Staf Ahli Gubernur Kalimantan Tengah Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Darliansjah, menegaskan pentingnya falsafah Huma Betang sebagai cerminan nyata pengamalan Pancasila. Ini krusial dalam menjaga persatuan serta kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Kalteng. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Gema Pancasila Tahun 2026 di Palangka Raya.
Acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah pada Senin, 2 Februari 2026, ini mengangkat tema “Dari Nilai ke Aksi Nyata”. Tujuannya adalah untuk memperkuat pemahaman ideologi bangsa. Kegiatan ini menyasar pelajar dan guru pendamping dari 15 sekolah SMA/sederajat di Palangka Raya.
Menurut Darliansjah, Kalimantan Tengah, sebagai daerah yang sangat majemuk, memiliki kekuatan besar. Keberagaman suku, agama, dan budaya justru menjadi modal sosial. Modal ini harus terus dipupuk untuk menjaga ketahanan ideologi bangsa di tengah tantangan global.
Advertisement
Advertisement
Huma Betang dan Pengamalan Nilai Pancasila
Darliansjah menjelaskan bahwa falsafah Huma Betang dan Belom Bahadat merupakan landasan konkret. Keduanya mentransformasikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian masyarakat Kalimantan Tengah. Falsafah ini mengedepankan gotong royong, toleransi, dan kebersamaan, layaknya hidup dalam satu rumah panjang.
"Falsafah Huma Betang dan Belom Bahadat menjadi wujud nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila di Kalteng dalam menjaga persatuan dan kerukunan," tegas Darliansjah. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Gema Pancasila Tahun 2026 yang diselenggarakan Pemprov Kalteng.
Pengamalan nilai-nilai lokal ini membuktikan bahwa Pancasila tidak hanya sekadar konsep. Ia hidup dan terwujud dalam perilaku serta tindakan nyata. Ini terjadi di lingkungan keluarga, pendidikan, masyarakat, bahkan hingga ruang digital.
Advertisement
Advertisement
Pancasila: Dari Konsep Menuju Aksi Nyata
Darliansjah menekankan bahwa pemahaman Pancasila secara konseptual saja tidak cukup. Penting untuk mewujudkannya dalam tindakan sehari-hari. Ia menyoroti perlunya Pancasila bergerak dari konsep menuju perbuatan.
"Pancasila tak cukup dipahami secara konseptual, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku dan tindakan nyata di lingkungan keluarga, pendidikan, masyarakat, serta ruang digital," kata Darliansyah. Kegiatan ini menyasar pelajar dan guru pendamping dari 15 sekolah SMA/sederajat.
Acara Gema Pancasila ini menjadi wadah strategis. Tujuannya adalah memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai luhur bangsa. Ini sangat penting di tengah tantangan era digital yang sarat dengan arus informasi dan disinformasi.
Advertisement
Penguatan ini dinilai vital agar Pancasila sebagai dasar negara tidak tergerus. Hal ini mencegah masuknya paham-paham yang bertentangan dengan jati diri bangsa.
Advertisement
Peran Generasi Muda dalam Ketahanan Ideologi Bangsa
Timoteus Olong, Analis Kebijakan Ahli Pertama Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), menjelaskan bahwa Gema Pancasila adalah respons. Ini merupakan respons terhadap tantangan globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi.
“Gema Pancasila bertujuan memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila serta karakter kebangsaan peserta menuju Indonesia Emas 2045," ucapnya. Program ini dirancang untuk menumbuhkan pemahaman mendalam.
Selain itu, program ini juga bertujuan memperkuat karakter kebangsaan generasi muda. Karakter tersebut menjunjung tinggi gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air. Penguatan nilai-nilai Pancasila perlu dilakukan berkelanjutan.
Advertisement
Ini adalah upaya menjaga ketahanan ideologi bangsa di tengah tantangan global dan perkembangan teknologi informasi. Dengan demikian, generasi muda diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI.
Sumber: AntaraNews