Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, baru-baru ini menyoroti urgensi pidato Presiden RI Prabowo Subianto di Sidang ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA 80). Pidato ini diharapkan dapat memberikan masukan signifikan terkait pembentukan "The Next World Order" di tengah dinamika global yang kompleks. Pernyataan ini disampaikan Dino di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, menunjukkan fokus pemerintah pada isu diplomasi strategis.
Menurut Dino, posisi Indonesia yang akan berbicara sebagai negara ketiga setelah Amerika Serikat dan Brasil merupakan sebuah kehormatan diplomatik yang luar biasa. Ini menunjukkan pengakuan dunia terhadap peran Indonesia di kancah internasional. Momen ini krusial mengingat konsensus global bahwa tatanan dunia lama, atau the old order, dianggap sudah tidak relevan lagi.
Oleh karena itu, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk berkontribusi aktif dalam merumuskan kerangka konsep baru. Pidato Presiden Prabowo pada September 2025 mendatang di New York, Amerika Serikat, akan menjadi sorotan utama. Ini adalah kesempatan bagi Indonesia untuk menawarkan visi mengenai "The Next World Order" kepada komunitas global.
Advertisement
Advertisement
Urgensi Konsep "The Next World Order" di Tengah Gejolak Global
Dino Patti Djalal menegaskan bahwa dunia saat ini sedang mencari arah baru. Tatanan dunia lama, atau "the old order", dinilai sudah "kaput" atau tidak lagi berfungsi efektif dalam menghadapi tantangan kontemporer. Ketegangan geopolitik, seperti antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta melemahnya multilateralisme internasional, memperparah kebutuhan akan kerangka baru.
Hingga saat ini, belum ada konsep yang jelas dan diterima secara luas mengenai bagaimana "The Next World Order" seharusnya terbentuk. Ini menciptakan kekosongan yang perlu diisi oleh negara-negara yang memiliki visi dan kapasitas. Indonesia, dengan posisinya yang unik, dianggap mampu mengisi kekosongan tersebut.
Pidato Presiden Prabowo diharapkan dapat menjadi titik tolak untuk diskusi global yang lebih mendalam. Indonesia dapat menawarkan perspektif yang seimbang, mengingat hubungan luasnya dengan negara-negara Barat, perannya sebagai bagian dari Global South, dan kedekatannya dengan kawasan Timur. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinan Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Posisi Strategis Indonesia di Panggung Diplomasi Global
Indonesia memiliki posisi yang sangat menguntungkan dalam menyampaikan gagasan mengenai "The Next World Order". Dino menyoroti bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki hubungan luas dengan berbagai blok kekuatan. Hal ini memberikan kredibilitas dan legitimasi bagi Indonesia untuk berbicara atas nama kepentingan yang lebih luas.
Situasi global saat ini juga lebih kondusif bagi negara-negara berkembang. Kekuatan menengah seperti Indonesia, Turki, Korea Selatan, Afrika Selatan, Arab Saudi, dan Brasil kini jauh lebih kuat dibandingkan masa lalu. Mereka memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk agenda global.
Sebagai salah satu middle power, Indonesia dapat memainkan peran kunci dalam menyatukan berbagai pandangan. Pidato Presiden Prabowo di PBB akan mendapat perhatian besar dari dunia internasional. Hal ini karena pidato tersebut berpotensi memiliki nilai strategis yang signifikan dalam membentuk narasi dan arah tatanan dunia di masa depan.
Advertisement
Advertisement
Mengulang Sejarah Diplomasi Indonesia: Dari Bung Karno hingga Prabowo
Dino Patti Djalal secara khusus membandingkan konteks pidato Presiden Prabowo mendatang dengan pidato bersejarah Bung Karno pada tahun 1960. Kala itu, Bung Karno menyerukan pembentukan tatanan dunia baru yang lebih adil dan damai. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tradisi panjang dalam berkontribusi pada pemikiran global.
Pidato Bung Karno pada masanya menjadi fondasi bagi Gerakan Non-Blok dan prinsip-prinsip Dasa Sila Bandung. Kini, dengan tantangan yang berbeda, Indonesia kembali dihadapkan pada kesempatan untuk mengukir sejarah. Momentum ini memungkinkan Indonesia untuk menegaskan kembali perannya sebagai aktor penting dalam diplomasi multilateral.
Sidang ke-80 Majelis Umum PBB, yang dijadwalkan pada 9–23 September 2025 di New York, akan menjadi panggung bagi Presiden Prabowo. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, telah memastikan jadwal Presiden tetap sesuai rencana. Ini termasuk kesempatan untuk menyampaikan pidato di depan sidang majelis umum PBB, membahas isu-isu krusial seperti pengakuan negara Palestina dan tentu saja, visi Indonesia untuk "The Next World Order".
Advertisement
Sumber: AntaraNews