Keji Beling, Rahasia Herbal Tradisional untuk Membantu Menghancurkan Batu Ginjal

Keji beling dikenal sebagai ramuan yang efektif untuk membantu meluruhkan batu ginjal.

Titin Sahra Melani
Oleh Titin Sahra Melani - Reporter
Keji Beling, Rahasia Herbal Tradisional untuk Membantu Menghancurkan Batu Ginjal
Manfaat daun keji beling (© 2026 Liputan6.com)

Keji beling, yang dikenal dengan nama ilmiah Strobilanthes crispus, telah lama dipergunakan sebagai tanaman herbal untuk mendukung kesehatan saluran kemih, terutama dalam mengatasi masalah batu saluran kemih dan batu ginjal.

Menurut penjelasan dr. Danang Ardiyanto, MKM, seorang dokter di UPF Pelayanan Kesehatan Tradisional Tawangmangu RSUP Dr. Sardjito, keji beling terkenal sebagai herbal yang berfungsi sebagai 'peluruh batu' dan sering kali digunakan sebagai tambahan dalam perawatan batu saluran kemih, bukan sebagai pengganti terapi medis yang ada.

Secara kandungan, daun keji beling diketahui mengandung polifenol dan flavonoid, yang berhubungan dengan aktivitas antioksidan. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa Strobilanthes crispus memiliki beragam senyawa bioaktif dan menunjukkan aktivitas antioksidan dalam studi laboratorium serta penelitian fitokimia.

Danang menjelaskan bahwa antioksidan memiliki peran penting dalam melawan stres oksidatif, yang diketahui berkontribusi terhadap berbagai penyakit metabolik dan inflamasi. Oleh karena itu, keberadaan senyawa antioksidan menjadi salah satu alasan mengapa keji beling sering dihubungkan dengan dukungan kesehatan tubuh, khususnya pada sistem metabolik dan saluran kemih.

Dalam praktik tradisional di beberapa negara Asia Tenggara, teh dari daun keji beling sering digunakan untuk mengatasi keluhan batu saluran kemih, dan sering dipadukan dengan kumis kucing.

Literatur ilmiah terbaru juga membahas potensi kombinasi antara keji beling dan kumis kucing sebagai topik menarik untuk penelitian mengenai batu ginjal. Namun, masih diperlukan uji klinis yang lebih mendalam untuk mendapatkan kejelasan mengenai efektivitasnya. Oleh karena itu, penggunaan keji beling diposisikan sebagai pendukung, bukan sebagai pengganti pemeriksaan dan terapi medis yang telah ada.

Dalam situasi batu ginjal, faktor-faktor seperti ukuran batu, lokasi, dan tingkat sumbatan sangat berpengaruh terhadap risiko yang dihadapi. Batu yang mengakibatkan sumbatan dapat menyebabkan rasa sakit yang parah, infeksi, dan bahkan penurunan fungsi ginjal. Oleh karena itu, penggunaan keji beling sebaiknya tidak dijadikan pengganti untuk evaluasi medis yang lebih mendalam seperti Ultrasonografi (USG) atau CT scan jika diperlukan, serta terapi standar yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan.

Danang menekankan bahwa keji beling sebaiknya digunakan sebagai pendukung, terutama dalam kondisi tertentu yang masih memungkinkan untuk dilakukan pemantauan secara berkala. Dengan demikian, penggunaan keji beling dapat memberikan manfaat tambahan, tetapi tidak seharusnya mengabaikan prosedur medis yang sudah terbukti efektif.

Penggunaan keji beling biasanya dilakukan dengan cara yang cukup mudah. Bahan yang diperlukan terdiri dari sekitar 5 hingga 7 lembar daun segar atau sekitar 3 gram daun kering. Daun tersebut direbus dengan dua gelas air hingga tersisa satu gelas. Rebusan ini sebaiknya dikonsumsi satu kali sehari untuk mendapatkan manfaatnya.

Untuk keluhan yang tidak terlalu berat, durasi penggunaan bisa berkisar antara 7 hingga 14 hari. Jika keji beling digunakan sebagai pendukung untuk mengatasi batu ginjal kecil, maka perlu dilakukan evaluasi secara berkala. Penggunaan yang terus menerus tanpa pengawasan tidak dianjurkan.

Danang menjelaskan bahwa keji beling dapat digabungkan dengan kumis kucing dalam dosis yang sedang. Selain itu, disarankan untuk menjalani pola makan rendah oksalat, seperti mengurangi konsumsi bayam yang berlebihan dan teh pekat.

Namun, perhatian khusus harus diberikan, terutama bagi individu yang memiliki riwayat batu ginjal besar atau mengalami nyeri kolik yang hebat. Mereka juga yang mengalami gangguan ginjal sedang hingga berat, serta yang mengonsumsi obat diabetes, perlu pemantauan ketat terhadap kadar gula darah mereka.

Rekomendasi