Makanan dan gaya hidup yang tepat bisa menjadi resep bagi Vietnam dalam menekan angka obesitas di negara tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa rendahnya tingkat obesitas tidak melulu terjadi di negara miskin.
Di Vietnam, makanan bukan sekadar pengisi perut, tetapi cerminan gaya hidup sehat yang telah menjadikan negara ini pemegang rekor tingkat obesitas terendah di dunia. Dengan hanya 1% penduduk dewasa yang obesitas pada 2017, menurut WHO, apa rahasia Vietnam? Dan bagaimana kita bisa meniru pola makan dan gaya hidup mereka?
Advertisement
Obesitas di Vietnam: Angka yang Mengesankan
Vietnam menonjol di panggung global karena prevalensi obesitas dewasanya yang sangat rendah, hanya 1% pada 2017, jauh di bawah negara seperti Indonesia (21,8% pada 2018, Riskesdas) atau Amerika Serikat (42,7%, World Population Review). Meskipun angka obesitas anak sedikit lebih tinggi, yaitu 6,8% untuk usia 2-19 tahun, ini tetap rendah dibandingkan AS (28,5%) atau Australia (25%). Namun, laporan dari The Lancet menunjukkan bahwa obesitas, terutama obesitas abdominal pada wanita, mulai meningkat, terutama di daerah perkotaan.
Apa yang membuat Vietnam tetap ramping? Kombinasi pola makan tradisional, gaya hidup aktif, budaya makan yang sadar, dan kebijakan pemerintah yang mendukung kesehatan adalah kuncinya.
Advertisement
Pola Makan Tradisional: Sehat dan Seimbang
Pola makan tradisional Vietnam adalah pilar utama rendahnya tingkat obesitas. Berikut adalah ciri-cirinya:
- Nasi dalam Porsi Kecil: Nasi adalah makanan pokok, tetapi disajikan dalam porsi kecil (100-150 gram), sering kali dengan lauk sayuran dan protein rendah lemak. Hidangan seperti pho (sup mie beras dengan daging) atau goi cuon (lumpia segar dengan udang dan sayuran) kaya nutrisi namun rendah kalori. Menurut EthnoMed, nasi dikonsumsi hampir setiap makan, tetapi selalu diimbangi dengan sayuran.
- Sayuran dan Herbal Berlimpah: Sayuran seperti kangkung, kol, dan tauge, serta herbal seperti basil dan mint, mendominasi piring Vietnam. Studi di BMJ Nutrition mencatat bahwa konsumsi sayuran di Vietnam mencapai 190 g per kapita per hari pada 2010, meskipun menurun dari 214 g pada 1985. Sayuran ini kaya serat, membantu menjaga rasa kenyang.
- Protein Rendah Lemak: Ikan, udang, dan ayam lebih umum daripada daging merah. PMC menyebutkan bahwa daging putih seperti ayam adalah pilihan utama karena harganya terjangkau dan rendah lemak jenuh, mengurangi risiko penyakit jantung.
- Metode Memasak Sehat: Teknik seperti mengukus, merebus, dan menumis dengan sedikit minyak menjaga kandungan nutrisi dan rendah kalori. Medium menyoroti bahwa metode ini lebih sehat dibandingkan penggorengan ala Barat.
- Minim Makanan Olahan: Konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis masih rendah, terutama di pedesaan. Data dari World Obesity Federation menunjukkan frekuensi konsumsi minuman berkarbonasi dan makanan cepat saji di kalangan anak-anak Vietnam lebih rendah dibandingkan negara lain.
Advertisement
Gaya Hidup Aktif: Bergerak adalah Kebiasaan
Gaya hidup aktif adalah rahasia lain Vietnam. Di pedesaan, pekerjaan manual seperti bertani atau memancing membuat orang tetap bergerak. Di kota, berjalan kaki dan bersepeda masih populer. BMJ Nutrition melaporkan bahwa meskipun 70% orang dewasa Vietnam tidak melakukan olahraga berat, aktivitas harian seperti berjalan kaki cukup untuk membakar kalori.
- Transportasi Aktif: Banyak orang Vietnam menggunakan sepeda atau berjalan kaki untuk perjalanan pendek, mengurangi ketergantungan pada mobil.
- Olahraga Tradisional: Aktivitas seperti taichi dan vovinam (seni bela diri Vietnam) populer, terutama di kalangan lansia, menjaga kebugaran fisik dan mental.
Namun, urbanisasi mulai mengurangi aktivitas fisik di kota. Hanya 18% siswa kelas lima di Ho Chi Minh City memenuhi pedoman aktivitas fisik, menurut BMJ Nutrition.
Advertisement
Budaya Makan dan Kebijakan Pemerintah
Budaya makan Vietnam mendorong kesadaran porsi. Makan bersama keluarga adalah tradisi, memungkinkan kontrol porsi dan pilihan makanan sehat. Fitsian Food Life menekankan bahwa makan perlahan dan berhenti saat kenyang adalah kebiasaan umum.
Pemerintah Vietnam juga berperan besar. National Nutrition Strategy 2011-2020 mempromosikan gizi seimbang, sementara Circular 29/2023 mewajibkan label gizi pada makanan kemasan mulai 2026 (World Obesity Federation). Program ini membantu masyarakat membuat pilihan makanan yang lebih sehat.
Advertisement
Perbandingan dengan Indonesia
Indonesia, dengan 21,8% obesitas dewasa, menghadapi tantangan berbeda. Konsumsi nasi putih berlebihan, makanan olahan, dan gaya hidup sedentari di kota-kota besar meningkatkan risiko obesitas. Vietnam menawarkan pelajaran: porsi nasi kecil, sayuran melimpah, dan aktivitas fisik harian bisa menjadi solusi.
Advertisement
Pola Makan dan Gaya Hidup Sehat yang Dapat Ditiru
Untuk mencegah dan mengatasi peningkatan obesitas, baik di Vietnam maupun di negara lain, mengadopsi pola makan sehat dan gaya hidup aktif sangat penting. Berikut beberapa langkah yang dapat ditiru:
- Konsumsi makanan seimbang: Prioritaskan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan protein tanpa lemak. Batasi konsumsi makanan olahan, makanan cepat saji, minuman manis, dan makanan tinggi lemak jenuh dan gula.
- Tingkatkan aktivitas fisik: Lakukan olahraga teratur, minimal 30 menit setiap hari. Pilih aktivitas yang Anda nikmati.
- Cukupi kebutuhan cairan: Minum air putih yang cukup setiap hari.Istirahat yang cukup: Tidur yang cukup sangat penting untuk kesehatan dan metabolisme tubuh.
- Konsultasi dengan ahli gizi: Konsultasikan dengan ahli gizi untuk mendapatkan rencana makan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan Anda.
Meskipun prevalensi obesitas di Vietnam relatif rendah dibandingkan beberapa negara lain, peningkatannya yang cepat merupakan sinyal peringatan. Mengadopsi pola makan sehat dan gaya hidup aktif merupakan kunci untuk mencegah dan mengatasi masalah ini, tidak hanya di Vietnam, tetapi juga di seluruh dunia.