Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Taufiq Kiemas tak ada, siapa jembatan SBY dan Mega?

Taufiq Kiemas tak ada, siapa jembatan SBY dan Mega? sby mega. rumgapres/abror rizki

Merdeka.com - Selain dikenal sebagai 'Bapak Empat Pilar Kebangsaan', almarhum Taufiq Kiemas juga dikenang sebagai seorang rekonsiliator. Hal ini pun diakui oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Saat menjadi inspektur upacara pemakaman Taufiq, Presiden menyatakan suami Megawati Soekarnoputri itu sebagai tokoh rekonsiliator bangsa dan seorang negarawan yang patut dikenang.

"Kita semua kehilangan putra terbaik bangsa. Seorang tokoh terkemuka, penegak demokrasi, tokoh rekonsiliator dan seorang negarawan. Maka sudah patut kita hadir di sini untuk memberikan penghormatan dan penghargaan dari negara dan pemerintah atas jasa dan dharma bhaktinya kepada nusa dan bangsa," kata SBY dari atas pusara Taufiq, Minggu (9/6).

Ucapan Presiden tersebut tidak berlebihan jika melihat kegigihan Taufiq untuk mempersatukan anak bangsa. Dalam forum silaturahmi anak bangsa yang digagasnya, Taufiq bahkan berhasil mempertemukan anak-anak keturunan tokoh komunis, Islam dan nasionalis yang dulu pernah berseberangan. Sebut saja keturunan DN Aidit, Kartosoewirjo dan Soeharto.

Tidak hanya itu, Taufiq juga dikenal sebagai penggagas pertemuan pimpinan lembaga negara setiap tahunnya. Dalam pertemuan itu, Presiden, Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua MA, Ketua MK, Ketua BPK dan Ketua KY berembuk dan bertukar pikiran mengenai persoalan bangsa.

Tak kalah penting, selain sebagai rekonsiliator anak bangsa dan pimpinan lembaga negara, Taufiq juga berperan dalam rekonsiliasi istrinya sendiri, Megawati Soekarnoputri dengan rival politiknya, SBY. Semua tahu, hubungan Megawati dan SBY tidak baik semenjak perseteruan keduanya pada Pilpres 2004.

Paling diingat di benak publik barangkali pernyataan Taufiq tentang SBY pada 2 Maret 2004. Saat itu, ketika hubungan Presiden Megawati dan Menko Polhukam SBY renggang dalam kabinet, Taufiq mengatakan: "Mestinya dia (SBY) datang ke ibu presiden, tanya kok enggak diajak rapat (rapat kabinet), bukannya ngomong di koran seperti anak kecil. Masa, jenderal bintang empat takut ngomong ke presiden."

Pernyataan Taufiq itu akhirnya meledak di media. Beberapa analis bahkan menilai ucapan itu membuat SBY seakan-akan dizalimi dan meraih simpati publik untuk modal pencapresan 2014.

Namun, dalam buku 'Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam' (2012), Taufiq menjelaskan ucapan sewindu lalu itu terlontar karena hubungannya dengan SBY sudah sangat dekat. "Karena saya sudah merasa dekat, seperti dengan saudara sendiri, saya katakan seperti itu, jadi tidak dalam konteks persaingan politik saat itu," ujar Taufiq.

Hubungan Mega-SBY setelah 2004 tetap tegang sampai Pilpres 2009, di mana SBY kembali menang dan Mega tetap kalah. Namun, setelah 2009, upaya rekonsiliasi Mega-SBY mulai dilakukan Taufiq.

Dengan jabatan Ketua MPR, Taufiq banyak menggelar acara kebangsaan yang menghadirkan SBY dan Mega dalam forum bersama. Sebut saja Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni. Catatan merdeka.com, sedikitnya SBY-Mega bertemu dua kali dan bersalaman dalam acara tersebut.

Meski beberapa kali salaman tak menjamin hubungan SBY-Mega mencair, komunikasi Taufiq dengan presiden pun semakin mesra. Taufiq dan putrinya Puan Maharani kerap datang tiap kali Open House Lebaran Presiden SBY di Istana Negara. Bersama Puan, Taufiq juga pernah khusus datang ke Istana untuk memberikan buku biografinya.

Kini sepeninggalan Taufiq, sulit menebak bagaimana hubungan SBY-Mega selanjutnya. Terlebih, jabatan tangan keduanya selalu hambar, tak saling bertatap. Itu terlihat saat keduanya berjabat tangan di sela-sela pemakaman Taufiq Kiemas di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Minggu lalu.

Kini setelah 'jembatan' SBY-Mega itu tiada. Jika hubungan keduanya harus terus dijembatani, lantas siapa 'jembatan' selanjutnya? (mdk/ian)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP