Jadi Ikon Kota Sejak 2019, Ini 3 Fakta Menarik Tarian Ahoi Asal Medan
Merdeka.com - Tak hanya tarian daerah, Indonesia juga punya jenis-jenis tarian yang jadi ikon Nusantara, seperti tarian Poco-poco dan Gemu Famire yang sudah dikenal luas di masyarakat.
Pada 2019 lalu, Kota Medan menampilkan tarian nasional baru yang kemudian diresmikan menjadi ikon Kota Medan, yaitu Tari Ahoi. Tarian ini di-launching pertama kali di sebuah acara bertajuk Seberapa Indonesianya Kamu? yang juga sebelumnya sudah diselenggarakan di Jakarta dan Bandung.
Acara ini kemudian dijadikan momen oleh Pemerintah Kota Medan yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kota Medan, Dinas Pertamanan Kota Medan, serta banyak komunitas lokal Kota Medan untuk menciptakan tarian khas yang kemudian diresmikan jadi ikon kota.
Berikut fakta menarik Tarian Ahoi yang belum banyak diketahui.
Hasil Kreasi Dinas Pariwisata Kota Medan

Sumber: medantourism.pemkomedan.go.id ©2020 Merdeka.com
Melansir dari laman resmi Pemkot Medan, tarian ini diresmikan dalam acara Festival Pesona Lokal yang digelar pada 5 Agustus 2019. Acara ini lahir dari kegelisahan akan adanya intoleransi akibat perbedaan agama, suku, dan budaya yang sedang marak di Tanah Air.
Tarian yang diciptakan langsung oleh Dinas Pariwisata Kota Medan ini telah beberapa kali diubah sedemikian rupa agar bisa diikuti oleh seluruh kalangan dari anak-anak sampai lanjut usia.
Meski lahir dari kreasi Dinas Pariwisata Kota Medan, tarian ini sebelumnya sudah ada, namun dibuat format baru sehingga tarian yang tadinya hanya menggunakan musik dan lagu Melayu, kini berubah lebih meriah dengan mengolaborasikan sejumlah tarian daerah di Sumatra Utara, seperti musik dan lagu dari tarian asal Toba, Tapanuli selatan (Tapsel) dan Karo.
Awal Terciptanya Tari Ahoi

Sumber: medantourism.pemkomedan.go.id ©2020 Merdeka.com
Melansir dari ilmubudaya, Tari Ahoi awalnya adalah salah satu jenis tarian khas yang dimiliki oleh suku Melayu di Kabupaten Langkat. Tari ini juga disebut Mengirik Padi, yang menceritakan tentang kegiatan mengirik padi para petani saat masa panen tiba.Tari Mengirik Padi pada masyarakat Melayu merupakan hasil kegiatan budaya yang diwujudkan dalam imitasi gerak-gerak kegiatan bertani ketika panen. Para petani mengirik padinya sendiri atau melakukannya secara berkelompok. Mereka biasanya melakukan pekerjaan mengirik padi sambil melantunkan dedeng (nyanyian khas masyarakat setempat) dan sambil menggerakkan tubuh secara berirama.Setiap gerakan tersebut lah yang menginspirasi para petani untuk membuat gerakan rampak yang merupakan awal terciptanya Tari Ahoi.
Tari Ahoi sebagai Simbol Persatuan

Sumber: Akun Youtube Dinas Pariwisata Kota Medan ©2020 Merdeka.com
Tak sekadar tarian hiburan, Tari Ahoi juga melambangkan keberagaman yang identik dengan Bhinneka Tunggal Ika, serta implementasi dari semangat patriotisme dan nasionalisme. Persembahan tarian Ahoi ini merupakan refleksi dari semangat perjuangan yang menjadi semangat persatuan Indonesia.
(mdk/far)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya