Christian Vieri Ungkap Penyesalan Terbesar dan Masalah Sepak Bola Italia

Dari masa keemasan bersama Inter Milan dan Atletico Madrid hingga cedera yang membuyarkan mimpi di Piala Dunia, Christian Vieri juga bicara soal sepak bola Italia yang menurutnya masih perlu banyak berbenah.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Christian Vieri Ungkap Penyesalan Terbesar dan Masalah Sepak Bola Italia
Christian Vieri di Vidio Sports Festival

Legenda timnas Italia dan Inter Milan Christian Vieri mengenang perjalanan panjangnya sebagai pesepak bola, mulai dari masa-masa terbaik bersama klub, penyesalan akibat cedera hingga pandangannya terhadap kondisi sepak bola Italia saat ini.

Vieri menyampaikan ceritanya saat menghadiri Vidio Sports Festival 2026 di Plaza Parkir Timur Senayan, Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Kenang Masa Terbaik Bersama Inter Milan dan Atletico Madrid

Christian Vieri Vidio Sport Festival 2026. (merdeka.com/Febika Indriyani).
Christian Vieri Vidio Sport Festival 2026. (merdeka.com/Febika Indriyani).

Puluhan tahun berlalu sejak Vieri menghabiskan masa-masa terbaiknya di lapangan hijau. Namun, ketika diminta menyebut pengalaman paling berkesan dalam kariernya, dua klub langsung muncul dalam ingatannya.

“Saya rasa saat bermain di Inter dan Atletico Madrid. Saya punya masa-masa terbaik di sana,” ujar Vieri saat ditemui merdeka.com.

Bersama Atletico Madrid, Vieri tampil tajam di La Liga hingga menjadi pencetak gol terbanyak pada musim 1997/1998. Setelah kembali ke Italia, ketajamannya berlanjut ketika membela Inter Milan dan meraih gelar top skor Serie A pada musim 2002/2003.

Performa tersebut menjadi bagian dari perjalanan Vieri sebagai salah satu penyerang yang disegani pada era 1990-an hingga awal 2000-an.

Vieri juga menyebut dirinya bisa beradaptasi dan mencapai level tersebut karena tidak pernah main-main dalam urusan latihan.

“Berlatih sangat keras. Berlatih setiap hari dengan sangat keras dan berusaha menjadi lebih baik. Menurut saya, itu yang paling penting,” katanya.

Menurut Vieri, pemain juga harus mau memahami kesalahan dan menjadikannya bahan untuk berkembang.

“Cobalah memahami kesalahanmu, kemudian perbaiki kesalahan itu. Jadi, kamu tidak mengulanginya dan bisa menjadi lebih baik,” tuturnya.

Cedera Lutut Jadi Penyesalan Terbesar

Di balik masa-masa gemilang tersebut, Vieri juga menyimpan satu penyesalan yang masih melekat dalam ingatannya.

Cedera lutut yang dialami hanya sebulan sebelum Piala Dunia 2006 membuatnya harus kehilangan kesempatan tampil di turnamen akbar tersebut bersama Italia.

“Saya mengalami cedera lutut satu bulan sebelum Piala Dunia. Itu adalah penyesalan besar saya pada 2006,” ungkap Vieri.

Meski demikian, Vieri mengaku tidak ingin terus terjebak dalam berbagai kemungkinan yang tidak pernah terjadi. Baginya, tidak ada gunanya menghabiskan waktu memikirkan apa yang mungkin terjadi jika dirinya tidak mengalami cedera.

“Saya tidak memikirkan hal-hal yang tidak terjadi. Saya tidak membuang waktu. Saya tidak terlalu sering menggunakan kata ‘seandainya’,” ujarnya.

Alih-alih berlarut-larut dalam penyesalan, Vieri memilih mengingat sisi terbaik dari perjalanan yang sudah dilaluinya. Menjadi pesepak bola profesional, kata dia, sejak awal memang merupakan impiannya.

“Hal baiknya adalah saya bisa bermain sepak bola. Itu adalah impian saya untuk menjadi pesepak bola. Saya melakukannya sepanjang hidup dan menikmatinya setiap hari,” kata Vieri.

Soroti Sepak Bola Italia Yang Dinilai Tertinggal

Kini, setelah gantung sepatu, Vieri melihat sepak bola Italia dari sisi yang berbeda. Ia menyoroti performa timnas Italia yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kegagalan lolos ke dua Piala Dunia terakhir.

Menurut Vieri, Gli Azzurri harus segera memperbaiki performa di lapangan.

“Kami harus mulai memenangkan pertandingan. Kami harus mulai bermain lebih baik,” tegasnya.

Tak hanya soal hasil pertandingan, Vieri juga menilai federasi sepak bola Italia perlu melakukan perubahan, termasuk dalam aturan yang berkaitan dengan pemain muda.

“Federasi harus melakukan banyak perubahan. Mereka harus mengubah aturan untuk pemain-pemain muda,” ujarnya.

Vieri bahkan menilai Italia saat ini tertinggal dibandingkan negara-negara lain dalam perkembangan sepak bola.

“Ini sangat sulit bagi kami. Kami sangat jauh tertinggal dari yang lain,” katanya.

Kondisi tersebut membuat Vieri teringat dengan generasinya ketika sepak bola Italia dipenuhi penyerang kelas dunia. Ia menyebut sejumlah nama seperti Gabriel Batistuta, Hernan Crespo, Marcelo Salas, Ronaldo, Adriano, Andriy Shevchenko, Alessandro Del Piero hingga David Trezeguet.

“Dulu ada banyak penyerang besar di seluruh dunia. Tim-tim besar memiliki mereka. Itu masa-masa yang menyenangkan,” tutur Vieri.

Bagi Vieri, perubahan menjadi pekerjaan penting jika Italia ingin kembali melahirkan generasi pemain yang mampu bersaing di level tertinggi.

Rekomendasi