesempatan untuk membantu mereka belajar mengambil tindakan positif bahkan ketika mereka merasa buruk.

Anak Ingin Perhatian

tantrum

©Parents.com

Terkadang sepertinya air mata keluar entah dari mana. Satu menit anak bermain dengan gembira, Anda berbalik sejenak, dan mereka terisak-isak.

Anak tahu bahwa menangis adalah cara yang bagus untuk mendapatkan perhatian. Perhatian bahkan ketika itu negatif memperkuat perilaku anak. Jika Anda merespons dengan mengatakan "Berhenti berteriak," atau "Mengapa kamu menangis sekarang?" justru dapat mendorong tantrum anak untuk terus berlanjut.

Abaikan perilaku mencari perhatian bila memungkinkan. Hindari melakukan kontak mata dan jangan memulai percakapan ketika anak sedang mencari perhatian Anda. Akhirnya, mereka akan melihat bahwa tidak menyenangkan untuk membuat ulah atau berteriak keras ketika mereka tidak memiliki sasaran.

Tunjukkan pada anak Anda bahwa mereka bisa mendapatkan perhatian dengan bermain dengan baik, menggunakan kata-kata yang baik, dan mengikuti aturan. Tawarkan pujian yang sering untuk perilaku ini dan anak akan cenderung tidak mencoba dan menggunakan air mata untuk menarik perhatian Anda.

Anak Menginginkan Sesuatu

Anak kecil tidak mengerti perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Ketika mereka menginginkan sesuatu, mereka sering menegaskan bahwa mereka membutuhkannya dan sekarang juga. 

Jika Anda menyerah setelah mengatakan tidak entah karena Anda merasa bersalah atau tidak tahan lagi mendengarkan tangisan Anda sedang mengajari anak bahwa mereka dapat menggunakan air mata untuk memanipulasi Anda.

Meskipun penting untuk menunjukkan empati, jangan biarkan air mata anak mengubah perilaku. Katakan hal-hal seperti, "Aku mengerti kamu sedang merasa kesal sekarang," atau "Aku merasa sedih kita tidak bisa pergi ke taman juga," tetapi tegaskan bahwa keputusan ada pada Anda.

Secara proaktif ajari anak cara yang tepat secara sosial untuk mengatasi perasaan mereka ketika mereka tidak mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Mewarnai gambar, atau mengatakan, "Aku benar-benar sedih," atau menarik napas dalam-dalam adalah beberapa keterampilan mengatasi yang mungkin membantu mereka mengatasi emosi yang tidak nyaman.

(mdk/amd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP