Mengintip Pembuatan Kain Sasirangan, Warisan Kerajaan Dipa Sebagai Penyembuh Luka
Merdeka.com - Di balik keindahan helaian kain ini para pengrajin dengan teliti menyelesaikan proses pembuatan kain sasirangan. Sasirangan merupakan kain yang unik, asal usulnya punya sejarah yang panjang di dataran Borneo terutaman Kota Banjarmasin. Kini kain sasiringan telah menjadi ikon kain khas Banjarmasin yang masih dilestarikan dengan sedikit sentuhan modernitas zaman.
Uniknya, kain sasiringan dulunya digunakan sebagai sarana penyembuh luka. Penyakit seperti demam, gatal-gatal, sakit kepala, bahkan masyarakat adat Suku Banjar menggunakannya sebagai pengusir roh jahat.
Warna kain sasirangan cukup beragam seperti kuning, merah, hijau, hitam, ungu, dan cokelat. Sebelum adanya pewarna sintetis, warna-warni kain sasiringan berasal dari pewarna alami.

©2021 Merdeka.com/Rif`at
Bagi suku Banjar, setiap warna yang dibuat akan menentukan jenis khasiat sebagai sarana pengobatan. Kain sasirangan yang berwarna kuning digunakan untuk mengobati penyakit kuning. Sasirangan yang berwarna merah digunakan sebagai obat sakit kepala dan sulit tidur.
Selain itu sasirangan berwarna hijau digunakan untuk mengobati kelumpuhan. Kain sasirangan yang berwarna hitam untuk mengobati penyakit demam dan kulit gatal-gatal. Kain sasirangan berwarna ungu untuk mengobati sakit perut. Sedangkan kain sasirangan yang berwarna cokelat untuk mengobati penyakit stres.
Namun kepercayaan Suku Banjar ini perlahan telah memudar seiring berbagai jenis obat modern yang telah beredar. Meski begitu, kain sasirangan masih diproduksi sebagai warisan tanah Banjar.

©2021 Merdeka.com/Rif`at
Proses pembuatan kain sasirangan cukup rumit dan masih mempertahankan cara tradisional. Seperti namanya, kain sasirangan berasal dari kata menyirang atau proses menjelujur menggunakan perintangan sekaligus proses pewarnaan.
Helaian kain lebar harus diikat di beberapa sudut untuk menciptakan motif tertentu. Beberapa motif populer kain sasirangan ialah yaitu motif lajur, motif ceplok, dan motif variasi.
Saat ini zat pewarna yang digunakan berasal dari bahan kimia. Dipilih karena memiliki daya lekat ke kain yang lebih kuat dan tidak mudah luntur. Namun awal mula penciptaannya, kain sasirangan menggunakan bahan pewarna alami seperti biji buah gandaria, kunyit, jahe, hingga kulit rambutan.

©2021 Merdeka.com/Rif`at
Melihat sejarahnya, kain sasirangan dahulu merupakan kain yang sakral. Kain sasirangan bermula pada abad ke 12 hingga 14 Masehi di Kalimantan Selatan. Seorang Patih Lambung Mangkurat raja Kerajaan Dipa bertemu dengan Putri Junjung Buih.
Perjanjian dibuat dengan syarat menikah dibuatkan sebuah istana dalam sehari yang hanya dikerjakan oleh 40 bujangan. Selain itu, membuat kain sasirangan dalam tempo sehari yang dikerjakan oleh 40 perawan. Hingga akhirnya terpenuhi dan keduanya menikah membawa kain sasirangan sebagai kain kerajaan.
Tahap selanjutnya dari proses pembuatan kain sasirangan ialah menjemur di bawah terik matahari. Setidaknya ada 22 motif kain sasirangan yang saat ini menjadi aset kain khas Banjar.

©2021 Merdeka.com/Rif`at
Awal mulanya produksi kain sasirangan begitu terbatas. Kain sasirangan dibuat hanya berdasarkan kepentingan adat maupun kerajaan seperti ritual hingga penyembuhan. Namun saat ini kain sasirangan memiliki fungsi sebagai kain ritual, kain tradisional, hingga kain modern. Bahkan kain sasiringan saat ini menjadi komoditas kerajinan tangan khas Banjar.
Makna yang terkandung di dalam motif kain sasirangan beragam. Mulai dari motif Sari Gading melambangkan martabat, Gigi Haruan bermakna pemikiran yang tajam, Tampuk Manggis berarti kejujuran, dan masih ada 19 motif lain sebagai ikon khas Banjar. (mdk/Ibr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya