Orgasme Tidak Selalu Menjadi Puncak Bercinta, Ini 5 Penyebab Mengapa Orgasme Tak Selalu Menyenangkan

Sejumlah kondisi yang kita alami bisa menyebabkan orgasme yang seharusnya menjadi puncak bercinta tak selalu menyenangkan.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Orgasme Tidak Selalu Menjadi Puncak Bercinta, Ini 5 Penyebab Mengapa Orgasme Tak Selalu Menyenangkan
Ilustrasi suami jatuhkan talak tiga kepada istri. (© 2024 dream.co.id)

Orgasme kerap dianggap sebagai puncak dari hubungan seksual, namun kenyataannya tidak semua orgasme memberikan pengalaman yang menyenangkan. Dalam beberapa situasi, orgasme justru bisa menimbulkan perasaan negatif, atau yang dikenal sebagai "bad orgasm" atau orgasme yang tidak memuaskan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kepuasan seksual, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan mental dan hubungan secara keseluruhan.

Dilansir dari Healthshots, berikut adalah lima penyebab utama mengapa orgasme bisa menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

1. Tingkat Stres yang Tinggi

Stres adalah musuh utama dalam hubungan seksual yang sehat dan memuaskan. Tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik dan emosional, stres juga dapat berdampak negatif pada libido dan kemampuan mencapai orgasme. Bahkan, ketika stres berada pada level tinggi, orgasme yang dirasakan bisa jadi tidak menyenangkan dan malah menambah ketegangan.

Menurut Dr. Mahua Bhattacharya, seorang konsultan obstetri dan ginekologi di Fortis Hospital, Kolkata, orang dengan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) berisiko lebih tinggi mengalami orgasme yang tidak menyenangkan. "Situasi seperti ancaman bahaya, serangan, atau kekerasan fisik dapat memicu respons stres yang menghalangi seseorang menikmati pengalaman seksual secara maksimal," ujarnya.

2. Seks yang Tidak Memuaskan

Seks yang tidak memuaskan seringkali berujung pada orgasme yang juga tidak memuaskan. Dalam studi yang diterbitkan di Archives of Sexual Behavior, para partisipan mengakui bahwa mereka pernah mengalami orgasme dalam situasi di mana mereka merasa terpaksa atau tidak sepenuhnya nyaman untuk bercinta, seperti saat sedang sangat lelah atau hanya memenuhi permintaan pasangan.

Orgasme yang terjadi dalam kondisi seperti ini biasanya tidak menyenangkan karena tubuh dan pikiran tidak sepenuhnya siap atau terlibat secara emosional dalam aktivitas seksual tersebut.

"Seks yang dilakukan dalam kondisi terpaksa atau di luar keinginan pribadi hanya akan mengurangi peluang untuk mendapatkan orgasme yang memuaskan," jelas Dr. Bhattacharya.

3. Rasa Bersalah dan Malu

Banyak orang masih merasa canggung atau bahkan malu saat merasakan kenikmatan seksual akibat pengaruh norma sosial dan keyakinan agama. Ketika perasaan bersalah atau malu ini muncul, orgasme yang dirasakan pun sering kali tidak memuaskan. Hal ini disebabkan oleh adanya konflik internal antara hasrat seksual dan rasa bersalah, yang berujung pada perasaan tidak nyaman setelah orgasme.

“Orgasme yang muncul saat kita merasa malu atau jijik dengan diri sendiri hanya akan membawa ketidakpuasan,” ungkap Dr. Bhattacharya. Untuk itu, penting bagi setiap individu untuk memahami dan menerima bahwa seksualitas adalah bagian alami dari kehidupan manusia agar bisa menikmati pengalaman seksual dengan penuh tanpa dihantui rasa bersalah.

Kisah Perceraian Viral, Suami Frustrasi Istri Tolak Hubungan Intim Selama 5 Tahun, Pasang Tarif Jika Mau Bercinta
Ilustrasi istri menolak berhubungan intim dengan suami. © 2024 dream.co.id

4. Tekanan untuk Orgasme

Tekanan untuk mencapai orgasme, atau yang dikenal dengan istilah orgasm anxiety, juga dapat menyebabkan orgasme menjadi kurang memuaskan. Tekanan ini sering kali muncul ketika seseorang merasa terlalu fokus pada tujuan orgasme, hingga melupakan momen intim yang sedang berlangsung.

Semakin tinggi tingkat stres yang dirasakan, semakin sulit pula untuk merasakan kenikmatan seksual. Dr. Bhattacharya menyarankan agar pasangan tetap tenang dan menikmati setiap momen tanpa fokus yang berlebihan pada orgasme itu sendiri. "Mengurangi tekanan untuk orgasme bisa membantu meningkatkan kualitas pengalaman seksual Anda," tambahnya.

5. Marah atau Kecewa pada Pasangan

Hubungan seksual setelah pertengkaran atau "makeup sex" sering dianggap sebagai cara untuk memperbaiki hubungan. Namun, menurut Dr. Bhattacharya, kondisi emosional yang negatif, seperti marah atau kecewa pada pasangan, justru bisa membuat orgasme menjadi tidak menyenangkan.

Ketika seseorang terlibat dalam aktivitas seksual saat masih memendam emosi negatif, tubuh dan pikiran tidak sepenuhnya terhubung dengan pasangan. Akibatnya, orgasme yang dicapai bisa memberikan perasaan jijik atau bahkan kesedihan, bukannya kepuasan.

Orgasme seharusnya menjadi puncak kenikmatan dalam hubungan seksual, namun kenyataannya ada banyak faktor yang dapat mengubahnya menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan. Memahami bahwa orgasme adalah hak yang setara bagi setiap individu dan tidak boleh dipengaruhi oleh tekanan atau rasa bersalah dapat membantu kita meraih pengalaman seksual yang lebih baik dan membangun hubungan yang lebih sehat.

Rekomendasi