Menguak Asal-Usul Taman Nasional di Indonesia, Sudah Ada sejak Zaman Kerajaan Sriwijaya
Taman Srikestra ini berada di dataran cukup tinggi serta jauh dari pemukiman kota.
Taman Srikestra ini berada di dataran cukup tinggi serta jauh dari pemukiman kota.
Menguak Asal-Usul Taman Nasional di Indonesia, Sudah Ada sejak Zaman Kerajaan Sriwijaya
Taman Nasional (TN) merupakan sebuah kawasan hutan yang menjadi habitat bagi flora dan fauna yang tergolong langka dan berada di ambang kepunahan. Selain itu, Taman Nasional juga dimanfaatkan sebagai destinasi wisata edukasi.
Namun, tidak banyak tahu soal sejarah lahirnya konsep Taman Nasional dan bagaimana kisahnya. Usut punya usut, konsep Taman Nasional sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya yang berusia lebih dari ribuan tahun!
Taman Nasional ini berada di Kampung Talang Tuo, berjarak 6 km arah Barat Daya Bukit Siguntang. TN ini lahir atas pemikiran Sri Baginda Sri Jayanasa yang berniat menanam beragam jenis pohon yang bermanfaat bagi kehidupan.
Ingin tahu lebih dalam terkait asal-usul lahirnya konsep Taman Nasional di Indonesia? Simak informasinya yang dirangkum merdeka.com (18/6) dari berbagai sumber berikut ini.
Taman Nasional itu Bernama Sriksetra
Sri Baginda Sri Jayanasa atau dikenal Dapunta Hyang Srijayanasa sudah mencanangkan konsep Taman Nasional yang diberi nama Taman Sriksetra. Ia sengaja memanfaatkan lahan untuk ditanam berbagai jenis pohon yang bisa dimanfaatkan ketika panen tiba.
Taman Srikestra ini sengaja dibangun agar tidak terjadi erosi dan menjadi tempat peresapan air tanah bagi penduduk Kota Palembang saat itu. Maka tak heran jika lokasinya berada di bukit atau di dataran tinggi.
Selain mendirikan Taman Nasional, Sri Jayanasa juga membangun fasilitas lainnya yaitu bendungan serta kolam air yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar.
Melansir dari arkenas.kemdikbud.go.id, Taman Sriksetra ini dibangun pada tahun 684 masehi atau sudah berusia lebih dari 1.000 tahun.
Bermanfaat Bagi Sesama
Pencanangan Taman Sriksetra oleh Sri Jayanasa ini tentunya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Artinya, seluruh isi dari Taman Sriksetra ini bisa bermanfaat bagi sesama.
Melansir dari arkenas.kemdikbud.go.id, terdapat sebuah potongan kalimat bertuliskan "Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian bambu haur, waluh, dan pattum dan sebagainya".
Berkaitan dengan Konsep Kepercayaan
Dalam konsep keagamaan Kerajaan Sriwijaya tidak lepas dari implementasi agama Buddha yang mengusung konsep makro kosmos atau alam semesta dengan mikro kosmos atau dunia manusia. Kota Sriwijaya sendiri merupakan bagian dari mikro kosmos.
Sementara itu, tempat tertinggi di Sriwijaya adalah Bukit Siguntang yang dianggap sebagai Gunung Meru. Manusia bertempat tinggal di sebelah selatan bukit di daerah pinggiran Sungai Musi. Kemudian rumah ibadah diletakkan di sebelah utara dengan kontur tanah yang tinggi.
Taman Srikestra ini berada di dataran cukup tinggi serta jauh dari pemukiman kota. Hal ini sebuah upaya untuk konservasi lahan agar tidak terjadi erosi dan menjadi sumur resapan air bagi penduduk Kota Palembang.
Di lokasi taman ini juga mengalir dua anak sungai yang mengarah ke kota yaitu Sungai Kedukan dan Sungai Sekanak.