Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Apa itu Cancel Culture dan Kaitannya dengan Baik atau Buruk, Perhatikan Ini

Mengenal Apa itu Cancel Culture dan Kaitannya dengan Baik atau Buruk, Perhatikan Ini aksi boikot Facebook. ©2018 The Guardian

Merdeka.com - Sebuah acara televisi akan “dicancel” jika mendapat rating yang sangat buruk. Untuk waktu yang lama, arti istilah “cancel” belum terlalu rumit, namun dalam dekade terakhir, istilah ini memperoleh definisi baru, terutama dalam konteks istilah di internet.

Saat ini, segala sesuatu dan setiap orang dapat “dicancel” jika internet secara kolektif memutuskan bahwa itu perlu. Pengertian kolektif di sini penting karena pembatalan sesuatu sebenarnya adalah hasil dari gerakan massa, kolektif dalam bentuk dan kekuatan.

JK Rowling “dicancel” karena pandangan transphobiknya. Cardi B dan Nicki Minaj “dicancel” karena membuat komentar homofobia. Trump “dicancel” karena perilaku dan kata-katanya yang rasis dan tidak pantas terhadap wanita, orang kulit berwarna dan imigran. Kanye West “dicancel” karena mengatakan perbudakan adalah “pilihan” dan karena mendukung Trump.

Jadi apa itu sebenarnya yang dimaksud cancel culture yang kini banyak terjadi di media sosial? Berikut apa itu cancel culture dan apakah itu baik atau buruk:

Apa itu Cancel Culture?

Menurut Wikipedia ada dua istilah varian untuk tren tersebut. Istilah call-out culture adalah salah satu bentuk penghinaan publik yang terjadi di media sosial (biasanya Twitter) yang bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban masyarakat dengan cara menarik perhatian pada perilaku yang dianggap bermasalah. 

Sedangkan cancel culture adalah bentuk boikot di mana seseorang, biasanya seorang seleb, telah berbagi pendapat yang meragukan, atau sekali lagi, memiliki perilaku bermasalah yang disebut di media sosial. Orang itu kemudian "dicancel", yang pada dasarnya berarti mereka diboikot oleh banyak orang, terkadang menyebabkan penurunan besar-besaran dalam basis penggemar dan karier orang tersebut menurut laman Inside Hook.

Ini biasanya dimulai ketika seseorang mengatakan atau mengungkapkan pendapat yang rasis/seksis/homofobik/transfobik/xenofobik atau yang dianggap bermasalah lainnya oleh warga internet. 

Itu juga bisa sesuatu di masa lalu mereka yang jauh yang telah ditemukan di postingan lama, namun membawa perhatian baru padanya. Ini bisa berupa tangkapan layar tweet lama atau video lama yang memunculkan kembali perilaku bermasalah yang dimaksud. 

Jadi apakah Cancel Culture itu baik atau buruk?

Nah, ini rumit. Mengkritisi seseorang, terutama seseorang yang memiliki pengaruh besar, atas perilaku atau idenya yang berbahaya adalah sesuatu yang harus terus kita lakukan. 

Call-out culture telah sangat membantu orang-orang kulit berwarna dan komunitas LGBTQIA+ dalam menjaga ruang mereka bebas dari orang-orang yang menyebalkan.

Tetapi kemudian banyak juga yang mengemukakan bahwa mentalitas massa dari cancel culture dapat menjadi racun, dan seperti yang telah terjadi, kampanye media sosial massa terhadap seseorang ini sebenarnya dapat menghalangi mereka untuk tumbuh dan belajar dari kesalahan mereka. Alih-alih "membully dan memboikot" mereka, kita harus mendidik mereka dan membuka ruang percakapan yang sehat.

(mdk/amd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP