Teror Kesehatan dari Sepotong Tahu Goreng: Ancaman bagi Tubuh dan Lingkungan dari Penggunaan Bahan Bakar Sampah untuk Proses Menggoreng

Industri tahu diketahui menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar, namun praktik ini menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan yang serius.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Teror Kesehatan dari Sepotong Tahu Goreng: Ancaman bagi Tubuh dan Lingkungan dari Penggunaan Bahan Bakar Sampah untuk Proses Menggoreng
Teror Kesehatan dari Sepotong Tahu Goreng: Ancaman bagi Tubuh dan Lingkungan dari Penggunaan Bahan Bakar Sampah untuk Proses Menggoreng (Merdeka.com)

Sepotong tahu petis yang kita nikmati di kala menikmati sore hari bisa jadi mengandung berbagai racun mematikan. Apalagi jika tahu yang kita konsumsi itu ternyata digoreng menggunakan tungku berbahan bakar sampah. Temuan ini, kini tengah kembali ramai dibahas setelah Andrew Fraser, seorang pembuat video dokumenter di YouTube memposting videonya yang berjudul "Indonesia’s TOXIC TOFU Timebomb: Poisoning Millions Daily" pada 24 April lalu. Hingga sekarang, video tersebut telah ditonton sebanyak lebih dari 1,5 juta penonton.

Investigasi mendalam yang dilakukan oleh jurnalis Andrew Fraser, didokumentasikan dalam sebuah video YouTube, mengungkap praktik berbahaya di pabrik-pabrik tahu skala kecil di Surabaya. Dalam laporan ini, Fraser menghabiskan 48 jam di lapangan untuk menyelami kondisi kerja dan kehidupan masyarakat setempat, serta membuktikan bahwa limbah plastik impor yang digunakan sebagai bahan bakar dalam produksi tahu telah mencemari udara, tanah, dan rantai makanan dengan bahan kimia beracun.

Produksi Tahu di Dekat Surabaya

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa di kota itu sendiri dan 10 juta jiwa di wilayah sekitarnya, dikenal sebagai pusat produksi tahu. Di desa-desa pinggiran kota ini, puluhan pabrik tahu beroperasi untuk memenuhi permintaan makanan pokok yang disajikan dalam berbagai bentuk—digoreng, dipanggang, atau ditambahkan ke dalam sup dan camilan. Namun, di balik proses produksi yang tampak sederhana ini, terdapat metode yang mengkhawatirkan: penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar.

Pabrik-pabrik ini mengandalkan boiler besar dan penggorengan dalam skala industri yang membutuhkan panas konstan. Untuk menekan biaya, mereka menggunakan bahan bakar yang paling murah dan tersedia: limbah plastik. Fraser menggambarkan, "Boiler ini benar-benar seperti mesin uap kuno yang sangat besar, dengan dua orang yang bekerja penuh waktu untuk memasukkan sekam kelapa dan kantong plastik." Hasilnya, asap hitam pekat menyelimuti desa-desa, menciptakan lingkungan yang jauh dari sehat.

Proses Produksi yang Mengkhawatirkan

Proses pembuatan tahu di Surabaya dimulai dari kacang kedelai yang direndam, digiling menjadi pasta, lalu direbus menggunakan uap dari boiler bertenaga plastik. Setelah itu, susu kedelai disaring dan ditambahkan koagulan untuk membentuk tahu, yang kemudian dipres dan digoreng—sering kali di atas api terbuka yang juga menggunakan plastik sebagai bahan bakar. Fraser melaporkan, "Udara di sini sangat tebal dengan asap hitam, dan bau plastik terbakar ada di mana-mana," menggambarkan kondisi lingkungan yang tercemar.

Di setiap pabrik, tumpukan sampah plastik—mulai dari potongan limbah industri hingga kemasan yang tidak dapat didaur ulang—menjadi bahan bakar utama. Dalam dua hari kunjungannya, Fraser mengunjungi sekitar 30 pabrik tahu dan menemukan bahwa hampir semuanya menggunakan plastik untuk menggoreng tahu, dengan hanya sedikit yang menggunakan kayu untuk boiler awal. Dia menambahkan, "Setiap penggorengan tahu dilakukan di atas api plastik yang terbuka, mengeluarkan asap hitam langsung ke ruang kerja dan ke tahu itu sendiri."

Investigasi Andrew Fraser tentang IndustrTahu Berbahan Bakar Sampah
Investigasi Andrew Fraser tentang IndustrTahu Berbahan Bakar Sampah https://www.youtube.com/@Andrew_Fraser

Bahaya Kesehatan yang Mengintai

Pembakaran plastik menghasilkan bahan kimia beracun yang sangat berbahaya, termasuk dioksin—salah satu polutan paling mematikan yang diketahui—serta PBDEs (polybrominated diphenyl ethers), SCCPs (short-chain chlorinated paraffins), dan PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances). Sebuah studi pada tahun 2019, yang dikutip Fraser, menganalisis telur dari ayam kampung yang hidup di dekat pabrik tahu dan menemukan hasil yang mencengangkan: kadar dioksin dalam telur tersebut adalah yang tertinggi kedua yang pernah tercatat di Asia, hanya kalah dari Vietnam pasca-perang yang terkontaminasi Agent Orange.

Fraser menjelaskan, "Makan satu telur dari daerah ini akan mengekspos orang dewasa pada 70 kali batas asupan harian yang dapat ditoleransi untuk dioksin," merujuk pada standar European Food Safety Authority. Dioksin dikaitkan dengan risiko kanker, penyakit jantung, diabetes, dan gangguan hormon. Selain itu, telur-telur tersebut juga mengandung PBDEs, SCCPs, dan PFAS—zat kimia yang berasal dari plastik dan dikenal sebagai "forever chemicals" karena sifatnya yang sulit terurai, yang semakin memperparah ancaman kesehatan.

Meskipun belum ada penelitian langsung terhadap tahu itu sendiri, Fraser mencatat bahwa proses penggorengan di atas api plastik terbuka tanpa filtrasi menimbulkan risiko kontaminasi yang signifikan. Dia memperingatkan, "Jika tahu ini setengah saja terkontaminasi seperti telur-telur tersebut, maka ada masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar satu desa."

Dampak Lingkungan yang Luas

Polusi dari pembakaran plastik tidak hanya mengancam kesehatan pekerja dan penduduk setempat, tetapi juga merusak lingkungan secara keseluruhan. Asap beracun menyebar ke seluruh desa, mencemari tanah dan masuk ke dalam rantai makanan. Ayam kampung yang memakan sisa-sisa di sekitar pabrik menjadi bukti nyata penyebaran kontaminasi ini. Fraser mengungkapkan, "Kamu tahu ada sesuatu yang salah hanya dari bau plastik terbakar yang menusuk," menggambarkan pengalamannya di lapangan.

Surabaya bahkan disebut sebagai salah satu kota paling tercemar di Indonesia oleh penduduk setempat yang diwawancarai Fraser. "Kota ini dinamakan sebagai kota paling tercemar di Indonesia," ujar salah seorang warga, menegaskan bahwa polusi udara dari aktivitas seperti ini telah menjadi masalah sistemik.

Dilansir dari Aliasi Zero Waste, berdasarkan laporan Nexus3 Foundation dan Ecoton berjudul “Sampah Plastik Meracuni Rantai Makanan Indonesia”, penggunaan plastik sebagai bahan bakar dalam produksi tahu di Surabaya menghasilkan dampak lingkungan dan kesehatan yang serius. Pembakaran plastik, terutama yang mengandung klor seperti PVC, menghasilkan dioksin (PCDD/Fs) dan furan terbrominasi (PBDD/Fs), zat beracun yang dapat menyebabkan kanker dan penyakit lainnya. Aditif plastik seperti SCCP, PBDEs, dan PFAS, yang diatur dalam Konvensi Stockholm, juga terlepas saat dibakar, mencemari udara dan tanah. Analisis telur ayam di Tropodo pada 2019 menunjukkan kontaminasi tinggi oleh zat-zat ini, mencerminkan polusi lingkungan yang parah. Selain itu, pembakaran plastik melepaskan mikroplastik ke udara, dengan tingkat tertinggi di Sidoarjo mencapai 218 partikel per dua jam (penelitian Ecoton 2021), meningkatkan risiko kesehatan akibat penghirupan.

Kurangnya Kesadaran dan Regulasi

Meskipun bahayanya jelas, banyak penduduk setempat tampak tidak peduli atau tidak menyadari risiko yang mereka hadapi. Seorang warga berkata kepada Fraser, "Tidak ada yang peduli. Kami hanya makan ini karena kami tidak pernah berpikir bahwa tidak ada yang melihat dari mana makanan mereka berasal." Sikap ini mencerminkan kurangnya kesadaran tentang asal-usul makanan mereka dan dampaknya terhadap kesehatan.

Pemerintah daerah juga tampaknya belum mengambil langkah tegas untuk mengatasi masalah ini. Seorang pekerja pabrik mengeluh, "Pemerintah hanya memberi kami peringatan, tetapi mereka tidak memberikan solusi dan tidak ada regulasi yang jelas." Tanpa panduan atau dukungan yang memadai, para produsen tahu merasa tidak memiliki pilihan selain melanjutkan praktik ini.

Investigasi Andrew Fraser tentang IndustrTahu Berbahan Bakar Sampah
Investigasi Andrew Fraser tentang IndustrTahu Berbahan Bakar Sampah https://www.youtube.com/@Andrew_Fraser

Tantangan Ekonomi dan Solusi yang Sulit

Para produsen tahu menyadari dampak negatif dari penggunaan plastik, tetapi mereka terjebak dalam dilema ekonomi. Plastik adalah bahan bakar yang murah dan tersedia secara konsisten, sedangkan alternatif seperti kayu atau sekam kelapa sering kali sulit didapat atau harganya melonjak pada waktu tertentu, seperti selama Ramadan. Seorang pemilik pabrik menjelaskan, "Plastik datang setiap hari, sedangkan kayu atau sekam kelapa tidak bisa datang secara teratur."

Selain itu, tidak ada permintaan dari konsumen untuk tahu yang diproduksi dengan cara lebih bersih, sehingga tidak ada insentif ekonomi untuk berubah. Seorang warga mengatakan, "Jika mereka mengganti bahan bakar dengan yang lain, harga tahu akan menjadi lebih mahal, dan orang-orang lebih memilih membeli yang murah," mencerminkan prioritas ekonomi di atas kesehatan.

Namun, Fraser menemukan satu pengecualian: sebuah pabrik yang menggunakan pembakar kayu khusus yang ternyata lebih efisien daripada pembakar plastik. Dia melaporkan, "Asapnya hampir tidak ada, tidak ada awan hitam yang membumbung." Sayangnya, biaya awal untuk membangun boiler semacam itu terlalu tinggi bagi kebanyakan produsen skala kecil, dan tanpa bantuan finansial seperti pinjaman atau subsidi, perubahan sulit tercapai.

Kasus yang Berulang

Selama 48 jam di Surabaya, Fraser tidak hanya mendokumentasikan proses produksi, tetapi juga mencoba tahu yang baru digoreng langsung dari penggorengan bertenaga plastik. Dia berkomentar, "Luar biasa, kamu tidak bisa mencium bau plastik sampai kamu keluar dari pabrik," menjelaskan bagaimana paparan konstan membuat indra penciumannya mati rasa sementara. Dia mengakui rasa tahu itu tetap enak—bertekstur seperti donat dengan kulit renyah dan bagian dalam yang lembut—namun mempertanyakan risiko yang tersembunyi di dalamnya.

Fraser menambahkan, "Setelah 30 menit, kamu mulai terbiasa dengan bau itu, dan itu menjadi latar belakang," mencoba memahami mengapa penduduk setempat terus mengonsumsinya. Namun, dia tetap yakin bahwa ada "sesuatu yang jauh lebih jahat di balik permukaan" yang perlu diperhatikan.

Dia menantang penonton dengan pertanyaan provokatif yang menjadi judul video: "Apakah Anda masih akan makan tahu tersebut?" Pertanyaan ini mengajak masyarakat untuk mempertimbangkan biaya sebenarnya dari produksi makanan murah dan mendesak adanya perubahan sistemik—baik dari pemerintah, industri, maupun konsumen.

Praktik penggunaan bahan bakar sampah untuk industri tahu sebenarnya ini telah menjadi sorotan sejak tahun 2019 lalu di Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur,. Pemerintah daerah dan pemerintah provinsi bahkan telah membantu mencari solusi untuk penggantian bahan bakarnya menjadi kayu bakar atau pelet kayu kala itu. Namun laporan dari Aliansi Zero Waste di praktik penggunaan sampah sebagai bahan bakar industri tahu ini kembali digunakan.

Rekomendasi