Advertisement
Namun, di balik keindahannya, pewarna makanan dapat menyimpan risiko kesehatan yang serius. Inilah mengapa Moms perlu memahami perbedaan antara pewarna makanan yang aman dan yang berbahaya.
Advertisement
Pewarna makanan, baik alami maupun sintetis, digunakan untuk mempercantik tampilan makanan dan minuman. Pastikan bahwa semua jenis pewarna ini diatur ketat oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum digunakan.
Advertisement
Pewarna makanan dibagi menjadi dua kategori utama: alami dan sintetis. Pewarna alami berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, atau sumber alami lainnya, sementara pewarna sintetis dibuat secara laboratorium.
Advertisement
Menurut BPOM, pewarna alami adalah bahan tambahan pangan yang berasal dari sumber-sumber alami. Karoten, klorofil, dan antosianin adalah contoh pewarna alami yang sering digunakan. Penggunaannya dianggap lebih aman dan minim efek samping.
1. Karoten (merah tua, kuning, atau jingga)
Pewarna alami dari buah atau sayur seperti wortel, ubi merah, dan labu. Larut dalam lemak, cocok untuk produk susu.
2. Klorofil (hijau)
Ditemukan pada tumbuhan hijau seperti bayam dan daun mint. Penting dalam proses fotosintesis.
Advertisement
3. Antosianin (ungu dan biru)
Didapatkan dari buah seperti anggur dan blueberi. Larut dalam air, ideal untuk membuat agar-agar dan minuman.
Advertisement
Meskipun banyak pewarna makanan yang aman, ada 11 jenis yang perlu dihindari.
Advertisement
2. Allura Red (Red 40)
Mengandung benzidin, yang dikaitkan dengan karsinogen. Berpotensi menyebabkan alergi, intoleransi makanan, dan kerusakan otak. Di restoran cepat saji, allura red banyak digunakan untuk campuran bahan pembuatan es krim, gelato, jus, kue, dan makanan manis lainnya.
Advertisement
4. Black 7984
Digunakan dalam kosmetik, namun dihentikan penggunaannya karena dapat menyebabkan reaksi alergi dan intoleransi aspirin.
Advertisement
6. Kuning Metanil (Metanil yellow)
Dapat menyebabkan iritasi saluran cerna dan dihubungkan dengan kanker kandung kemih. Pewarna ini banyak digunakan untuk cat, kertas, dan benda berbahan kulit hewan.
Advertisement
8. Scarlet GN
Dulunya zat pewarna jenis ini bisa digunakan sebagai pewarna makanan. Namun, karena berpotensi karsinogenik kini zat pewarna ini dilarang. Tapi zat pewarna Scarlet GN beberapa masih digunakan sebagai bahan pembuatan obat dan produk kecantikan.
Advertisement
10. Violet B6
Bersifat karsinogenik dan dapat memicu kanker, karena zat warna ini diperuntukan memberikan warna ungu untuk pada bahan tekstil, cat, dan tinta.
Advertisement
Zat warna Yellow 5 atau yang lebih dikenal dengan Tartrazin memiliki banyak efek negatif terhadap tubuh, seperti menimbulkan alergi dan merusak sistem informasi sel. Sedangkan pada anak-anak tartrazine bisa menghambat penyerapan zinc, mengganggu tumbuh-kembang, dan menurunkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu juga bisa melemahkan memori, daya ingat dan kemampuan konsentrasi anak.
Advertisement
Penting bagi orangtua untuk mengambil langkah-langkah pencegahan agar anak-anak terhindar dari pewarna makanan berbahaya.
Advertisement
2. Pewarna Homemade
Buat pewarna alami dari bahan dapur untuk menghindari pewarna makanan berbahaya.
Advertisement
4. Berikan Pilihan Sehat
Ajari anak-anak tentang pilihan makanan dan minuman sehat, hindari makanan berwarna cerah yang mungkin mengandung pewarna berbahaya.
Advertisement