Mengenal Irene Sukandar, Grandmaster Catur Peringkat 9 Dunia yang Berjuang Pakai Biaya Sendiri

Irene Kharisma Sukandar, pecatur wanita Indonesia, berhasil meraih posisi sembilan besar dunia di Kejuaraan Catur Cepat FIDE yang berlangsung di New York City.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Mengenal Irene Sukandar, Grandmaster Catur Peringkat 9 Dunia yang Berjuang Pakai Biaya Sendiri
Konsentrasi penuh menjadi kunci Irene Sukandar bisa meraih gelar Grand Master. Ya, Grand Master ia dapatkan pada 2009. Jam terbang GM Irene di dunia catur cukup tinggi hingga tidak heran kini (© 2025 Liputan6.com)

Nama Irene Kharisma Sukandar semakin populer di kancah catur internasional setelah berhasil meraih prestasi gemilang dengan menempati posisi sepuluh besar pada Kejuaraan Catur Cepat FIDE yang berlangsung di New York City. Meskipun mencapai prestasi yang luar biasa, perjalanan Irene tidaklah mudah. Ia terpaksa membiayai sendiri partisipasinya dalam berbagai turnamen global tanpa adanya dukungan dari sponsor maupun bantuan pemerintah.

Sebagai seorang atlet catur wanita yang berkompetisi dalam dunia yang didominasi oleh pria, Irene menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan dedikasi, ia mampu mencapai level elit di dunia catur. Irene berhasil meraih total 7,5 poin dari 11 babak, yang juga meningkatkan ratingnya sebesar 21 poin dengan performa yang sangat mengesankan, yaitu 2.494.

Namun, di balik pencapaian tersebut, Irene harus menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal pendanaan. "Puji TUHAN! Peringkat 9 besar dunia! Kejuaraan Dunia Catur Cepat, New York City - USA," ungkap Irene melalui akun Instagram-nya @irene_sukandar.

Awal Mula Perjalanan Karier Irene Sukandar

Irene lahir di Jakarta pada tanggal 7 April 1992 dan telah menunjukkan minatnya dalam dunia catur sejak usia muda. Ketertarikan tersebut muncul ketika ia menyaksikan ayahnya mengajarkan kakaknya, Kaisar Jenus Hakiki, cara bermain catur. Menyadari bakat yang dimiliki putrinya, ayahnya mendaftarkan Irene ke Sekolah Catur Utut Adianto yang terletak di Bekasi pada tahun 1999.

Di sekolah catur ini, Irene berlatih dengan giat setiap hari Senin hingga Jumat selama tiga hingga empat jam. Konsistensi dalam latihan tersebut akhirnya membuahkan hasil, di mana ia mulai meraih prestasi saat masih di bangku sekolah dasar.

Pada usia 11 tahun, Irene telah menunjukkan prestasi yang sangat membanggakan dengan berhasil meraih dua medali perak untuk Indonesia dalam ajang SEA Games yang diadakan di Vietnam pada tahun 2003. Prestasi ini menjadi titik awal bagi karier catur internasionalnya yang cemerlang.

Menjadi Grand Master Internasional Wanita Pertama Indonesia

Seiring berjalannya waktu, kemampuan Irene di bidang catur semakin terlihat. Ketika masih di sekolah menengah pertama, ia berhasil mendapatkan gelar Master dari Federasi Catur Dunia (FIDE). Kariernya melesat pesat saat berusia 16 tahun, ketika ia dinyatakan sebagai salah satu pecatur terbaik di dunia dengan meraih gelar Grand Master Internasional Wanita (WGM) pada bulan Desember 2008.

Selain itu, Irene juga memperoleh gelar International Master (IM), yang merupakan pencapaian luar biasa dan jarang didapatkan oleh pecatur wanita. Dengan kedua gelar ini, ia semakin diperhitungkan dalam kompetisi internasional dan terus mencatatkan berbagai prestasi yang mengesankan.

Sebagai bagian dari tim nasional Indonesia, Irene juga sukses menyumbangkan medali perak dalam Olimpiade Catur. Strategi bermainnya yang matang serta kemampuannya dalam menghadapi lawan-lawan tangguh membuatnya menjadi salah satu pecatur wanita terbaik di dunia.

Tantangan dan Perjuangan Tanpa Sponsor

Walaupun Irene telah meraih banyak prestasi, perjalanan kariernya di dunia catur tidaklah mudah. Berbeda dengan atlet dari negara lain yang mendapatkan dukungan penuh dari federasi dan pemerintah, Irene harus berjuang dengan biaya sendiri untuk mengikuti berbagai kejuaraan dunia.

Hal ini sempat menyulitkannya dalam menghadapi turnamen-turnamen besar. Namun, semangatnya untuk terus berkompetisi dan mengangkat nama Indonesia di kancah catur tidak pernah pudar. Dia berharap di masa depan akan ada perhatian lebih terhadap atlet catur, sehingga mereka dapat bersaing dengan dukungan yang lebih optimal.

Dedikasi untuk Dunia Catur Indonesia

Selain berpartisipasi dalam kompetisi, Irene juga berperan aktif dalam memajukan olahraga catur di tanah air. Ia rutin menyelenggarakan pelatihan, seminar, serta sesi pembinaan untuk anak-anak dan remaja yang berminat mendalami catur. Dengan pengalaman dan pengetahuannya, Irene berambisi untuk mencetak generasi pecatur muda yang berbakat dan dapat mengangkat nama Indonesia di pentas dunia.

Irene meyakini bahwa catur lebih dari sekadar permainan strategi; ia juga berfungsi sebagai sarana untuk mengasah ketekunan, ketahanan mental, dan kemampuan berpikir logis. Ia berharap agar semakin banyak anak-anak di Indonesia yang tertarik untuk belajar catur dan mencapai prestasi di tingkat internasional.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Irene Sukandar

1. Apa prestasi terbesar Irene Sukandar di dunia catur?

Irene Sukandar berhasil menempati peringkat sembilan besar dalam Kejuaraan Catur Cepat FIDE di New York City dan menjadi Grand Master Internasional Wanita (WGM) pertama dari Indonesia.

2. Mengapa Irene Sukandar harus membiayai sendiri perjalanannya ke turnamen internasional?

Irene tidak mendapatkan dukungan sponsor atau bantuan dari pemerintah sehingga harus menggunakan dana pribadi untuk berkompetisi di berbagai ajang internasional.

3. Bagaimana Irene Sukandar mulai bermain catur?

Irene mulai tertarik pada catur saat melihat ayahnya melatih kakaknya. Ia kemudian mulai berlatih serius di Sekolah Catur Utut Adianto sejak tahun 1999.

4. Apa yang membuat Irene menjadi inspirasi bagi pecatur muda Indonesia?

Dedikasi, kerja keras, dan prestasinya di dunia catur tanpa dukungan sponsor menjadikannya inspirasi bagi banyak pecatur muda di Indonesia.

Rekomendasi