Adopsi Hindu-Buddha, Sunan Gresik mengganti mandala jadi pesantren
Merdeka.com - Berkat ketinggian akhlak, bijak menyikapi masalah serta menciptakan pergaulan tanpa sekat, pengikut Syekh Maulana Mailk Ibrahim alias Sunan Gresik makin hari makin bertambah. Waliyullah yang sering dipanggil Kakek Bantal ini, mulai membangun tempat belajar Agama Islam.
Kali pertama, Kakek Bantal membangun Masjid Pasucinan, di Desa Pasucinan, Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, untuk beribadah dan belajar mengaji. Dalam pembangunan masjid ini, Kakek Bantal dibantu Raja Carmain, dari negeri seberang.
Sementara di tengah komunitas Hindu dan Buddha, Kakek Bantal berhasil membaur tanpa ada konflik. Dakwahnya dilakukan santun mengikuti tradisi, budaya dan adat istiadat setempat. Oleh karena itu, ajaran Islam mudah diterima masyarakat yang belum memeluk Islam.
Makin kuat pengaruh Kakek Bantal di masyarakat membuat pengikutnya terus bertambah sehingga Kakek Bantal menganggap perlu membuat tempat menimba ilmu bersama-sama.
Model belajar bersama dalam bilik-bilik inilah yang merupakan cikal bakal pondok pesantren. "Nama pesantren, diadopsi dari istilah pendidikan kaum Hindu dan Buddha, yaitu Wanasrama Mandala," kata salah satu pengurus makam Syeikh Maulan Malik Ibrahim, Abdul Wahab kepada merdeka.com, Selasa (23/6).
Dalam ajaran Hindu dan Budha, dalam mempersiapkan calon-calon pemimpin agama, para biksu atau pendeta brahmana mendidik murid-muridnya di mandala-mandala mereka.
Kakek Bantal mengganti istilah Wanasrama Mandala menjadi pondok pesantren sebagai tempat membentuk para mubalig seperti tempat para brahmana dan biksu dipersiapkan.
"Jadi Syeih Maulana Malik Ibrahim tidak frontal memberangus tradisi pendidikan yang dilakukan kaum Hindu dan Buddha, tapi beliau mendirikan pondok pesantren yang mirip seperti di mandala-mandala milik kaum Hindu dan Buddha," papar pria kelahiran Tuban 42 silam itu.
Abdul Wahab melanjutkan, kader umat yang digembleng di padepokan Islam (pesantren) disebut sebagai santri, asal kata dari sastri, sebutan cantrik di mandala-mandala kaum Hindu dan Buddha.
"Para santri inilah yang disiapkan Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam ke seluruh Tanah Jawa dan Nusantara," katanya.
Tak hanya merubah nama mandala menjadi pesantren, Kakek Bantal juga menyebut tempat ibadah sebagai langgar, yang berarti musala atau surau. Asal kata langgar adalah sanggar, tempat ibadah kaum Hindu dan Budha.
"Kemudian kata sembahyang. Ibadah salat juga diganti oleh beliau menjadi sembahyang, yang memiliki makna sama, yaitu menyembah kepada Yang Maha Tunggal, menyembah kepada Allah. Sementara sembahyang dalam tradisi Hindu adalah menyembah Hyang Agung, Hyang Widi, Hyang Santi dan sebagainya," tandasnya.
Istilah pesantren, santri, langgar, sembahyang hingga saat ini masih akrab di telinga kita. Ternyata istilah-istilah itu kali pertama dicetuskan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Robiul Awal Tahun 822 Hijriah atau 9 April 1419. Kini jasad beliau disemayamkan di Gapuro Sukolilo, Kecamatan Kota Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. (mdk/rep)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya