Tim penilai Innovative Government Award (IGA) 2025 baru-baru ini melakukan kunjungan lapangan ke Bali untuk mengevaluasi dua inovasi daerah yang krusial. Peninjauan ini berfokus pada efektivitas penerapan pungutan wisatawan asing (PWA) serta sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kunjungan ini bertujuan untuk mencocokkan data yang ada dengan kondisi riil di lapangan.
Dipimpin oleh Tomy Bawulang dari BSKDN Kemendagri, rombongan ini meninjau aplikasi "We Love Bali" untuk PWA dan program Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) di Desa Adat Cemenggaon. Evaluasi ini menjadi bagian penting dalam penilaian IGA 2025, yang mencari inovasi terbaik di pemerintahan daerah. Bali diharapkan dapat mempertahankan kualitas pariwisata dan lingkungan.
Inovasi-inovasi ini dianggap vital untuk menjaga keberlanjutan pembangunan di Pulau Dewata, yang sangat bergantung pada sektor pariwisata. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa inovasi adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan lingkungan. Hal ini termasuk sampah, kemacetan, dan krisis air bersih yang dapat mengancam pariwisata.
Advertisement
Advertisement
Tim IGA 2025 memantau langsung implementasi aplikasi "We Love Bali" di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali. "Di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali, tim penilai memantau langsung penerapan aplikasi We Love Bali, platform pembayaran PWA yang dikembangkan sepenuhnya oleh tim internal Diskominfos tanpa melibatkan vendor,” kata Tomy Bawulang dalam keterangan Pemprov Bali.
Sistem pemungutan PWA melalui aplikasi ini telah berjalan efektif, baik di hotel maupun destinasi wisata. Proses pembayaran didukung oleh kode QR, mobile checker, dan banner digital yang memudahkan wisatawan. Tim Diskominfos Bali melaporkan bahwa sistem ini berfungsi dengan baik, memastikan transparansi dan efisiensi dalam pengumpulan dana.
Aplikasi "We Love Bali" kini dapat diakses oleh wisatawan dari 162 negara di seluruh dunia. Hingga Oktober 2025, total PWA yang berhasil terkumpul telah mencapai lebih dari Rp320 miliar. Provinsi Bali menargetkan pengumpulan dana sebesar Rp380 miliar hingga akhir tahun 2025. Dana ini akan digunakan untuk pelestarian budaya dan lingkungan Bali.
Advertisement
Advertisement
Selain PWA, tim penilai IGA 2025 juga meninjau inovasi pengelolaan sampah di Desa Adat Cemenggaon, Gianyar. “Mengunjungi Desa Adat Cemenggaon untuk melihat penerapan Pola PESAN-PEDE (Pengelolaan Sampah Mandiri Pedesaan), pola ini memadukan kearifan lokal desa adat dan filosofi Tri Hita Karana dalam sebuah perarem yang mengatur pemilahan sampah dari rumah tangga,” ujar Tomy Bawulang.
Sejak tahun 2020, setiap kepala keluarga di Desa Adat Cemenggaon diwajibkan memiliki "Teba Moderen". Ini adalah lubang permanen dari buis berdiameter sekitar 1 meter dan kedalaman 3 meter. Lubang ini berfungsi untuk mengolah sampah organik rumah tangga dan sisa upacara adat secara mandiri. Inovasi ini mengurangi beban TPA secara signifikan.
Sampah anorganik di desa ini dikelola oleh Bank Sampah Sami Asri, melengkapi sistem pengelolaan sampah terpadu. Sebelum program ini diterapkan, sekitar 1,2 ton sampah per hari dikirim ke TPA Temesi. Kini, residu yang dihasilkan hanya satu mobil bak per minggu, menunjukkan penurunan drastis. Bahkan, kompos berkualitas dapat dipanen setelah satu tahun dari Teba Moderen.
Advertisement
Tim penilai IGA mengapresiasi praktik di Desa Adat Cemenggaon sebagai contoh konkret pengelolaan sampah berbasis sumber yang sederhana namun sangat efektif. Gubernur Bali Wayan Koster juga menyoroti pentingnya inovasi ini. Ia bahkan mengadakan ajang pencarian desa terbaik dalam mengelola sampah sebagai bagian dari target "Bali Bersih Sampah 2027".
Sumber: AntaraNews