Bernapas Lewat Mulut Tak Sepele, Bisa Pengaruhi Bentuk Wajah dan Gigi Anak

Bernapas melalui mulut pada anak-anak dapat terjadi karena berbagai alasan.

Benedikta Desideria
Oleh Benedikta Desideria - Reporter
Bernapas Lewat Mulut Tak Sepele, Bisa Pengaruhi Bentuk Wajah dan Gigi Anak
Anak bernapas lewat mulut saat tidur, bisa membuat perubahan pada gigi dan rongga mulut lalu menyebabkan perubahan bentuk wajah. (Foto: AI) (© 2025 Liputan6.com)

Idealnya, manusia bernapas melalui hidung, karena bagian tersebut berfungsi untuk menyaring, melembapkan, dan menghangatkan udara sebelum masuk ke paru-paru.

Namun, banyak anak-anak dan orang dewasa yang tidak menyadari atau bahkan terbiasa bernapas melalui mulut. Menurut dokter gigi spesialis ortodontis, Fauzia Adhiwidyanti, terdapat individu yang sadar dan ada pula yang tidak ketika bernapas lewat mulut. Kebiasaan ini biasanya disebabkan oleh masalah pada rongga pernapasan bagian atas.

"Saat aliran udara melalui hidung berkurang, sisa udara akan dipaksakan keluar melalui mulut," ungkap dokter yang berpraktik di Bethsaida Hospital Dental Center ini.

Fauzia juga menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang sering menjadi penyebab kebiasaan ini, antara lain:

  1. Alergi, sinusitis, atau pilek berkepanjangan yang dapat menyumbat hidung.
  2. Pembesaran tonsil (amandel) yang menghalangi saluran pernapasan.
  3. Bentuk hidung yang tidak normal, seperti penyempitan rongga hidung.

Kebiasaan bernapas melalui mulut dapat menyebabkan mulut kering. Hal ini terjadi akibat berkurangnya produksi saliva, sehingga kebersihan mulut menjadi terganggu dan meningkatkan risiko terjadinya gigi berlubang serta penyakit gusi (periodontal).

Selain itu, kebiasaan bernapas melalui mulut juga dapat mengganggu perkembangan wajah, terutama pertumbuhan vertikal sepertiga bagian bawah wajah, yang dikenal dengan istilah long face.

Kondisi ini dapat menyebabkan lengkung gigi atas menjadi sempit, posisi gigi maju, gigitan terbalik pada gigi belakang, atau gigitan terbuka pada gigi depan.

Semua ini dapat menyulitkan aktivitas mengunyah atau memotong makanan, seperti yang disampaikan oleh Fauzia dalam keterangan tertulisnya.

Seseorang yang sering bernapas melalui mulut

Seseorang yang sering bernapas melalui mulut dalam kehidupan sehari-hari biasanya menunjukkan beberapa gejala. Gejala-gejala tersebut antara lain:

  1. Mulut terasa kering saat bangun pagi
  2. Mendengkur atau tidur dengan mulut terbuka
  3. Pada anak-anak, wajah tampak memanjang, terdapat lingkaran hitam di sekitar mata, lubang hidung terlihat sempit, dan suara terdengar sengau atau kurang jelas saat berbicara.

Ketika masalah ini terjadi pada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, hal ini dapat berpengaruh pada bentuk lengkung gigi atas yang menjadi lebih sempit.

"Kebiasaan bernafas melalui mulut pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan lengkung gigi atas menjadi sempit, gigi maju, gigitan terbalik di gigi belakang, atau gigitan terbuka di gigi depan yang menyulitkan aktivitas pengunyahan maupun memotong makanan," jelas Fauzia.

Apa yang harus dilakukan jika anak bernapas melalui mulut?

Apabila anak menunjukkan tanda-tanda bernapas melalui mulut, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter gigi spesialis ortodontis. Jika diagnosis menunjukkan bahwa anak memiliki kebiasaan tersebut, perawatan ortodontis dapat dilakukan.

"Perawatan ortodontik dapat membantu memperbaiki posisi gigi, memotivasi pasien untuk bernafas lewat hidung, serta mencegah risiko komplikasi jangka panjang," ungkap Fauzia.

Penting untuk melakukan perawatan ini sejak usia dini, terutama pada anak-anak, agar pertumbuhan gigi dan wajah mereka tetap optimal. "Dengan penanganan yang tepat, kita tidak hanya memperbaiki gigitan dan estetika gigi, tetapi juga meningkatkan kesehatan mulut, bentuk wajah, dan kualitas hidup anak," tambah Fauzia.

Penanganan Lainnya

Terapi KebiasaanIni termasuk latihan pernapasan serta edukasi mengenai cara bernapas yang benar.

Kolaborasi dengan spesialis lainKerja sama dengan dokter THT, dokter anak, atau terapis bicara diperlukan jika terdapat masalah medis yang mendasari. "Kami memiliki tim dokter spesialis ortodontis yang kompeten dan berpengalaman. Layanan kami dilengkapi dengan fasilitas modern, nyaman, dan mendukung setiap pasien dalam mendapatkan perawatan yang optimal," jelas Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dokter Pitono.

Rekomendasi