Unik dan Anti-Kemapanan: Akademisi Undana Sebut Gaya Komunikasi Purbaya Bangun Kepercayaan Publik

Akademisi Undana Kupang menyoroti **gaya komunikasi Purbaya** Yudhi Sadewa yang natural dan terbuka, dinilai efektif membangun kembali kepercayaan publik terhadap pemerintah dan layak menjadi teladan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Unik dan Anti-Kemapanan: Akademisi Undana Sebut Gaya Komunikasi Purbaya Bangun Kepercayaan Publik
Akademisi Undana Kupang menyoroti **gaya komunikasi Purbaya** Yudhi Sadewa yang natural dan terbuka, dinilai efektif membangun kembali kepercayaan publik terhadap pemerintah dan layak menjadi teladan. (AntaraNews)

Kupang, NTT – Akademisi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, NTT, Ferdinandus Jehalut, memberikan penilaian positif terhadap gaya komunikasi publik Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Menurut Ferdinandus, pendekatan komunikasi Purbaya yang natural dan terbuka memiliki potensi besar untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Penilaian ini disampaikannya di Kupang pada Kamis malam, merujuk pada gaya komunikasi Purbaya sejak menjabat sebagai Menkeu.

Ferdinandus Jehalut, yang juga seorang dosen Komunikasi Politik Undana, menjelaskan bahwa gaya komunikasi Purbaya sangat menarik dari perspektif komunikasi politik. Ia mengamati bahwa Purbaya tampil apa adanya, bahkan cenderung anti-kemapanan, sebuah karakteristik yang justru disukai oleh publik. Respons positif ini menjadi angin segar di tengah kondisi menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah yang sempat terjadi.

Pengamatan Ferdinandus menunjukkan bahwa respons publik di media sosial terhadap gaya komunikasi Purbaya dominan positif. Hal ini mengindikasikan bahwa Purbaya berhasil menciptakan koneksi dengan masyarakat melalui pendekatannya. Keberhasilan ini dianggap krusial dalam mengembalikan sentimen positif publik terhadap kebijakan dan kinerja pemerintah.

Dampak Positif Gaya Komunikasi Purbaya terhadap Kepercayaan Publik

Ferdinandus Jehalut menegaskan bahwa gaya komunikasi Purbaya yang natural dan terbuka telah efektif dalam memulihkan keyakinan publik. Ia menyatakan, “Dari perspektif komunikasi politik, gaya komunikasi Pak Purbaya itu menarik karena terkesan natural, apa adanya, bahkan cenderung anti-kemapanan. Publik justru menyukai gaya tersebut.” Pendekatan ini dinilai mampu menembus sekat formalitas yang seringkali membatasi interaksi antara pejabat dan masyarakat.

Lebih lanjut, Ferdinandus menggarisbawahi kemampuan Purbaya dalam mengembalikan optimisme masyarakat. Ia menambahkan, “Purbaya mampu mengangkat kembali kepercayaan publik yang sempat turun selama ini.” Hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas dan transparansi dalam berkomunikasi menjadi kunci penting dalam membangun persepsi positif di mata publik, terutama di era digital saat ini.

Penunjukan Purbaya sebagai Menkeu juga dinilai sebagai langkah tepat yang diambil oleh Presiden Prabowo. Ferdinandus berpendapat bahwa keputusan ini mempertimbangkan kuatnya sentimen positif publik di media sosial terhadap figur Purbaya. Kehadiran sosok dengan **gaya komunikasi Purbaya** yang diterima luas oleh masyarakat dapat memperkuat legitimasi dan dukungan terhadap kebijakan pemerintah.

Kritisisme Konstruktif dan Pentingnya Teknokrat dalam Pemerintahan

Meskipun mengapresiasi, Ferdinandus Jehalut mengingatkan publik untuk tetap berhati-hati terhadap potensi munculnya populisme. Ia menekankan pentingnya sikap kritis terhadap kekuasaan. “Bagaimanapun, Purbaya adalah seorang penguasa. Kita perlu menggunakan perspektif hermeneutika kecurigaan dalam berhadapan dengan kekuasaan dan kebijakan publik. Kita boleh mengapresiasi, tetapi tetap harus kritis,” ujarnya, menyoroti perlunya keseimbangan antara apresiasi dan pengawasan.

Selain itu, Ferdinandus juga menyoroti pentingnya pemerintah untuk merekrut lebih banyak teknokrat dalam kabinet. Menurutnya, teknokrat pada umumnya bekerja tidak berbasis kepentingan elektoral, sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan pada tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Keahlian dan objektivitas mereka dapat menjadi aset berharga dalam perumusan dan implementasi kebijakan.

Ia menegaskan, “Teknokrat tidak berorientasi elektoral, tetapi bekerja untuk memperbaiki manajemen pemerintahan. Karena itu, harus lebih banyak rekrut teknokrat ke depannya.” Penambahan jumlah teknokrat diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas birokrasi, serta mengurangi potensi konflik kepentingan yang sering muncul dalam politik praktis.

Relevansi Gaya Komunikasi Purbaya untuk Pejabat Daerah

Ferdinandus Jehalut berpendapat bahwa figur dengan **gaya komunikasi Purbaya** juga sangat dibutuhkan di tingkat daerah, khususnya di NTT. Publik daerah membutuhkan sosok pejabat yang komunikatif, jujur, natural, dan tidak terjebak pada kemapanan birokrasi. Keterbukaan semacam ini dapat mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat.

Direktur Ranaka Institute itu menambahkan, “Untuk konteks NTT, kita butuh sosok dengan gaya komunikasi yang terbuka, jujur, natural, dan anti-mainstream seperti itu.” Gaya komunikasi yang transparan dan mudah diakses akan membantu masyarakat memahami kebijakan dan program pemerintah, serta mendorong partisipasi aktif dari warga.

Dalam era digital, komunikasi publik pemerintah sangat menentukan pembentukan persepsi dan kondisi sosial masyarakat. Ferdinandus menutup dengan menekankan bahwa komunikasi yang buruk dapat menimbulkan kekacauan dan mengganggu jalannya pembangunan. “Setiap bentuk komunikasi pemerintah harus dirancang secara matang, natural, dan tidak manipulatif. Kejujuran dan keterbukaan itulah yang dibutuhkan masyarakat,” pungkasnya, menyoroti esensi dari komunikasi publik yang efektif.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi