Memanen Buah Pala Banda, Rempah Berdarah Pengundang Penjajah

Kamis, 25 November 2021 19:00 Reporter : Ibrahim Hasan
Memanen Buah Pala Banda, Rempah Berdarah Pengundang Penjajah Buah Pala Banda. ©2021 Merdeka.com/Eddie Likumahua

Merdeka.com - Pala dan Banda, sejak lama telah menjadi perbincangan yang mendunia. Sejarah buah mungil ini seakan tak lekang oleh waktu. Berkat emas hitam ini Kepulauan Banda, Maluku Tengah dikenal hingga seantero dunia. Sebagaimana sejarah mengungkapkan, pala Banda telah mengundang para penjajah berdatangan ke Nusantara. Rakyat Banda-lah yang menjadi korban kebengisan para kolonial.

Mengikuti kegiatan warga banda memanen buah pala dapat menjadi refleksi sejarah buah pala di masa lalu. Kini buah pala di Banda dapat tumbuh dengan tenang. Perkebunan pala Banda kini dikelola oleh warga sekitar, terbebas dari monopoli dagang dan kekejaman kekuasaan penjajah.

Kilas balik mengenal sejarah pala Banda sangat mengesankan. Buah sebesar lemon ini punya garis sejarahnya di Nusantara dan dunia jauh di abad ke-6. Pala adalah jiwa, sejarah, dan ekonomi kepulauan Banda.

buah pala banda

©2021 Merdeka.com/Eddie Likumahua


Buah pala (Myristica fragrans) yang sudah masak akan berwarna kuning tua. Berkaca kepada sejarah, buah pala memang menjadi penyebab bertubi-tubi peperangan berdarah antara warga Banda dan para penjajah. Melihat buah pala ini juga nampak unik, buah pala punya selaput berwarna merah darah.

Pala mulai tertuang dalam sejarah pada abad ke-6 yang telah mencapai Byzantium (kini Romawi Timur), jaraknya 12 ribu kilometer dari Banda. Sebagaimana dokter persia, Ibnu Sina menuliskan “jansi ban” atau kacang dari Banda. Para pedagang Arab sudah begitu lama memperdagangkannya dan mengirimnya ke Venesia untuk kemudian dikirim dan dihidangkan di meja-meja para bangsawan Eropa.

Hebatnya, pada abad ke-14 pala dihargai sangat fantastis. Sejarah Jerman mengungkapkan setengah kilogram pala dihargai sama dengan tujuh sapi jantan dewasa gemuk, atau seven fat oxen.

buah pala banda

©2021 Merdeka.com/Eddie Likumahua

Buah pala dari perkebunan akan segera dibelah menjadi dua bagian. Memperlihatkan fuli atau salut biji yang berwarna merah darah, dan biji pala emas hitam dari Banda.

Pala yang telah terbelah akan segera dikeringkan untuk mempermudah melepaskan fuli dari biji pala. Seluruh bagian buah pala dapat dimanfaatkan sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan.

Tanaman pala merupakan tanaman yang cukup lama pertumbuhannya hingga masa panen. Panen pertama dilakukan tujuh sampai sembilan tahun setelah pohonnya ditanam dan mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 tahun. Pohon pala dapat tumbuh hingga 20 meter dan usianya bisa mencapai ratusan tahun.

buah pala banda

©2021 Merdeka.com/Eddie Likumahua

Pada tahun 1453, Turki Usmani mengembargo Konstantinopel dan menyebabkan jalur rempah dari Banda ke Venesia terputus hingga suplai pala ke Eropa terhenti yang menyebabkan Eropa melakukan perburuan mencari asal-usul buah Pala.

Hingga bangsa Portugis menjejakkan kakinya di Banda dan melakukan monopoli perdagangan terhadap komoditas pala dengan membangun bentang-bentang di Banda. Pada tahun 1605, disusul Belanda datang untuk menyingkirkan Portugis dan menguasai Pala.

buah pala banda

©2021 Merdeka.com/Eddie Likumahua

Lahirlah Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang mengharuskan warga Banda untuk menjual pala dan bunga pala hanya kepada VOC secara eksklusif. Tetapi warga Banda masih tetap menjual hasil buminya kepada pedagang dari Jawa, Makassar, dan Inggris. VOC berusaha menggunakan kekuatan dan diplomasi di selama bertahun-tahun berikutnya guna memperoleh kekuasaan atas Banda sepenuhnya.

Buah pala patut disebut sebagai pengundang penjajah. Tanpa buah bala, bisa jadi Kepulauan Banda takkan pernah terdengar namanya. Atau lebih jauh, tidak akan tertuang sejarah pala dan Banda dari peradaban umat manusia. [Ibr]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini