Mana yang Lebih Baik? Jamu Buatan Sendiri atau Jamu Gendong
Merdeka.com - Selama ini, jamu kita kenal sebagai salah satu minuman sehat penuh khasiat. Terdapat berbagai macam cara yang bisa kita tempuh untuk mendapatkan jamu ini.
Jamu bisa kita buat sendiri di rumah baik itu dari bahan mentah maupun bubuk yang sudah diolah. Selain itu, terdapat juga penjual jamu gendong yang juga cukup mudah ditemui.
Namun, apakah jamu gendong higienis dan direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes)?
Menurut dr. Ratna Asih, M.Si dari Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) ia belum dapat memastikan apakah jamu gendong higienis atau tidak.
“Saya sih tidak mengatakan (jamu gendong) higienis atau tidak, tapi menurut Permenkes nomor 9 tahun 2016 yang diharapkan Kemenkes adalah kita tanam sendiri, petik sendiri, dan olah sendiri,” ujar Ratna dalam webinar Geriatri TV beberapa waktu lalu.
“Tapi kita kadang-kadang capek, repot, ya silakan kalau mau beli boleh. Intinya kalau di asuhan mandiri (asman) ya begitu, tanam, petik, olah sendiri ini pasti lebih terjamin.”
Berbeda dengan jamu gendong, tanaman obat yang ditanam di taman obat keluarga (toga) sudah diuji di lab kesehatan daerah sesuai arahan Kemenkes. Di sana tanaman-tanaman tersebut diuji dan dilihat apakah terbebas dari bakteri ecoli dan bahan kimia atau tidak.
Di sisi lain, Kemenkes telah memberikan tugas kepada Puskesmas untuk membina penjual jamu gendong yang ada di daerah masing-masing agar menjual jamu dengan kualitas baik.
Tanam Tanaman Obat di Rumah
Ratna juga memberi saran kepada seluruh masyarakat terutama lanjut usia (lansia) untuk menanam tanaman obat sendiri di halaman rumah. Lansia dapat menanam 5 sampai 10 jenis tanaman obat sesuai dengan keluhan atau penyakit yang diidap.
“Sesuaikan dengan kebutuhan, kalau sering pegal linu bisa tanam kunyit, jahe, temulawak.”
Menanam tanaman obat juga tidak selalu perlu lahan yang luas. Beberapa tanaman bisa ditanam di dalam pot seperti kunyit, kencur, jahe merah, dan daun mint. Tanaman-tanaman ini bisa dipanen setiap tiga bulan.
Membatasi jumlah tanaman berdasar kebutuhan ini bisa sangat membantu dalam perawatannya. Terlalu banyak jenis tanaman malah bisa membuat kerepotan dan tanaman rentan terabaikan.
Reporter: Ade Nasihudin Al AnsoriSumber: Liputan6.com
(mdk/RWP)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya