Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, menyatakan bahwa kegiatan Perkemahan Nasional Pemuda Lintas Iman 2025 merupakan wadah penting untuk saling belajar antaragama. Acara yang diselenggarakan di Jakarta pada 28–30 November ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman dan toleransi di kalangan pemuda. Cak Imin menekankan bahwa forum semacam ini sangat relevan untuk memperkuat fondasi kebangsaan.
Dalam sambutannya pada acara tersebut, Cak Imin menjelaskan bahwa perkemahan ini bertujuan untuk membangun cinta antaragama dan memahami sejarah masing-masing keyakinan. "Perkemahan ini menjadi forum untuk saling belajar antaragama, saling membangun cinta antaragama, belajar sejarah agama-agama, agar semua agama-agama menjadi agama yang sangat positif, berkontribusi bagi kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan," ujarnya. Hal ini menunjukkan komitmen untuk menjadikan agama sebagai kekuatan positif dalam masyarakat.
Menurutnya, kegiatan Perkemahan Nasional Pemuda Lintas Iman memiliki peran krusial dalam menjaga keutuhan bangsa. Penguatan persatuan antarwarga negara menjadi salah satu tujuan utama dari inisiatif ini. Indonesia memerlukan fondasi keimanan yang kokoh dan saling menguatkan untuk menjaga keberagaman yang telah ada.
Advertisement
Advertisement
Mengokohkan Persatuan Lewat Pemahaman Antariman
Pentingnya Perkemahan Nasional Pemuda Lintas Iman bagi Indonesia tidak dapat diremehkan, terutama dalam konteks pengokohan persatuan. Cak Imin menegaskan bahwa keberagaman Indonesia akan rapuh tanpa adanya saling pengertian dan penguatan dari basis keimanan. Kegiatan ini menjadi jembatan untuk memahami perbedaan dan menemukan titik temu.
Cak Imin menjelaskan, "Indonesia tidak akan kuat kebhinnekatunggalikaan-nya, terutama kalau basis keimanan kita tidak saling menguatkan dan saling mengokohkan." Pernyataan ini menyoroti bahwa solidaritas antarumat beragama adalah kunci kekuatan bangsa. Melalui interaksi langsung, peserta dapat merasakan pengalaman berharga yang menumbuhkan rasa kebersamaan.
Penguatan ini tidak hanya sekadar toleransi pasif, melainkan sebuah upaya aktif untuk membangun sinergi. Pemuda lintas iman diajak untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan melihat perspektif yang berbeda. Ini adalah langkah konkret dalam merawat dan memperkaya nilai-nilai Pancasila serta Bhinneka Tunggal Ika.
Advertisement
Advertisement
Pengalaman Lintas Iman Setara Studi Sarjana Perbandingan Agama
Menariknya, Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar menyamakan pengalaman mengikuti Perkemahan Lintas Iman dengan menempuh studi sarjana perbandingan agama. Menurutnya, kedalaman pemahaman yang didapat dari interaksi langsung ini memiliki nilai edukasi yang sangat tinggi. Peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga merasakan langsung esensi dari setiap keyakinan.
"Karena apa? Basis kita adalah rasa, basis kita adalah pengalaman, basis kita adalah cinta, basis kita adalah tanggung jawab, dan komitmen untuk bersama-sama meletakkan hakikat agama kita semua," jelas Cak Imin. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang bersifat emosional dan pengalaman pribadi jauh lebih kuat dalam membentuk karakter dan pandangan seseorang. Pembelajaran ini tidak hanya berbasis pada pengetahuan, tetapi juga pada empati dan tanggung jawab sosial.
Oleh karena itu, Cak Imin sangat menyarankan agar kegiatan Perkemahan Lintas Iman dapat diperbanyak di seluruh tanah air. Dengan semakin banyaknya forum serupa, diharapkan semakin banyak pemuda yang memiliki pemahaman komprehensif tentang keberagaman agama di Indonesia. Ini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan toleran.
Advertisement
Sumber: AntaraNews